Part 5
Formasi dimulai tapi ini masih pagi berarti masih no action sama sekali ya hari berjalan dengan normal hari ini ada Richard lagi lewat pura-pura nggak liat, ada Gihon lewat malah ketawa-ketawa nggak jelas, dan tau ya begitulah Gihon suka tertangkap basah sedang melihat ke arah Dinda, sangat memalukan haha. Hari in iada pelajaran agama dan otomastis semua murid kelas 9 masuk ke kelas agama masing-masing. Aku keluar kelas 94 dan disambut oleh anak dari agama kristen yang sudah setia menunggu ingin masuk ke kelas 94. Aku berjalan ke kelas 92 tempat kelas agama islam, aku bertemu Dinda dan meletakkan semua barang-barang yang kubawa di kurisi ku. Aku pun segera menuju keluar bersama Dinda dan Frea saat aku keluar kelas tanpa disangka sama sekali. Richard dan Almer muncul di depan kelas mencari Sandy ,ya mau tak mau pembicaraan pun berlangsung
“Na, liat Sandy nggak?”
Setengah mau setengah tidak aku hanya menggeleng, saat aku menyapukan pandangan ke bawah dekat ruang guru aku melihat Sandy
“tuh si Sandy” kata ku menunjuk orang yang berdiri di papan sebelah ruang guru, Almer dan Richard hanya memutar kepala mereka dan langsung berjalan turun menghampiri Sandy.
Dinda yang berjalan di depanku tersebut hanya melongo melihat formasi 343 hampir saja gagal karena obrolan tadi
“ahhhh siaaaalll ngapain sih ngajakin gue ngomong segala?!” gerutuku tidak jelas
“padahal udah hampir berhasil nih hari ini” kata Dinda sama kesalnya
“eh tapi dia yang nanya ya, berarti bukan gue yang salah dong?”
“iya lah kalo lo yang ngajak ngobrol berarti lo nggak menjalani formasi lo itu”
Bel tanda masuk pun berdering aku bersama murid agama yang lain memasuki kelas masing-masing dan melanjutkan pelajaran seperti biasa, sebetulnya sih bukan pelajaran tapi gossip terus haha. Aku pun duduk bertiga dengan Vesta dan Dinda saaat aku sedang bercerita tiba-tiba saja Vesta berteriak dan langsung menutup mulutnya karena tahu suaranya keras, ternyata dia melihat Indra anak SMA tersayangnya itu hahaha. Karena terlalu seru bergossip 2 jam pelajaran itu pun tak terasa dan aku harus segera kembali ke kelas 94 asal ku. Dan melanjutkan penderitaan belajar matematika sebelum pulang mana pelajarannya susah lagi, blank otak ku saking penuhnya. Belum lagi setelah ini masih ada pelajaran tambahan!! Tidaaaaaakkkkk!! Pelajaran tambahanku Bahasa Indonesia belum puas juga menyiksaku seperti ini. Bel pulang pun berbunyi aku langsung memasuki kelas 93, kelas disebelahku. Kelas tambahan ku adalah C jadi aku bergabung dengan anak-anak yang lain saat bel berbunyi semua masuk kelas dengan tertib karena memang satu kelas hanya ada 20 oran anak agar tidak terlalu ribut untuk mengaturnya. Pelajaran pun baru saja dimulai dan aku dan Vesta masih tertawa kecil karena kami bercerita satu sama lain tentang pengalaman yang memalukan. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu saat pintu dibuka aku melihat mereka 2 orang murid perempuan dan 1 orang laki-laki. Ketiganya ingin meminjam buku cetak Matematika murid perempuan itu pun dapat buku mereka masing-masing dan yang satu lagi, JACKPOT! You’re mine hahaha. Vesta spontan menyenggolku
“Na, itu Richard, buru ambil buku cetak mate lo!” aku yang masih melongo karena melihat Richard berdiri di ambang pintu itu pun langsung dengan sigap karena kaget aku mengambil buku matematika ku dan kembali duduk sempurna dengan menggenggam buku matematikaku, Richard menghampiriku dan mengambl buku mate tersebut aku hanya tersenyum garing karena speechless. Mukanya polos banget seperti bukan dirinya setelah dia berjalan dan menutup pintu, aku langsung menatap Vesta
“Ves, itu Richard?” dengan muka super dongo yang pernah aku buat
“iya hahaha!!”
“iya?! Ngapain gue pinjemin tuh buku ya?!”
“laah elo yang kasih tadi gimana sih hahaha!”
“Iya ya? Hahaha yasudahlah”
Pelajaran tambahan itu pun tak terasa karena jujur saja seru pelajaran tambahan kali ini mungkin karena kelas tambahan itu sepi hanya 20 murid sedangangkan kelas biasa 30 murid walaupun hanya beda 10 orang anak tetap saja seru.
Berminggu-minggu berlalu dan Ujian Nasional pun semakin dekat bagi kita para grade 9 sama-sama berjuang agar nilai tidak berantakan pada UN nanti. Try Out pertama nilai ku masuh mending dengan keterangan L berarti Lulus, tapi TO keduaa oh mu God! Nilai berantakan dengan keterangan TL berarti Tidak Lulus, TO ketiga pun sama seperti itu TL. Dimulai dari TO ke 2, begini ceritanya hari ke 2 Try Out pelajaran matematika, dan ini masih pagi loh, aku baru saja sampai disekolah. Aku sedang berbincang dengan Vesta sampai Richard lewat didepanku dan aku hanya say hi ke dia setelah Vesta masuk ke kelasnya aku segera mengejar Richard dan bertanya ada masalah apa dengannya akhir-akhir ini ternyata telepon genggamnya disita beserta laptopnya tentu saja. Pintu kelasnya pun semakin dekat aku pun hanya menepuk pundaknya dan bilang “sabar ya” dan aku memberikan senyuman setulus mungkin hahaha sebetulnya senyumanku seperti biasa saja itu hanya aku lebih-lebihkan saja. Aku kembali ke kelasku dan bersiap untuk mata pelajaran ayang akan di Try Out kan hari ini.
Bel istirahat berbunyi aku segera menuju ke atas karena ruanganku di bawah atau lebih tepatnya di Lab fisika , betapa malangnya nasibku haha. Aku bersama Dinda, Frea, Rinell menuju ke kantin. Aku hanya membeli minum dan yang lain ada yang membeli minum atau makanan kecil. Kita berempat langsung kembali ke kelas sebelumnya aku ikut naik bersama yang lain ke kelas mereka saat di tangga Rinell iseng melingkarkan tangannya di leherku membuat aku tertawa konyol dan dengan posisi konyol juga. Setelah kami berbincang panjang lebar dan tidak tahu arahnya kemana aku pun bergegas turun ke bawah karena bel sebentar lagi berbunyi. Aku yang sedang bersenandung dan memasuki kelas langsung berhenti di ambang pintunya karena seseorang yang sangat tidak ku nanti saat ini ada di dalam sana. Dengan muka cukup speechlees dan mati gaya aku masuk dan meletakkan tasku di meja.
“hai” sapanya
“eh.. hai”
Inilah jika trio bergabung mereka adalah Almer,Richard, dan Kelven. Awalnya ide nakalku mulai berkasi untuk mengejek mereka satu satu
“cieee Almer sama Sisil cinlok LKK kemaren nih hahaha” kataku
“iya? Beneran? Hahaha” tanya Affif
Yang kedua
“ih Kelven mah udah ada yang punya tau , si Imun tuh gebetannya Kelven haha”
Tiba-tiba Affif buka mulut setelah hanya menanggapi apa yang aku katakan
“kalo Richard gimana?” katanya sambil melirik ke arahku
“apa? Diem lu jangan ngomong” kataku memelototinya.
Karena bel sudah berbunyi, Richard kembali ke kelasnya yang tepat di sebelah kelasku. Karena aku iseng , aku mengikutinya dari belakang saat dia mulai berjalan dan menyadari aku mengkutinya dia berbalik dan berkata “kita nggak sekelas” dan aku hanya menjawab sambil tersenyum “emang nggak” . Dia kembali berjalan dan aku mengikutinya, dia kembali berbalik “ngapain lagi? Mau ikut?” tanyanya sambil tersenyum, aku membalasnya dengan tersenyum dan menggeleng. Saat diluar kelas aku mencoba mensejajarkan langkahku dengan langkahnya yang super cepat itu, bebrapa saat dia mengatakan “Na” sambil ngulurin tangannya yang bermaksud untuk menggandengku, “apaan sih!” kataku, dia hanya menjawab “apa perlu gue gendong sampe kelas?” katanya dengan senyum nakal, aku sadar dia mengutip kata kata itu dari drama Bahasa Indonesiaku, aku mendorongnya dan segera kembali ke kelas. Tetapi beberapa saat kemudian dia kembali ke kelasku untuk meminjam pensil pada Almer. Betapa konyolnya dia seperti itu haha.
§¨©ª
Oke beberapa cerita ini akan ada yang kupotong karena tidak terlalu penting dalam cerita itu dan hanya berisi jealous saja haha maklum namanya juga anak remaja. Hari ini H-21 sebelum Ujian Nasional dilaksanakan ya as you know saya itu grade 9 gimana nggak kebakaran jenggot kalo udah mau Ujian Nasional begini alhasil setiap hari hanya memakan buku, IPA, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Cape? Pastinya tapi kalo lulus dengan nilai yang memuaskan lebih terbayar lagi capeknya hehe. AMIN! Doakan kami semua lulus 100% kami anak kelas 3 SMP di seluruh Indonesia. Hari ini punya janji dengan Ayu dan Edo memang ini masalah mereka berdua tapi saya sebagai laoshi yang mengajarkan kepada murid yang baik saya harus membantunya menyelesaikan ini semua. Hari ini sudah selesai dan kenyataannya ini semua salah paham kan , dari awal juga udah dikira kira kalo semua ini salah paham. Dan sehari sebelum ini aku mempunyai perjanjian dengan Danan jika aku tidak berbicara dengan Richard dalam sehari atau menunjukkan sikap yang kurang baik kepada Richard , Danan berjanji akan joget smash, ya aku memang menang dalam game ini tapi..... ini malah berlanjut menjadi serius dan kau tahu? Richard really mad to me, GOD! EERGHHH! Hate this! Tadi di sekolah sih its okay aja, tapi pas sampe rumah nih , aku mengirimnya pesan singkat , aku bertanya soal matematika dan.... dia menjawabnya dengan amat sangat ganas dan dingin yang dapat membuatku beku seketika, aku hanya menerima kenyataannya saja bahwa dia sedang bad mood dan aku yang harus menampungnya. Seiring dengan masalahku dengan Richard ada masalah baru yang timbul berhubungan dengan orang di masa laluku yaitu Jung aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini aku memikirkannya terus aku mencoba melupakannya karena pada kenyataannya aku harus fokus Ujian Nasional yang ada di depan amata ini. Sempat terlintas di benakku bahwa Richard hanya jealous dan aku berharap seperti itu. Dan beso9k aku harus masuk sekolah berkutat dengan segala masalah walaupun aku masuk kelas 93 sebagai kelas khusus , tidak ada masalah sama sekali, mereka baik dan friendly banget.
§¨ª©
Baru saja aku sampai di sekolah serangan pertanyaan sudah menghantam otakku dan harus dipaksa berpikir bagaimana untuk menjawabnya. Sambutan pagi ini sudah membuatku muak untuk terus-terusan bermusuhan dengan Richard karena aku sama sekali tidak mengerti ada apa dengannya, aku pun bingung bagaimana untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari sahabatku sendiri. Aku pusing bukan main rasanya kepalaku ini sedah siap untuk diledakkan tanpa perlul diberi aba-aba.
`Bel istirahat pun berbunyi, sungguh bel itu terdengar sepeti panggilan dari surga, aku dapat terlepas dari kelas ini. Baru saja keluar kelas Gege langsung menyambutku dengan pertanyaan yang sama seperti teman-temanku pagi ini, oh tuhan terlalu banyak yang mempertanyakan itu, mengapa mereka tidak tanya saja ke Richard, dengan begitu dapat mengurangi ke kesalan ku hari ini. Naiu hampir saja berteriak ke arah Gege karena aku pun tidak tahu apa masalahku dengan Richard. Aku harus mendinginkan kepala, aku berjalan lebih dulu dan aku berlari ke arah perpustakaan karena saat aku berjalan tadi, Richard ada di belakangku , aku tidak mau sampai bertatap muka dengannya, aku sungguh tidak ingin melihat wajahnya hari ini. Aku mendinginkan kepala sebentar di perpustakaan, hanya membaca buku sekilas karena aku tidak benar-benar ingin membacanya, setelah aku cukup di dalam perpustakan, aku langsung menuju kantin, tidak peduli jika Richard masih ada disana, aku hanya ingin pergi ke kantin dan membeli minum. Tanpa rema aku langsung berjalan ke arah kantin aku hanya berdoa agar aku tidak bertemu dengannya disana tapi kali ini keberuntungan tidak berpihak padaku, aku melihatnya aku hanya membuang muka berpura-pura tidak melihatnya. Aku menuju counter yang menjual minum dan kembali ke kelas, aku memasang headset dan memutar lagu dengan keras, seketika lagu drop the world memutar keras dalam headset ku and i just say ignore the world for this time!.
Aku berjalan dengan tenang tetapi saat aku menaiki tangga, mengapa aku harus bertemu dengannya lagi, sungguh saat dia berbicara aku tidak menoleh sedikit pun aku terlalu kesa melihat wajahnya yang tampak sangat tidak berdosa sekali saat itu, aku tahu dia mengucapkan kata maaf, tetapi terlalu banyak maaf yang ia katakan padaku, aku pun punya perasaan, dan perasaan ini tidak dapat dipermainkan begitu saja
“Na gue minta maaf, gue tau gue salah”
“ha? Bukannya gue yang salah” kataku sambil memutar satu headset yang ku lepas dari telingaku
“ engga Na lo ga salah”
“ gue kali yang salah, ngapain gue mancing-mancing dengan cara main jutek jutekan itu, gue tau gue salah, gue tau gue emang ga bisa di maafin, gue emang keterlaluan kadang-kadang, gue emang annoying anaknya,pantes dibenci kok sama orang” Richard hanya menatap ku , aku tahu walaupun aku tidak menatap wajahnya, aku menyadarinya dari sudut mataku.
Aku lelah berbicara terus menerus dengannya, aku hanya ingin berdamai dengannya, apakah itu sulit untuknya? Dan sebesar itukan salah ku sehingga sulit untuk memaafkan ku? Tapi apakah ada kemungkinan dia jealous? Tapi jealous kepada siapa? Selama ini aku hanya dekat dengan teman laki-laki yang seperti biasa, jadi diana letak salahku? Aku pun tidak tahu.
§¨ª©
Aku sampai dirumah dan aku merenungi masalah yang dari jaman batu itu belum selesai selesai juga, bagaimana ini? Aku tidak mau berkelahi yang berkelanjutan lagipula itu sangat tidak enak dan sangat mengganggu pikiranku. Aku sangat bersalah soal ini akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkannya pesan singkat yang berisi bahwa aku merasa bersalah dan berniat untuk minta maaf. Dan akhirnya aku pun berdamai dengannya karena dia juga berpikir bahwa bertengkar denganku hanya membuang tenaga saja dan membuat pikiran tambah banyak.
Sebentar lagi UAS dan belajar pun harus di tingkatkan lagi lagi dan lagi tapi kurasa aku sudah belajar segalana jadi apa lagi yang harus ku pelajari? Akhirnya aku pun membuka dan mulai mebaca buku biologi ku berharap segudang ilmu itu masuk ke dalam otakku. Hari-hari pun berlalu dan hari ini besok dan kemudian akan sama saja sampai UN menjelang yaitu belajar, belajar, dan belajar. Buku sudah menjadi sahabat baru sekaligus makanan teratur yang patut di konsumsi setiap hari tapi harus dijalani karena bagaimana pun itu demi kepentingaku nanti.
Hari yang sangat tidak ditunggu pun datang walaupun bukan UN tapi sama saja menyiksanya yaitu UAS...
(to be continue part 6)