because it matters.
Mungkin menjadi penjelasan paling singkat, namun bisa jadi paling tepat. karena sesungguhnya, kita selalu menolak. padahal yang kita perlukan adanya penerimaan bahwa itu ada dan harus diterima.
rupanya saya egois, selalu mau ini dan itu dari orang lain
selalu mau sesuatu yang pada akhirnya membuat saya nyaman. yang tidak buat nyaman, tidak bisa saya terima. kenapa? dan kenapa?
tapi kembali pada pikiran apakah itu egois? saya mengutamakan kesenangan saya sendiri. tapi apakah itu self-love? karena saya mengutamakan itu semua diatas lainnya.
banyak pertanyaan akhirnya timbul karena hal-hal yang tidak perlu. banyak hal-hal yang muncul padahal bukan pada tempat dan waktunya. dan banyak hal-hal lainnya yang tidak saya sukai, pada intinya.
kemudian selalu kembali bermuara pada kenangan pahit. hasil dari aksi dan reaksi yang tidak pada proporsinya.
selalu bisa terulang rasa sakit yang terjadi. rupanya benar akibat dari kejadian yang menyakitkan akan selalu terasa terus menerus walaupun tidak diinginkan untuk muncul.
Rabu, 18 Juli 2018
Selasa, 17 Juli 2018
Trauma
pemilihan judul sebetulnya sudah berulang kali digonta-ganti karena terlalu kontroversial tapi kalau dipkir-pikir ya, saya harus akui, itu memang harus trauma judulnya.
saya orangnya, ngga pernah mau ambil pusing, ngga pernah memperbesar masalah kalau memang kecil. istilah kerennya, ngga lebay.
karena setiap masalah pasti punya solusi, dan biasanya semakin kecil masalah semakin mudah pula solusinya ditemukan makanya ngga suka memperbesar masalah. belum lagi, kalau sebetulnya ngga ada masalah tapi di buat buat? drama banget gitu ya hidup. biasa aja kan bisa.
saya paling ngga suka ngomongin masalah cinta-cintaan ke khalayak umum. malu aja, bukan karena apa-apa.
cinta itu salah satu anugerah loh, ngga perlu malu kalau apa apa ngomongin soal cinta. cinta ngga melulu dikategorikan sebagai ketidakmampuan diri sendiri untuk mandiri. toh memang sudah ada porsinya, dan cinta salah satu yang sebetulnya perlu ada. ngga bisa kalau ngga sama sekali.
nah jadi seperti yang sudah bisa ditebak, mau ngomongin soal pengalaman cinta.
ngga selalu manis, ngga selalu pait. karena apa yang ideal itu setengah-setengah, tapi masalahnya ngga ada yang ideal. selalu condong entah ke kanan atau ke kiri. but anyway, that's life. kita ngga bisa ngubah itu, kita bisa jalanin aja.
mungkin sekitar 5 tahun kebelakang saya selalu punya kisah cinta yang manis. untuk saya, setiap cerita cinta yang sudah terjadi tidak pernah meninggalkan bekas luka sama sekali. kalaupun salah, menurut saya itu jadi pembelajaran. ingat, bukan luka, bukan sesuatu yang akhirnya saya tidak sukai.
saya tidak suka luka, lagipula memang ada yang suka? ngga kan. saya pun.
dua tahun terjebak dengan orang yang salah, menurut saya banyak pembelajarannya, ada senang dan ada sedihnya. tapi saya tidak pernah mengeluhkan hubungan kami. saya senang, dia senang, walaupun diakhiri dengan bencana. tapi pada intinya saya senang, dan saya tidak merasa ada luka.
di tahun berikutnya, terjebak lagi dengan orang yang salah selama satu tahun. menurut saya, lagi-lagi saya senang dan dia senang. kali ini tidak diakhiri dengan bencana. alhamdulillah. most of time we're happy, sama-sama mengukir kenangan indah. sama-sama menjalani dengan ikhlas setiap waktu yang dihabiskan Bersama. sama-sama menghangatkan sehingga kobaran perasaan itu tetap ada disana, terlihat dan terasa.
masuk pada tahun berikutnya, sayang, saya terjebak dengan orang yang salah. lebih sedihnya lagi, saya mengganggap dia orang yang benar. kesimpulan? saya punya pengharapan tersendiri bahwa dia orang yang benar tapi nyatanya saya salah. ekspektasi, mengubah semuanya. hancur saya, dan perasaan saya.
saya naif waktu itu, menurut saya cinta itu yang Utama. kamu suka, saya suka, kita jalan. ternyata untuknya tidak, banyak nilai-nilai yang akhirnya dia sendiri perjuangkan, saya tidak, kami ternyata berbeda. saya salah, di tengah, sedangkan dia sudah sadar salah sejak awal.
saya tidak siap, dia lebih siap. saya tidak mengerti, dia pura-pura tidak mengerti padahal mengerti.
saya sakit hati, dia mengaku sakit hati. menyamakan persepektif derajat sakit hati yang sama dengan saya, padahal kan kami sudah beda dari awal.
kami, berbeda.
saya siap mencintai, dia tidak. saya berharap, dia tidak. saya berusaha, dia tidak.
selalu berbeda.
yang bodohnya, saya percaya bahwa dia sama seperti saya. membuat saya semakin terhanyut dalam angan yang dibuat sendiri. dia? diam. karena tahu sebetulnya dia salah tapi tidak mau bilang karena takut menghancurkan semuanya. dia takut.
saya defensif, menyalahkan
dia juga defensif, merasa tersakiti
saya merasa tidak dihargai, dia merasa tersakiti. kami tidak dalam keadaan saling memperbaiki atau saling berusaha menenangkan satu sama lain. kami, menyakiti satu sama lain.
karena sesungguhnya kami melakukan itu supaya merasakan sakit hati yang sama. padahal pada akhirnya, tidak akan sama. toh kan kami memang berbeda
kali ini perspektif saya,
dengan seluruh pengalaman yang saya punya sebelumnya. dengan seluruh kisah cinta yang pernah saya tuliskan. saya tidak pernah merasa disakiti, saya pun takut untuk merasa sakit dan untungnya saya tidak pernah merasa itu sebelumnya.
tapi,
ternyata ada juga yang bisa menyakiti saya. bahkan orang yang saya kita tidak akan menyakiti. betapa semakin besar luka itu menganga karena saya tidak pernah menyangka itu semua.
terima kasih. untuk sekarang itu adalah luka, mungkin suatu saat nanti itu akan jadi pembelajaran untuk saya.
dan kini, posisi saya ingin mencintai dan dicintai lagi. saya berusaha akan itu, saya berusaha memperbaiki semuanya. namun, seperti nya luka itu meninggalkan bekas besar untuk saya.
saya sedikit banyak berubah menjadi orang yang lebih hati-hati. kelewat hati-hati. menjadi orang yang takut untuk membuka hati lagi, orang yang taku tuntuk mencoba lagi. orang yang selalu curiga akan kasih sayang orang lain.
saya tentu benci diri saya yang seperti ini, karena ini seseungguhnya bukan saya. tapi saya bisa apa kalau ternyata saat ini memang itu yang saya rasakan?
kini ada pendamping pun, saya merasa bersalah. karena terkadang saya mempertanyakan dirinya yang sudah menyayangi saya. padahal saya harusnya yakin akan itu. tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi, karena pada dasarnya tidak ada lagi yang perlu saya yakinkan pada diri sendiri.
saya takut akan ketakutan kosong.
tidak jelas, tidak terlihat, tidak bisa dideskripsikan.
saya hanya takut.
itu saja.
semoga nanti tidak
semoga saya kembali berani seperti diri saya dulu.
saya orangnya, ngga pernah mau ambil pusing, ngga pernah memperbesar masalah kalau memang kecil. istilah kerennya, ngga lebay.
karena setiap masalah pasti punya solusi, dan biasanya semakin kecil masalah semakin mudah pula solusinya ditemukan makanya ngga suka memperbesar masalah. belum lagi, kalau sebetulnya ngga ada masalah tapi di buat buat? drama banget gitu ya hidup. biasa aja kan bisa.
saya paling ngga suka ngomongin masalah cinta-cintaan ke khalayak umum. malu aja, bukan karena apa-apa.
cinta itu salah satu anugerah loh, ngga perlu malu kalau apa apa ngomongin soal cinta. cinta ngga melulu dikategorikan sebagai ketidakmampuan diri sendiri untuk mandiri. toh memang sudah ada porsinya, dan cinta salah satu yang sebetulnya perlu ada. ngga bisa kalau ngga sama sekali.
nah jadi seperti yang sudah bisa ditebak, mau ngomongin soal pengalaman cinta.
ngga selalu manis, ngga selalu pait. karena apa yang ideal itu setengah-setengah, tapi masalahnya ngga ada yang ideal. selalu condong entah ke kanan atau ke kiri. but anyway, that's life. kita ngga bisa ngubah itu, kita bisa jalanin aja.
mungkin sekitar 5 tahun kebelakang saya selalu punya kisah cinta yang manis. untuk saya, setiap cerita cinta yang sudah terjadi tidak pernah meninggalkan bekas luka sama sekali. kalaupun salah, menurut saya itu jadi pembelajaran. ingat, bukan luka, bukan sesuatu yang akhirnya saya tidak sukai.
saya tidak suka luka, lagipula memang ada yang suka? ngga kan. saya pun.
dua tahun terjebak dengan orang yang salah, menurut saya banyak pembelajarannya, ada senang dan ada sedihnya. tapi saya tidak pernah mengeluhkan hubungan kami. saya senang, dia senang, walaupun diakhiri dengan bencana. tapi pada intinya saya senang, dan saya tidak merasa ada luka.
di tahun berikutnya, terjebak lagi dengan orang yang salah selama satu tahun. menurut saya, lagi-lagi saya senang dan dia senang. kali ini tidak diakhiri dengan bencana. alhamdulillah. most of time we're happy, sama-sama mengukir kenangan indah. sama-sama menjalani dengan ikhlas setiap waktu yang dihabiskan Bersama. sama-sama menghangatkan sehingga kobaran perasaan itu tetap ada disana, terlihat dan terasa.
masuk pada tahun berikutnya, sayang, saya terjebak dengan orang yang salah. lebih sedihnya lagi, saya mengganggap dia orang yang benar. kesimpulan? saya punya pengharapan tersendiri bahwa dia orang yang benar tapi nyatanya saya salah. ekspektasi, mengubah semuanya. hancur saya, dan perasaan saya.
saya naif waktu itu, menurut saya cinta itu yang Utama. kamu suka, saya suka, kita jalan. ternyata untuknya tidak, banyak nilai-nilai yang akhirnya dia sendiri perjuangkan, saya tidak, kami ternyata berbeda. saya salah, di tengah, sedangkan dia sudah sadar salah sejak awal.
saya tidak siap, dia lebih siap. saya tidak mengerti, dia pura-pura tidak mengerti padahal mengerti.
saya sakit hati, dia mengaku sakit hati. menyamakan persepektif derajat sakit hati yang sama dengan saya, padahal kan kami sudah beda dari awal.
kami, berbeda.
saya siap mencintai, dia tidak. saya berharap, dia tidak. saya berusaha, dia tidak.
selalu berbeda.
yang bodohnya, saya percaya bahwa dia sama seperti saya. membuat saya semakin terhanyut dalam angan yang dibuat sendiri. dia? diam. karena tahu sebetulnya dia salah tapi tidak mau bilang karena takut menghancurkan semuanya. dia takut.
saya defensif, menyalahkan
dia juga defensif, merasa tersakiti
saya merasa tidak dihargai, dia merasa tersakiti. kami tidak dalam keadaan saling memperbaiki atau saling berusaha menenangkan satu sama lain. kami, menyakiti satu sama lain.
karena sesungguhnya kami melakukan itu supaya merasakan sakit hati yang sama. padahal pada akhirnya, tidak akan sama. toh kan kami memang berbeda
kali ini perspektif saya,
dengan seluruh pengalaman yang saya punya sebelumnya. dengan seluruh kisah cinta yang pernah saya tuliskan. saya tidak pernah merasa disakiti, saya pun takut untuk merasa sakit dan untungnya saya tidak pernah merasa itu sebelumnya.
tapi,
ternyata ada juga yang bisa menyakiti saya. bahkan orang yang saya kita tidak akan menyakiti. betapa semakin besar luka itu menganga karena saya tidak pernah menyangka itu semua.
terima kasih. untuk sekarang itu adalah luka, mungkin suatu saat nanti itu akan jadi pembelajaran untuk saya.
dan kini, posisi saya ingin mencintai dan dicintai lagi. saya berusaha akan itu, saya berusaha memperbaiki semuanya. namun, seperti nya luka itu meninggalkan bekas besar untuk saya.
saya sedikit banyak berubah menjadi orang yang lebih hati-hati. kelewat hati-hati. menjadi orang yang takut untuk membuka hati lagi, orang yang taku tuntuk mencoba lagi. orang yang selalu curiga akan kasih sayang orang lain.
saya tentu benci diri saya yang seperti ini, karena ini seseungguhnya bukan saya. tapi saya bisa apa kalau ternyata saat ini memang itu yang saya rasakan?
kini ada pendamping pun, saya merasa bersalah. karena terkadang saya mempertanyakan dirinya yang sudah menyayangi saya. padahal saya harusnya yakin akan itu. tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi, karena pada dasarnya tidak ada lagi yang perlu saya yakinkan pada diri sendiri.
saya takut akan ketakutan kosong.
tidak jelas, tidak terlihat, tidak bisa dideskripsikan.
saya hanya takut.
itu saja.
semoga nanti tidak
semoga saya kembali berani seperti diri saya dulu.
Senin, 16 Juli 2018
ada yang baru
engga sepenuhnya baru sih, sebetulnya udah lama tapi ngga pernah nulis lagi karena paling simpelnya gue lupa dan keasikan sama dunia nyata gue, sampe akhirnya ninggalin ini semua.
balik lagi kesini, I have to tell you everything. ini seperti diary terus terusan walaupun sepotong sepotong yang kadang suka ngga dimengerti.
jadi gue punya yang baru dan gue harap yang baru ini lebih mengerti gue luar dan dalam gue karena dia sebenernya udah liat gue apa adanya tanpa ada di tutup-tutupin lagi. dan tetep, dia disitu buat gue, standing beside me dan kadang juga malah dia yang lebih ngerasa daripada gue.
kalau yang sekarang lagi gue kerjain ceritanya dengan judul 'rainbow after the rain' menurut gue sih ini kehidupan gue lebih kepada 'rainbow after rainstorm' karena sebetulnya ini ngga hanya sebatas rain tapi lebih pada hujan deras berkepanjangan dan parah. kalau dibilang basah kuyup ya kuyup, kerasa kesamber geledek ya lebih dari itu. ya pokoknya lebih lebih deh rasanya. sampe kadang gue suka mikir mending gue nyerah aja karena pada dasarnya gue ngga sanggup jalanin ini semua. bahkan kadang 'faith' itu suka main jauh banget dari diri gue sampe akhirnya gue takut dia ngga balik lagi
tapi kenyataannya si faith ini ternyata balik lagi dan untungnya gue masih nunggu disitu. untungnya gue masih mencari juga, dan akhirnya kita saling menemukan.
selain faith, ternyata dia juga bawa orang lain Bersama dirinya. yang akhirnya dikasih ke saya, dan Bersama saya sekarang. terharu? iya dan lebih dari itu. sayang? iya dan lebih dari itu juga. karena setakut itu untuk kehilangan. contohnya adalah kalau harus ngeliat dia sama orang lain. berat aja gitu rasanya
mau tau dong pasti orangnya yang mana? mau tau aja apa mau tau banget? tapi yang pasti ngga akan mau kasih tau sekarang. hehehehe. pokoknya akan ada waktu yang lebih tepat dari sekarang untuk kasih tau. eak lebih tepat gabisa didefinisikan.
balik lagi kesini, I have to tell you everything. ini seperti diary terus terusan walaupun sepotong sepotong yang kadang suka ngga dimengerti.
jadi gue punya yang baru dan gue harap yang baru ini lebih mengerti gue luar dan dalam gue karena dia sebenernya udah liat gue apa adanya tanpa ada di tutup-tutupin lagi. dan tetep, dia disitu buat gue, standing beside me dan kadang juga malah dia yang lebih ngerasa daripada gue.
kalau yang sekarang lagi gue kerjain ceritanya dengan judul 'rainbow after the rain' menurut gue sih ini kehidupan gue lebih kepada 'rainbow after rainstorm' karena sebetulnya ini ngga hanya sebatas rain tapi lebih pada hujan deras berkepanjangan dan parah. kalau dibilang basah kuyup ya kuyup, kerasa kesamber geledek ya lebih dari itu. ya pokoknya lebih lebih deh rasanya. sampe kadang gue suka mikir mending gue nyerah aja karena pada dasarnya gue ngga sanggup jalanin ini semua. bahkan kadang 'faith' itu suka main jauh banget dari diri gue sampe akhirnya gue takut dia ngga balik lagi
tapi kenyataannya si faith ini ternyata balik lagi dan untungnya gue masih nunggu disitu. untungnya gue masih mencari juga, dan akhirnya kita saling menemukan.
selain faith, ternyata dia juga bawa orang lain Bersama dirinya. yang akhirnya dikasih ke saya, dan Bersama saya sekarang. terharu? iya dan lebih dari itu. sayang? iya dan lebih dari itu juga. karena setakut itu untuk kehilangan. contohnya adalah kalau harus ngeliat dia sama orang lain. berat aja gitu rasanya
mau tau dong pasti orangnya yang mana? mau tau aja apa mau tau banget? tapi yang pasti ngga akan mau kasih tau sekarang. hehehehe. pokoknya akan ada waktu yang lebih tepat dari sekarang untuk kasih tau. eak lebih tepat gabisa didefinisikan.
Langganan:
Postingan (Atom)