saya sakit
tapi tidak sepenuhnya sakit
karena saya tahu kamu tidak sakit
sakit sedikit tidak apa
asalkan kamu tidak
saya akan baik-baik saja
selama kamu terlihat baik
selama kamu memang merasa baik
selama saya tahu kamu baik
suatu saat, saya akan sembuh
ketika saya sudah percaya kamu baik
ketika saya sudah percaya saya baik
ketika kenyataan mengatakan semuanya baik
walaupun baik sepenuhnya tidak akan pernah ada.
Sabtu, 17 Oktober 2015
Jumat, 18 September 2015
Datang
datang kemudian pergi
kembali kemudian menghilang
muncul kemudian mati
untuk apa datang jika berujung kematian?
mungkin,
untuk memberikan inspirasi,
untuk meninggalkan sepenggal kisah,
untuk mengisi kekosongan,
untuk berakhir sebagai kenangan,
mungkin ada beberapa kedatangan,
yang sengaja untuk mati.
kembali kemudian menghilang
muncul kemudian mati
untuk apa datang jika berujung kematian?
mungkin,
untuk memberikan inspirasi,
untuk meninggalkan sepenggal kisah,
untuk mengisi kekosongan,
untuk berakhir sebagai kenangan,
mungkin ada beberapa kedatangan,
yang sengaja untuk mati.
Kamis, 17 September 2015
IDIOTS
‘lo gapernah jatuh
cinta ya? Cinta bikin lo keliatan idiot men!’
Tidak
pernah sekalipun dalam pikiranku terlintas untuk menyukai orang yang sudah
kuanggap kakakku sendiri. Tidak pernah sekalipun. Tapi siapa yang tahu tentang
perasaan? Aku rasa perasaanku sendiri inkonsisten. Sering berubah-ubah
membuatku sendiri bingung apa maksud dari perasaan yang aku rasa.
“Dek! WOY! Ngelamun mulu deh.. ayam tetangga bisa mati semua
gara-gara lo” aku melihatnya menggerutu sambil membetulkan letak kacamatanya
“apaan sih bang?! Tetangga gue gapunya ayam!” aku balik
menggerutu
“tetangga gue punya!” kami selalu saling berteriak ketika
berbicara tidak mau kalah. Aku melihatnya lagi, kali ini sedang menggulung
lengan kemejanya asal-asalan
“cari pacar makanya bang! Biar ada yang ngurusin lo” kataku
sambil mengambil alih gulungan kemeja yang asal-asalan tadi
“males gue, kan ada lo. Lo juga ngurusin gue” katanya sambil
memperhatikan gulungan yang aku buat
“beda bang. Beda antara pacar sama adek kayak gue” aku
menyatakan pembelaan. Sedetik kemudian aku menyesal telah mengeluarkan kalimat
tersebut, semoga tidak terdengar sarkatik olehnya. Tapi sejak kapan aku
memikirkan pendapatnya tentangku? Aku bahkan tidak pernah peduli jika dia
sering mendengarku mengeluarkan kata-kata kasar.
Aku
membuka mataku pelan dan mengerjapkannya berkali-kali. Di luar masih sangat
gelap dan udara masih terasa dingin menusuk kulitku. Aku meraih jam tangan yang
kulepas di samping meja tempat tidur, ternyata masih jam 5 pagi. Aku memang
tidak punya kelas hari ini dan tidak punya rencana untuk melakukan apapun, jadi
kuputuskan untuk terlelap kembali dalam tidurku. Satu jam.. dua jam.. aku tidak
bisa kembali ke alam mimpiku. Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka dan aku
memutuskan untuk diam karena mood ku memang sedang tidak jelas akibat abang.
Namanya Maro, tapi terbiasa kupanggil abang karena dia adalah seniorku
“ADEEEEEEK!!!! BANGUUUUN!!” tanpa aba-aba apapun Maro loncat
ke atas tempat tidurku dan memelukku bermaksud untuk mengganggu ‘tidurku’.
“AAAB!!!AAANG!!!” aku berusaha melepaskan diri karena
pelukan paksaan yang dia lakukan. Bukan karena sesak napas, ini lebih kepada
sesak di perasaanku.
“HAH?! Lo udah bangun? Wah.. lo pura-pura tidur biar gue
loncat ya?” dia melonggarkan pelukannya untuk mengecek wajahku
“WOY! Sadar apa siapa yang pikirannya liar tak terkendali
ngeliat gue masih diatas tempat tidur, kalo cowo-cowo kampus tau kelakuan lo,
mereka semua nggak akan mau kali sama gue!” aku menggerutu sambil memberikan
tatapan ‘diem aja, nggak usah jawab’ , tapi bukan Maro namanya jika gerutuanku
tidak dibalas
“emang itu rencananya! Kamu emang Cuma boleh buat abang aja!
Hahahaha” katanya sambil berdiri dan melangkah keluar kamarku tanpa merasa
bersalah sama sekali. Aku berusaha merapikan rambutku sambil merasa kesal
“heh, jangan lupa mandi! Gue mau ajak lo jalan, dasar jomblo
mageran!” katanya lagi dari ambang pintu. Tanpa pikir panjang aku meraih boneka
brown ku dan melemparnya sekuat tenaga. Jackpot! tepat mendarat di wajahnya membuat kacamatanya
jatuh ke lantai
“WAH ANJIR LO YA DEK! BENERAN MINTA DIKASIH PELUKAN MAUT!”
katanya sambil masuk ke kamarku lagi dan seperti biasa aku harus berlari ke
kamar mandi sebelum ditangkap, tapi sayangnya aku memang tidak pernah berhasil
kabur darinya
“IYAAAAA ABANG AMPUN AKU MINTA AMPUN ABANG PALING GANTENG
SEJAGAT RAYA” teriakku ketika jarinya sudah siap memberikan ‘pelukan maut’nya
“beneran? Beneran lo minta ampun?” tanyanya lagi sambil
melotot
“IYAAA! AMPUN!” aku memohon sambil menahan jari-jarinya yang
3 kali lebih besar dari jariku. Dan itu hanya jari, bukan kekuatannya.
Kekuatannya bisa berkali-kali lipat dari pertahananku
“yaudah. Sana mandi buruan” katanya sambil melepaskan
pelukannya dan melempar handuk ke wajahku
“nggak deng. Jelek banget lo bang, najis” kataku sambil lari
ke dalam kamar mandi, meninggalkan dia yang mungkin menungguku untuk
melaksanakan eksekusi pelukan mautnya
Aku celingukan di pintu kamar mandi, masih takut atas
pelukan mautnya. Aku mengambil ripped jeans paling nyamanku dipadukan dengan
kemeja flannel kotak-kotak dan mengambil kacamata dengan frame hitam karena
flanelku bergaris hitam. Aku memasukkan paksa dompet, alat make up dan
lain-lainnya ke dalam tas kulitku. Dan bergegas turun untuk berangkat walaupun
aku tidak tahu apa-apa soal kemana dan akan melakukan apa.
Mataku
langsung membelalak hebat ketika menyadari bahwa kami sudah di depan pintu
masuk ancol. Aku hanya memberikan tatapan minta kejelasan pada Maro
“kenapa sih dek? Liat-liat abang mulu. Abang tau abang
ganteng” katanya sambil tersenyum tanpa dosa
“bukan itu, ini kita ngapain coba disini?” tanyaku
kebingungan
“ke seaworld” jawabnya pendek sambil mengeluarkan uang untuk
tiket masuk mobil
“hah? Kamu sehat bang?” tanyaku sambil memegang keningnya
“Sehat dek!” katanya sambil mendorong tanganku dari
keningnya
“Ya abis abang! Sakit ga sakit, keliatan sakit” kataku
sambil memperhatikan gedung seaworld yang semakin dekat
“udah dek dandan cantiknya? Lo dandan gak dandan sama aja
buluk dah percuma” katanya sambil mengecek wajahku
“diem aja bang, diem” kataku sambil menjambak rambutnya yang
kemudian langsung dilepas karena memang tenaganya lebih besar dariku
Untuk beberapa saat setelah aku masuk ke dalam seaworld, aku
hanya memperhatikan sekelilingku, bukan abang yang berjalan di belakangku. Kemudian
aku menoleh ke belakang untuk melihat apa yang dia lakukan
“seneng gak dek?” tanyanya tiba-tiba setelah aku menoleh,
tatapannya berbeda dari biasanya
“hah? Seneng? Kenapa harus seneng ya bang? Sedangkan gue
sendiri bingung kenapa kita kesini haha” aku tertawa sambil memasuki eskalator
dibawah akuarium raksasa
“kamu beneran lupa dek?” Maro berdiri tepat di belakangku,
membuat otot punggungku menegang
“ini ada di salah satu time capsule loh. Kamu yang tulis,
abang iyain idenya. Mau abang baca ulang time capsulenya?” seketika tubuhku
membeku mengingat time capsule yang aku kubur bersamanya dan berjanji akan
membukanya dalam waktu lima tahun. Dan ya hari ini tepat lima tahun setelah aku
mengubur time capsule tersebut
“tadi pagi, abang tunggu kamu di taman belakang rumah itu. Abang
pikir kamu udah di bawah dari pagi berhubung kamu yang paling ingetan tapi
ternyata kamu masih ngebo di kamar” Maro melanjutkan kalimatnya dan entah
mengapa aku merasa eskalator ini tiba-tiba saja berjalan sangat pelan
“ya, ternyata kamu nggak inget. Wajar sih berhubung
akhir-akhir ini kamu begadang dan ngerjain tugas terus. Jadi kamu masih inget
isinya gak, dek?” tanya Maro lagi masih dengan intonasi rendahnya tepat di
telingaku. Sejujurnya ya aku tahu isinya, tapi aku terlalu merasa malu untuk membalikkan
badanku, seluruh badanku terasa kaku
“kalo kamu nggak bersuara, abang bacain ulang isi time
capsulnya..” katanya menggantung, membuat tubuhku refleks menghadap ke arahnya
“jadi gimana dek?” tanyanya sambil tersenyum
“harus banget ya bang? Itu kan waktu adek masih kecil..
maklumin lah.. abang kan tau adek suka banget ngelantur” kataku pasrah setengah
memohon untuk dibatalkan saja isi time capsulenya
“harus, berhubung kita berdua yang kubur dan tulis itu.
Jadi, yaudah harus dilakuin hahaha. Lo inget kan kalo cinta bikin orang
keliatan idiot? Dan kita udah idiot dari dulu… Jangan bilang lo ga ngerti juga
maksud dari kalimat gue. Kalo memang nggak ngerti.. mending lo banyak makan
ikan deh dek, biar pinter” kemudian dia merangkul pundakku sambil menggeretku
keluar dari seaworld
Memang
isi time capsule tersebut bukan sesuatu yang spesial dan mengagetkan karena
memang ternyata rasa itu pernah hidup beberapa tahun yang lalu. Mungkin
beberapa tahun terakhir, perasaan itu aku tekan hingga masuk ke alam bawah
sadar dan membuatku terbiasa dengan perasaan tersebut. Dan mungkin untuk
sekarang sumber stimulusku tersebut sudah mengijinkan perasaan itu untuk timbul
dan hidup kembali kemudian mati. Mungkin.
Sabtu, 12 September 2015
Let Go
‘or maybei’m confused
when you’re near me’
Aku hanya
memandang hampa keluar jendela kereta. Banyak pohon memang, tapi skema tentang
pohon seolah blur, semua skema dalam otakku terasa blur. Yang aku pahami hanya
skema tentang Mada dan kejadian enam bulan yang lalu. Kejadian pahit yang
seolah menamparku keras agar aku tahu betapa sulitnya berjuang di dunia. Kenyataan
yang seolah membantuku untuk cepat kembali ke yang maha kuasa. Kenyataan yang
aku rasa adalah sebuah ilusi. Kejadian pahit yang berujung dengan kenyataan
pahit. Mau tidak mau aku harus menerimanya.
“Halo? Lan? Bulan depan sibuk enggak?” suara hangat yang
membuatku tersenyum setiap hari kembali terdengar setelah beberapa minggu absen
“seharusnya enggak. Kenapa kak?” aku bergegas mengambil
kalender karena tahu dia akan memberitahukan sesuatu berkaitan tentang tanggal
“wisuda gue akhir bulan depan. Lo harus dateng ya! Gue nggak
mau tahu gimana caranya, tapi lo harus dateng, ya?” tanyanya dengan nada riang
seperti biasanya
“semoga bisa ya kak, tau kan jadwalku disini lagi semacem
neraka gitu” kataku sambil melingkari tanggal dengan spidol merah, warna spidol
khusus untuknya di kalenderku
“Hahaha. Nggak mau tahu. Lo harus dateng. Eh udahan dulu ya,
gue sebentar lagi mau ngurusin toga dan lain-lainnya. Dah Bulan! Jangan lupa lo
harus dateng!” kemudian telepon ditutup. Sebulan terakhir aku memang tidak
mendengar kabar tentang apapun tentang Mada. Tapi aku percaya bahwa dia akan
baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja, sedangkan aku tidak akan baik-baik
saja.
Aku
memasuki aula yang sudah penuh dengan mahasiswa yang siap menghadapi kerasnya
kehidupan setelah acara ini selesai. Disitulah aku melihat mada sedang
tersenyum di depan kamera, membuatku mematung seketika. Bukan karena senyumnya,
ini lebih karena orang yang tersenyum di sampingnya.
“Bulan! Sini! Ikut foto!” aku baru saja mundur selangkah
ketika Mada sudah tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arahku
“Eh? Nggak kak, nanti aja. Kakak foto-foto dulu aja” tolakku
halus karena merasa mengganggu momen manis dengan perempuan disampingnya
“Udah, apaan sih nggak nggak segala” akhirnya Mada menarikku
pelan untuk mengambil foto selanjutnya. Aku hanya dapat tersenyum tipis karena
merasa canggung untuk berdiri di sebelah Mada beserta perempuan itu
“Oh iya Lan. Ini kenalin, Putri. Dia yang selalu bantuin gue
selama ini. Dan ini satu lagi” Mada merogoh tas kecil yang diletakkan di kursi
terdekatnya
Mada mengeluarkan undangan. Undangan yang tidak pernah aku
bayangkan sebelumnya. Undangan yang membuatku ingin langsung terbang pulang ke
Jakarta
“6 bulan lagi gue sama Putri nikah. Save the date! Kalo lo
nggak dateng, liatin aja” kata-katanya membuatku tercekat dan mau tidak mau aku
hanya tersenyum tipis sambil mengangguk
Aku harus kembali lagi kesini 6 bulan lagi? Aku hanya tidak
tahu bagaimana caranya aku kesini lagi setelah kejadian ini. Melihat wajah Mada
saja aku sudah tidak sanggup.
Dan disinilah
aku bersama otak bodohku. Berdiri di depan gedung pertemuan, mengedarkan
pandanganku ke seluruh ruangan. Entah apa yang sedang terjadi di otakku. Aku langsung
kembali ke kesadaranku karena handphone di tasku bergetar
“Lan? Kamu jadi kesini kan?” tanya Mada di seberang telepon
“aduh kak maaf, aku mendadak ada pertemuan sama dosen gitu
dan nggak bisa ditunda. Maaf kak” aku menjauh dari gedung pertemuan, takut Mada
tiba-tiba saja muncul keluar gedung
“Yah Bulan, kenapa nggak ngabarin dari semalem? Gue udah
nunggu-nunggu kedatengan lo tau” terdengar ada sedikit rasa kecewa dalam
suaranya
“Aduh maaf kak. Aku janji nanti kalo kakak ada acara lagi
entah itu housewarming party atau apapun, aku pasti dateng” aku berusaha
menahan bulir yang ingin tumpah dari mataku
“hmm. Oke Lan, gue pegang janji lo ya. Gue lagi siap-siap
nih. Nanti kalo adda waktu lagi gue telepon ya. Bye!” kemudian telepon pun
diputus.
Aku masih berdiri
jauh dairi gedung pertemuan, ragu apakah harus melangkah masuk atau tidak
karena sekarang tamu sudah mulai ramai berdatangan. Aku mengecek jam tanganku,
30 menit lagi acara resmi akan dimulai. Aku putuskan untuk melangkah masuk ke
dalam ruangan walaupun aku tahu ini sama saja dengan bunuh diri.
Aku memandang
Mada dari kejauhan. Memandangi wajah tersenyumnya yang tidak pernah berubah
dari sepuluh tahun yang lalu. Dadaku sesak, seolah-olah kenangan yang sudah aku
buat dengannya mendesak ke air mataku yang sebentar lagi tumpah. Kenyataan bahwa
kebahagian yang aku rasakan tidak sama dengan kebahagiaan yang dia rasakan
selama ini membuatku mual dan ingin menghilang. Aku merasa muak karena
kenyataan yang selama ini aku tidak akui ternyata benar, aku memang adiknya. Sekedar
adik yang harus dijaga, adik yang selalu ada dalam batasan yang dibuatnya, adik
yang dikhawatirkan karena kelakuan konyolnya, sebatas adik-kakak. Mungkin inilah
akhirnya, akhir yang lebih tragis daripada bayangan yang pernah aku buat. Mungkin
lebih baik menghilang seperti buih yang dilakukan oleh Ariel. Karena dengan
begitu dia akan bahagia.
Senin, 04 Mei 2015
NOT ME (cerpen)
The simplest love
story ‘I love him and he loves me too’
Aku
selalu tidak mempunyai keberanian yang cukup besar untuk mendekatinya. Walaupun
aku dekat, aku merasa tidak kenal. Jika dibilang jauh, hubungan kami tidak
seasing yang kalian kira. Kami saling kenal. Kami saling menyimpan rasa
masing-masing sebagai rahasia pribadi. Yang aku ketahui pasti tentangnya
hanyalah bahwa dia memang temanku.
“belum pulang?” tanyanya sambil duduk disebelahku
“belum. Belum dijemput. Lo?” tanyaku balik sambil
memperhatikan barang yang dibawanya
“masih ada kerjaan nih. Enaknya bisa pulang haha” jawabnya
sambil merapikan beberapa kertas
“ga enak” kataku pelan
“hah?” akhirnya dia memalingkan wajahnya untuk menatapku
“engga. Bukan apa-apa” kataku sambil melihat ke arah lain
Entah tatapannya atau memang ada yang salah denganku, setiap
kali dia menatapku dalam jarak dekat perasaanku selalu kacau tanpa sebab yang
jelas. Tidak, mungkin alasannya jelas. Apalagi alasannya jika bukan karena aku
menyukainya?
Aku
melangkah pelan memasuki pelataran parkiran kampus. Lagi-lagi aku melihatnya
sedang melangkah keluar mobil hitamnya. Aku lupa memberitahumu tentang siapa
dia. Dia seseorang yang memberikanku kesan mendalam saat pertama kali menginjak
tempat ini. Abraham, begitu katanya saat pertama kali aku menjabat tangannya
sambil berkenalan. Tatapan pertama yang diberikannya padaku seperti mengandung
sesuatu yang membuatku ingin masuk ke dalamnya. Suaranya tidak terlalu berat,
penampulannya yang sedikit agak cuek membuatku penasaran. Penasaran ingin
mengenalnya lebih dalam, lebih dalam daripada aku mengenal diriku sendiri. Mungkin
aku adalah perempuan satu-satunya yang bersikap sok cuek dan tidak peduli, ketika banyak wanita bersikap sok manis agar
mendapatkan perhatiannya. Aku tidak sepenuhnya cuek, aku hanya memperhatikannya
lewat sudut mataku. Aku memperhatikan wajah seriusnya, susunan gigi rapi ketika
dia tertawa, bahkan napasnya yang waktu itu terdengar jelas di dekat telinga
kananku. Aku memang tidak terlalu mengenalnya jauh, aku hanya tahu warna
kesukaannya, makanan yang paling dia benci, suasana hati yang sering berganti,
keseriusannya dalam karier, selera humornya yang hampir punah, dan tingkat
keromantisan hampir di batas nol. Hanya sejauh itu. Aku bahkan tidak bertanya
kepanjangan T di belakang namanya, tidak bertanya apakah dia mempunyai saudara
kandung, atau apa nama SMA nya dulu. Aku tidak tahu kehidupan pribadinya dan
aku tidak berusaha menguak hal tersebut. Sampai ketika kejadian satu bulan lalu
membuatku tidak tahu harus berkata apa. Ketika itu pukul 6 sore di Jakarta, aku
sedang merapikan buku dan bersiap meninggalkan kelas untuk pulang. Handphoneku
berdering lama yang menandakan telepon masuk. Aku baca penelpon tersebut dan
buru-buru mengangkat
“ya?? Lo kenapa tiba-tiba telepon gue? Ada follow up dari
Candy?” Candy teman satu permainanku ketika aku SMP dulu tapi sayangnya dia
pindah ke Jakarta saat SMA meninggalkan aku dan tiga temanku yang terjebak
dalam kehidupan rasis di salah satu kota
“Candy sadar! Cepetan ke rumah sakit! Ga ada besok besok ya,
gue tunggu. Cepet dateng!” suara Sena begitu bahagia dan tidak mengijinkan satu
kata pun keluar dari mulutku
Aku mendengar kabar 2 tahun kemudian ketika Candy harus di
rawat di rumah sakit karena kecelakaan yang membuatnya koma. Bulan depan sudah
hampir 2 tahun komanya, tetapi syukurlah akhirnya dia bangun untuk menemui
sahabat gilanya ini.
Cecil
menemuiku di depan rumah sakit untuk segera menemui Candy di kamarnya. Aku
sudah tidak sabar untuk menemuinya, aku membawakannya coklat. Makanan yang
selalu ia bawa kemana-mana.
“Nana” Mikha menyambutku masuk ke kamar Candy dan
membiarkanku duduk di samping ranjangnya
“Candy akhirnya lo bangun juga.. gue taku banget kalo kita
ga akan ketemuan kaya gini lagi, sekarang kita lengkap” kataku sambil memandang
kea rah Cecil, Sena, dan Mikha bergantian sambil tersenyum
Candy hanya membalasku dengan tersenyum sambil memegang erat
tanganku. Aku memakluminya, mungkin karena Candy merasa seluruh tubuhnya terasa
masih kaku untuk bergerak apalagi berbicara.
“Dy, lo harus janji cepetan keluar dari neraka ini ya. Lo tau
kan gue paling gasuka tempat ini” kata Mikha sambil memandang ngeri ke
sekelilingnya kemudian diikuti dengan tawa kami
“oh iya, tadi mama Candy nitipin Candy ke kita, suruh jagain
dulu katanya beliau mau cari buah keluar. Mamanya bilang Candy mau kedatengan
tamu spesial” kata Cecil sambil tersenyum iseng memandang Candy
“tamu spesial?” tanyaku ke arah Cecil sambil kebingungan
“ya pokoknya tunggu aja deh, gue juga ngga tau itu siapa
haha” jawab Cecil sambil bangkit
kemudian mengambil minum
Pintu kamar Candy terbuka perlahan membuat kami semua
melihat ke arah sosok yang akan masuk
“Candy…” senyum lelaki yang baru saja melangkahkan kaki ke
dalam kamar membuat hati Candy luluh, bukan hanya hatinya tapi hatiku juga
“Abraham?” gumamku pelan di tengah kebingungan
“Na? lo ada di sini?” tanyanya balik
“gue temen SMP nya Candy dulu” jawabku cepat kemudian
memberikan tatapan seperti ‘kalo lo sendiri?’
“gue.. pacarnya Candy..” jawabnya. Membuat seisi ruangan
diam di tempat dan hampir menahan napasnya masing-masing bahkan Cecil
menghentikan aktivitas minumnya karena kaget
“ooh gitu” jawab Sena untuk memecah keheningan
Kemudian akulah yang melangkah duluan keluar kamar sebelum
diikuti yang lainnya. Alasanku karena perasaanku yang tidak menentu sedangkan
alasan Sena, Cecil, dan Mikha adalah agar mereka tidak mengganggu privasi Cindy
“lo kenal pacarnya Candy Na?” akhirnya Mikha bersuara ketika
kami sudah duduk berdampingan di tempat makan rumah sakit
“kenal.. mana mungkin engga” jawabku sambil menahan sedih.
Aku melihat Sena yang menggosok-gosokan jarinya yang berarti ia sedang
ragu-ragu
“Sen, lo kenapa?” tanyaku kemudian
“gue yang harusnya Tanya lo kenapa” pernyataan Sena membuat
Cecil dan Mikha menoleh ke arahku hampir bersamaan
“hah? Emang ada apaan sih?” kali ini Cecil yang bersuara.
Memang dialah yang paling lama memproses kejadian yang ada di sekitarnya.
Pertanyaan Cecil diikuti dengan tatapan Sena yang meminta kejelasan
“oke, I’ll tell you. Jangan lihat gue seperti itu. Gue ga
bersalah” kataku agar tatapan mereka tidak seolah-olah sedang merobekku pelan
“Abraham temen kampus gue. Ya.. Cuma temen kok” jawabku
pendek yang aku tahu pasti mereka masih meminta kejelasan lebih lanjut
“Cuma itu? You sure? Jangan bohong lah sama kita” Sena
membrondongku kali ini
“oke.. sebenernya ya.. gue memang
ada rasa sama dia. Tapi just for your information gue gapernah otak-atik
kehidupan pribadinya karena gue pikir itu privasi, contohnya kaya gini nih. Gue
aja gatau kalo ternyata dia pacaran sama sahabat gue, well di Jakarta kan gede.
Gue gapernah terpikir kalo dia bisa jadian sama Candy, emang lo lo pada ada
yang mikir kesana? Engga kan?” jawabku panjang lebar dengan intonasi pelan
pendek dan panjang yang hampir saru karena perasaanku yang tidak keruan
“tuh kan. Gue tahu memang sebenernya lo ada apa-apa sama
dia, sorot mata lo sih yang bilang kaya gitu. Lo sadar ga kalo diantara kita
yang paling ga jago nyembunyiin perasaan ya elo doang Na” kata Sena
“maaf gue menjadi paling lemot dan ngga ngerti elo Na” kata
Cecil pelan
“gue tau sih tapi ngga yakin gitu” akhirnya Mikha mengungapkan
apa yang dia pikirkan terhadapku
“not your fault guys. Gue ga minta kalian selalu menyadari
apa yang gue rasakan kok” jawabku untuk menenangkan kedua sahabatku yang mudah
parno
“jadi sekarang gimana?” Tanya Sena sambil menatapku lekat
“hmm let everything go? Apalagi yang bisa gue lakuin?”
tanyaku balik
“nggak ada untuk sekarang. Kalo lo mau melupakan ya it’s up
to you. Kita pasti dukung kok” Jawab Sena sambil melihat ke dua sahabat yang
lainnya. Dua-duanya mengangguk pada apa yang Sena katakan
“hm okay, gue juga memang gatau mau gimana mengadapi Abraham
lagi dengan cara yang berbeda setelah kejadian ini” kataku pelan
Setelah kejadian itu sikapku memang berubah terhadap
Abraham. Aku hanya menjawab kalimatnya dengan dua kata atau terkadang malah
hanya satu kata. Aku tidak tahu apa yang salah denganku… hanya saja semua ini
berat.
“hei, hati-hati” Abraham menarik lenganku pelan dan setelah
kusadari tembok di depan keningku hanya berjarak beberapa senti
“eh.. iya haha. Gue ga merhatiin jalan” aku tertawa
canggung, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan saat ini
“mau kelas ya?” tanyanya kemudian sambil melirik
kertas-kertas yang aku dekapkan erat pada dada
“iya. Nih mau ngumpulin makalah” jawabku sambil mengacungkan
makalah yang kuketik hampir 7 hari 7 malam
“goodluck buat nilainya nanti. Semoga aja IP lo semester ini
bagus kaya semester kemarin” katanya sambil tersenyum. Senyuman yang aku ingin
kutuk karena terlalu manis sehingga membuatku seperti terkena diabetes
“baik banget pake doain gue segala. Makasih ya. Dan Bram..
bisa kurang-kurangin senyumnya ngga? Gue bisa mabok kalo liat senyum lo terus
terusan hahaha” jawabku sambil tertawa dan meninggalkannya yang mematung
seperti orang bodoh
Mungkin
setelah ini memang let everything go adalah hal terseulit setelah mata kuliah
faal yang sedang aku ambil di semester ini. Mungkin, ada suatu rencana mengapa
aku dipertemukan olehnya. Karena rencana Tuhan memang misterius dan aku sebagai
manusia tidak dapat menebaknya. Mungkin untuk saat ini, aku hanya perlu usaha
maksimal. Semangat!.
Senin, 09 Maret 2015
selamat malam menjelang pagi
mulai hari ini gue uts sampe minggu depan. gue bingung kenapa kuliah jadi cepet gini waktunya masa gue udah uts semester dua. gak masuk akal hahaha
banyak banget yang mau gue ceritain sebenernya. tapi gue lelah banget ini setelah belajar buat teori kepribadian yang analisisnya harus pake enam tokoh. hmmm.
jadi mungkin cerita gue bakalan menyusul, itu juga kalo gue inget haha. pokoknya banyak banget yang mau gue ceritain, nanti gue cicil
banyak banget yang mau gue ceritain sebenernya. tapi gue lelah banget ini setelah belajar buat teori kepribadian yang analisisnya harus pake enam tokoh. hmmm.
jadi mungkin cerita gue bakalan menyusul, itu juga kalo gue inget haha. pokoknya banyak banget yang mau gue ceritain, nanti gue cicil
Sabtu, 07 Februari 2015
i was stalker.. well no, i'm still a stalker.
i think.. i'm crazy. no, i'm normal but just going little bit crazy in weekend.
kebiasaan stalk gue membuat gue jatuh ke lobang yang udah gue gali sendiri. gue tuh memang bawaan iseng aja atau memang gue punya bakat sih kerja di kantor intelijen? kayaknya gue ada bakat deh. apa gue harus pindah kuliahan ya? bingung jadinya
gue cuma iseng aja sumpah. tapi gue penasaran aja buat cari-cari tahu. eh.. ternyata banyak toh hahahahaha.. ha ...ha..ha..haaaaaaaa
tapi setelah gue buka hampir semuanya blank page.. just.. WHY???? kenapa bikin penasaran tapi ternyata itu semua kosong, PHP abis sih.. it's just like why did you have that all pages without any posts..? why..?
kebiasaan stalk gue membuat gue jatuh ke lobang yang udah gue gali sendiri. gue tuh memang bawaan iseng aja atau memang gue punya bakat sih kerja di kantor intelijen? kayaknya gue ada bakat deh. apa gue harus pindah kuliahan ya? bingung jadinya
gue cuma iseng aja sumpah. tapi gue penasaran aja buat cari-cari tahu. eh.. ternyata banyak toh hahahahaha.. ha ...ha..ha..haaaaaaaa
tapi setelah gue buka hampir semuanya blank page.. just.. WHY???? kenapa bikin penasaran tapi ternyata itu semua kosong, PHP abis sih.. it's just like why did you have that all pages without any posts..? why..?
campur aduk
kalo bicara soal hati, susah dan berat ga sih? kayak misalnya separuh hati pasti dimiliki satu orang, dan yg separuhnya lagi pasti dipegang yang punyanya. gabisa kan setengah hati dipegang dua orang? what i mean is, sesuatu membuat gue goyah dan gue gatau apa maupun kenapa gue bisa begitu.
susah jelasinnya, pokoknya susah. kalo gue suruh nyeritain mungkin baru selesai sekitar 20 tahun ke depan.
gue ga berani bilang kalo i fall for second time, it looks like i'm a playgirl. gue ga bermaksud mainin, atau main-main, sumpah.
gue benci nih perasaan yang kebagi-bagi gini. gajelas. dan gue ga suka sama sesuatu yang ga jelas kaya.. gitu deh susah lah jelasinnya. kalo lo ga ngerti apa arti dari tulisan gue, ya silahkan intrepretasikan sendiri. manusia kan punya persepsi masing-masing.
susah jelasinnya, pokoknya susah. kalo gue suruh nyeritain mungkin baru selesai sekitar 20 tahun ke depan.
gue ga berani bilang kalo i fall for second time, it looks like i'm a playgirl. gue ga bermaksud mainin, atau main-main, sumpah.
gue benci nih perasaan yang kebagi-bagi gini. gajelas. dan gue ga suka sama sesuatu yang ga jelas kaya.. gitu deh susah lah jelasinnya. kalo lo ga ngerti apa arti dari tulisan gue, ya silahkan intrepretasikan sendiri. manusia kan punya persepsi masing-masing.
Langganan:
Postingan (Atom)