Sabtu, 12 September 2015

Let Go



‘or maybei’m confused when you’re near me’

                Aku hanya memandang hampa keluar jendela kereta. Banyak pohon memang, tapi skema tentang pohon seolah blur, semua skema dalam otakku terasa blur. Yang aku pahami hanya skema tentang Mada dan kejadian enam bulan yang lalu. Kejadian pahit yang seolah menamparku keras agar aku tahu betapa sulitnya berjuang di dunia. Kenyataan yang seolah membantuku untuk cepat kembali ke yang maha kuasa. Kenyataan yang aku rasa adalah sebuah ilusi. Kejadian pahit yang berujung dengan kenyataan pahit. Mau tidak mau aku harus menerimanya.
“Halo? Lan? Bulan depan sibuk enggak?” suara hangat yang membuatku tersenyum setiap hari kembali terdengar setelah beberapa minggu absen
“seharusnya enggak. Kenapa kak?” aku bergegas mengambil kalender karena tahu dia akan memberitahukan sesuatu berkaitan tentang tanggal
“wisuda gue akhir bulan depan. Lo harus dateng ya! Gue nggak mau tahu gimana caranya, tapi lo harus dateng, ya?” tanyanya dengan nada riang seperti biasanya
“semoga bisa ya kak, tau kan jadwalku disini lagi semacem neraka gitu” kataku sambil melingkari tanggal dengan spidol merah, warna spidol khusus untuknya di kalenderku
“Hahaha. Nggak mau tahu. Lo harus dateng. Eh udahan dulu ya, gue sebentar lagi mau ngurusin toga dan lain-lainnya. Dah Bulan! Jangan lupa lo harus dateng!” kemudian telepon ditutup. Sebulan terakhir aku memang tidak mendengar kabar tentang apapun tentang Mada. Tapi aku percaya bahwa dia akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja, sedangkan aku tidak akan baik-baik saja.
                Aku memasuki aula yang sudah penuh dengan mahasiswa yang siap menghadapi kerasnya kehidupan setelah acara ini selesai. Disitulah aku melihat mada sedang tersenyum di depan kamera, membuatku mematung seketika. Bukan karena senyumnya, ini lebih karena orang yang tersenyum di sampingnya.
“Bulan! Sini! Ikut foto!” aku baru saja mundur selangkah ketika Mada sudah tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arahku
“Eh? Nggak kak, nanti aja. Kakak foto-foto dulu aja” tolakku halus karena merasa mengganggu momen manis dengan perempuan disampingnya
“Udah, apaan sih nggak nggak segala” akhirnya Mada menarikku pelan untuk mengambil foto selanjutnya. Aku hanya dapat tersenyum tipis karena merasa canggung untuk berdiri di sebelah Mada beserta perempuan itu
“Oh iya Lan. Ini kenalin, Putri. Dia yang selalu bantuin gue selama ini. Dan ini satu lagi” Mada merogoh tas kecil yang diletakkan di kursi terdekatnya
Mada mengeluarkan undangan. Undangan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Undangan yang membuatku ingin langsung terbang pulang ke Jakarta
“6 bulan lagi gue sama Putri nikah. Save the date! Kalo lo nggak dateng, liatin aja” kata-katanya membuatku tercekat dan mau tidak mau aku hanya tersenyum tipis sambil mengangguk
Aku harus kembali lagi kesini 6 bulan lagi? Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya aku kesini lagi setelah kejadian ini. Melihat wajah Mada saja aku sudah tidak sanggup.
                Dan disinilah aku bersama otak bodohku. Berdiri di depan gedung pertemuan, mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Entah apa yang sedang terjadi di otakku. Aku langsung kembali ke kesadaranku karena handphone di tasku bergetar
“Lan? Kamu jadi kesini kan?” tanya Mada di seberang telepon
“aduh kak maaf, aku mendadak ada pertemuan sama dosen gitu dan nggak bisa ditunda. Maaf kak” aku menjauh dari gedung pertemuan, takut Mada tiba-tiba saja muncul keluar gedung
“Yah Bulan, kenapa nggak ngabarin dari semalem? Gue udah nunggu-nunggu kedatengan lo tau” terdengar ada sedikit rasa kecewa dalam suaranya
“Aduh maaf kak. Aku janji nanti kalo kakak ada acara lagi entah itu housewarming party atau apapun, aku pasti dateng” aku berusaha menahan bulir yang ingin tumpah dari mataku
“hmm. Oke Lan, gue pegang janji lo ya. Gue lagi siap-siap nih. Nanti kalo adda waktu lagi gue telepon ya. Bye!” kemudian telepon pun diputus.
 Aku masih berdiri jauh dairi gedung pertemuan, ragu apakah harus melangkah masuk atau tidak karena sekarang tamu sudah mulai ramai berdatangan. Aku mengecek jam tanganku, 30 menit lagi acara resmi akan dimulai. Aku putuskan untuk melangkah masuk ke dalam ruangan walaupun aku tahu ini sama saja dengan bunuh diri.
                Aku memandang Mada dari kejauhan. Memandangi wajah tersenyumnya yang tidak pernah berubah dari sepuluh tahun yang lalu. Dadaku sesak, seolah-olah kenangan yang sudah aku buat dengannya mendesak ke air mataku yang sebentar lagi tumpah. Kenyataan bahwa kebahagian yang aku rasakan tidak sama dengan kebahagiaan yang dia rasakan selama ini membuatku mual dan ingin menghilang. Aku merasa muak karena kenyataan yang selama ini aku tidak akui ternyata benar, aku memang adiknya. Sekedar adik yang harus dijaga, adik yang selalu ada dalam batasan yang dibuatnya, adik yang dikhawatirkan karena kelakuan konyolnya, sebatas adik-kakak. Mungkin inilah akhirnya, akhir yang lebih tragis daripada bayangan yang pernah aku buat. Mungkin lebih baik menghilang seperti buih yang dilakukan oleh Ariel. Karena dengan begitu dia akan bahagia.