Minggu, 30 November 2014

saya dalam tahap pencarian untuk sesuatu yang bernama 'kepastian'

ya, saya bermain dengan kehidupan saya
saya bermain dengan waktu yang saya punya
saya bermain dengan sesuatu yang anda tidak akan bisa bayangkan
untuk seorang perempuan 19 tahun seperti saya, hidup ini bukan apa-apa bukan?. saya baru terlepas dari manisnya hidup. sesaat lagi saya akan merasakan rasa-rasa lain yang ada di kehidupan ini.
saya benci dengan perbedaan. perbedaan hanya menimbulkan perpecahan, salah satu alasan pahitnya dunia ini. semua yang sama rasanya manis. yang berbeda selalu beragam rasanya.
saya benci untuk mengakui bahwa hidup saya pahit sejak enam belas tahun yang lalu. saya hanya merasakan sedikit manisnya kehidupan ini.
hidup saya penuh dengan perbedaan yang membuat segala kepastian adalah hal yang mustahil. kepastian adalah hal yang tabu bagi hidup saya. mungkin, hanya mungkin, di kehidupan saya yang lalu, saya telah membuat kesalahan fatal yang membuat saya harus membayarnya sekarang. saya mungkin bukan seorang yang filosofis tapi saya percaya bahwa kehidupan ini berlapis. saya seorang yang logis.
saya selalu menyimpulkan bahwa kepastian ada karena kesamaan. saya belajar ketika seseorang mengikat janji sehidup semati, mereka diijankan untuk bersama. apa alasannya? karena mereka sama. sedangkan saya, saya dan dia berbeda, maka dimana kepastian saya? akankah kepastian itu tidak akan ada hingga saya harus kembali melanjutkan pencarian ini di kehidupan selanjutnya?

Jumat, 21 November 2014

pembelajaran hari ini

selamat malam untuk para pecandu kegelapan dan keheningan diluar sana.
gue kembali lagi dengan sesuatu yang tiba-tiba aja muncul di kepala gue setelah kejadian hari ini. apa itu? sendiri, seorang, ataupun itu yang mempunyai arti 'sendiri'.
gue hari ini  belajar, semakin besar dan bertambah umurnya kita, pengalaman itupun akan selalu menumpuk dan menumpuk menjadi pengetahuan yang baru.
gue hanya merasa semakin gue bertambah dewasa, semua orang yang ada di kehidupan gue mulai menyingkir dan masuk ke dalam posisinya masing-masing. ada yang hanya lewat sekedar ingin tahu, atau memilih untuk menetap karena yakin dirinya akan bisa dijadikan tempat naungan selain Tuhan.
tetapi dunia ini sudah terlanjur tercemar yang artinya lebih banyak yang tidak peduli dibandingkan yang peduli. hanya sekedar ingin tahu agar dapat menertawakan kehidupan orang lain yang sama sekali tidak dimengerti oleh mereka.
gue seringkali ngerasa sakit karena terlalu banyak orang yang mengelilingi kehidupan gue, gue ngerasa mereka bebas menuilai gue apa aja dan yang sampai di akhir telinga gue hanyalah keburukan. gue belajar dari sana, gue rasa lebih baik ga punya temen sekalian daripada yang katanya temen taipi lupa dirinya sendiri sebagai 'teman'.

Minggu, 12 Oktober 2014

cerpen



Shuushi

It was autumn. It was feel good. And I was in love.

                Suasana gugur tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Aku mengingatnya dengan jelas. Suara daun gugur yang terinjak, suara tawa canda gurau kita berdua. Sekarang semua terasa berbeda dengan sebelumnya. Aku sendiri. Dan kamu entah bagaimana.
“ngelamun aja.. kurus deh lama-lama tinggal tengkorak haha” dia menyodorkan segelas kopi hangat di depan wajahku seperti satu tahun terakhir ini.
“kok lo masih disini? Ini kan udah jam delapan” kataku sambil mengambil gelasnya
“gue hari ini ga ada kelas. Nanti ada kelas pengganti lagi rabu” yep, today is Monday, the first day of the week and the first day of autumn this year
Kami sama-sama duduk diam bersebelahan tanpa berbicara atau bergerak sedikitpun. Aku hanya memperhatikan kebulan uap hangat dari gelas kertas kopi yang dibawakannya. Dia yang membawakanku kopi satu tahun terakhir ini adalah Abraham, sama-sama murid yang pergi jauh dari kampung halamannya demi menimba ilmu dan pengalaman.
“hari ini lo ada kelas jam berapa?” tanyanya demi memecah keheningan
“hm.. jam sepuluh. Why?” tanyaku kemudian
“nope. I just wanna know. Gue pikir lo ga sibuk jadi bisa jalan” aku menatapnya sejenak. Aku memang belum lama mengenalnya tapi cukup untuk tahu bagaimana sikap dia seharusnya
“ why are you looking at me like that?” tanyanya kemudian setelah menyadari aku menatapnya terlalu lama
“no.. it is just not like you..” kemudian aku menyeruput kopi panasku
“I actually know why you are here. I mean here” dia menekankan kata itu yang sama sekali belum aku tangkap
“I don’t really understand, what ‘here’ you mean” kataku pelan
“maksud gue sekolah jauh-jauh sampe kesini. I know what your reason is ” tiba-tiba aku merasa wajahku panas. Kesedihan itu muncul sedikit demi sedikit seperti menggerogoti badanku di tahun-tahun sebelumnya
“I just.. wanna go somewhere else. Can we?” aku memutuskan untuk tidak masuk kelas hari ini. Toh badanku sendiri menolak setelah apa yang dikatakan Abraham

                Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Masih terlalu pagi untuk melihat taman ini ramai oleh orang yang sekedar duduk atau bercengkrama. Aku melihat punggung Abraham dari jauh, dia pergi untuk membeli permen kapas untukku. Aku beruntung mengenalnya satu tahun yang lalu. Tahun dimana aku merasa kritis bahkan sampai ingin menghilang dari muka bumi
“feel not well?” tanyanya sambil memberikan permen kapas ungu warna favoritku
“not really but still feeling blue” kataku pelan
“kenapa? Karena kejadian dua tahun yang lalu?” pertanyaan itu seraya memanggil memori usangku yang menampilkan gambar dua tahun yang lalu. Yang penuh keributan dan cekcok.
“maybe. Mungkin perasaan gue yang memanggil rasa itu lagi. Rasa trauma yang buat gue sendiri gue gapernah nyangka bakalan ngalamin itu. Dan gue perlahan mengobati luka itu. Sampe sekarang.. dan entah kapan sembuhnya” baru kali ini aku mengungkapkan apa yang benar-benar aku rasakan selama ini
“you know… kadang film aja ga sesuai dengan skenario sutradara. Apalagi hidup.. yang sutradaranya aja kita gabisa lihat, alias Tuhan. Tapi sama aja kaya film when nothing goes right just do whatever you want. Improvisasi..” memang dia penikmat film dan buku sejati. Aku diam-diam mengaguminya.
“bener kata lo improvisasi, dan ini hasil improvisasi gue. Terdampar di Negara asing, dengan orang-orang asing yang tinggal dengan gue”
“at least gue ga asing kan? Haha” tanyanya sambil menghiburku
                I’m lost in my own thought. Aku tidak menggubris omongan Abraham. Aku diam membayangkan kejadia dua tahun lalu. Chaos. Hanya karena pembagian harta. Uang. Aku sudah melihat berbagai macam hal yang dikarenakan uang. Penyiksaan, penculikan, pembunuhan. Aku benci uang. Aku lari dari keluargaku dan bertemu dengan seseorang yang aku anggap dapat menemaniku sampai akhir hayat. Karena kami berpikiran sama tentang apapun. Kami melewati suka dan duka bersama. Sampai akhir musim gugur lalu. Perasaanku terasa gugur juga terbawa musim itu
“kita beda, you know what I mean” aku menatapnya seraya menghilangkan semua perasaan yang sudah aku simpan selama ini
“aku tahu. But we are going to make this thing works out” katanya sambil menggengam kedua tangan kecilku
“I don’t think.. so..” jawabku makin melemah karena dorongan air mata yang ingin meluncur
“please, don’t leave me” kali ini kedua matanya berkaca-kaca sambil menatapku
“if I could. I would. Tapi aku gabisa. Karena sekali lagi kita berbeda. Maaf” jawabku sambil memeluknya. Pelukan terakhir
“just remember, I will love you. Like always” dia memelukku balik. Pelukan hangat terakhir darinya.
Semua yang aku perjuangkan, semua yang sudah aku lakukan. Semua itu hanya tinggal memori yang selalu aku ingat setiap musim gugur. Mungkin musim gugur tahun depan akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin.




Minggu, 11 Mei 2014

cerpen

lightstick
setidaknya aku berani

                Jam sudah menunjukkan hampir jam 5 petang, tetapi salah satu temannya belum juga datang. Ia memerhatikan jam tangan oranyenya, sekelibat wajah seseorang muncul dalam pikirannya. Wajahnya mulai memanas dan jantungnya berdebar cepat.
“Na, Ines sampe mana?”
“gue gatau, terakhir SMS nya dia baru siap-siap”
“udah jam segini, turun ke lapangan yuk” ajaknya
“yuk”
Nana mengikuti langkah pelan Raina yang melambat karena puluhan orang lainnya juga menuju tempat yang sama
“eh, Raina” Nana menghentikan langkahnya, begitu juga Raina
“eh, Joe. Udah lama ga ketemu. Gila makin keren aja lo hahaha”
Nana mematung, menyaksikan kegiatan dua manusia di depannya
“hai Na” sapanya sambil tersenyum
“eh.. hai” balas Nana dengan ekspresi bingung, walaupun hanya melihat wajah Raina sekilas tapi Nana tahu bahwa tatapan Raina yang tadi adalah tatapan gemas karena Nana bertingkah konyol di depan Joe. Alih-alih mengajak Joe mengobrol, Nana masalah menyingkir agar Raina dan Joe dapat mengobrol, atau lebih mirip sebagai nostalgia.
Nana memutuskan untuk membeli minum daripada hanya terbengong-bengong menunggu Raina mengobrol
“mas, air mineralnya satu botol ya” kata Nana pada penjual minum di counter pertama. Suara 2 perempuan di belakang Nana menarik perhatiannya. Sebelum perempuan itu benar-benar menyadari Nana memperhatikannya, Nana sudah bisa menebak siapa salah satu perempuan itu. Gosh, his ex-gf. Gumamnya dalam hati. Tanpa pikir panjang Nana langsung menyambar air mineralnya sambil memberikan satu lembar uang lima ribuan pada penjualnya
“lo kemana aja sih? Joe udah mau turun tuh” Raina menatap Nana sambil ngos-ngosan
“gue.. beli minum..” kata Nana tanpa dosa
“tau gitu.. gue nitip” katanya sambil menatap botol yang dipegang Nana
“yaudah minum punya gue dulu aja”
“udah gausah. Mending kita langsung turun aja”
Nana mengecek jam tangannya lagi. Pukul 6. Langit mulai gelap dan lampu-lampu dekorasi mulai menyala dengan warna yang meriah. Penonton membuat formasi U karena lapanagan bawah akan segera dipakai untuk dance performance, dan Joe adalah salah satu crew nya.
Musik dimulai, suasana mulai meriah dengan teriakan riuh rendah dari penonton yang menyambut masuknya penari-penari sekolah terkenal itu.
“lo bawa kamera ga?” tanya Raina ditengah-tengah suara ribut orang-orang disekitar mereka
“bawa dong” Nana menarik kamera digital ungunya dari dalam tas
“emang ye, niat lo dateng kesini”
“ya kalo ga ngeliat dia, buat apa gue dateng kesini hahaha” Nana menekan tombol ON pada kameranya. Layarnya hanya menampakkan satu sosok fokus seseorang. Joe.
Joe bersama dua orang temannya berjalan maju dan mulai bergerak mengikuti lagu yang melantun keras, diikuti suara sorakan dari penonton disekitar lapangan. Perlahan senyum itu terukir kembali, senyum yang Nana rasakan 2 tahun lalu.

                Ines berjalan masuk ke dalam venue utama. Memeriksa sekelilingnya, berharap bertemu Nana atau Raina seperti yang diberitahukan mereka sebelumnya
“Ines, sini” raina melambai dari salah satu sudut kursi
“ini, lightsticknya” kata Ines sambil menyerahkan tube panjang kepada Nana
“baru tadi gue mau telpon lo, biar ga lupa” Nana membuka tutupnya, memeriksa keadaannya
“lo mau pake warna apa?” tanya Ines
“ungu ada kan ya? Raina, lo pake warna apa?”
“ada ijo ga?” tanyanya sambil melongok ke arah tube tersebut
“kayaknya ada deh”  Nana merogoh salahsatu lighstick dari dalam tube tersebut
“nih, lo mau pake warna apa Nes?”
“kuning dong”
“nih”
Mereka mematahkan lightstick masing-masing kemudian memasangnya di pergelangan tangan kiri. Mereka turun untuk melanjutkan menonton, karena setelah ini ada penampilan dari Gamaliel, Audrey dan Cantika sebagai bintang tamu yang mereka tunggu malam ini.
“gue harusnya ngasih ini ke Joe” kata Nana sambil menatap angin kosong
“kok lo tiba-tiba gitu?”
“barusan aja Joe lewat, jadi kepikiran”
“ya lo kasih  aja yang punya lo. Nanti patahin yang baru” saran Raina enteng
“iya juga ya” Nana hanya diam sambil memikirkan kebodohannya
“NA! Lo kok malah ngelamun.. kejar si Joe!” Raina menepuk keras pundak Nana sampai Nana makin terbengong bengong
“Na, itu Joe, buruan” kata Ines sambil mendorong Nana agar mengejar Joe
Nana berlari mengejar Joe sambil menghindari kerumunan dan kolam renang, karena jika dia terpental sedikit.. kolam renang itu tidak akan berpindah bukan?
Punggung Joe sudah ada di depan Nana. Sambil berpikir bagaimana cara untuk membuatnya berbalik, Nana memperlambat langkahnya 
“Joe..” Nana memanggilnya pelan. Joe menghentikan langkahnya sambil berbalik ragu, apakah benar ada seseorang yang memanggilnya atau tidak
Joe  melihat Nana yang berdiri dibelakangnya. “lo manggil gue?” tanyanya bingung
“iya, ini buat lo” kata Nana sambil memberikan lightstick di tangannya
“buat gue?” tanyanya lagi
“iya” jawab nana kikuk
“makasih ya” katanya sambil tersenyum, senyum yang mampu membuat nana kebas terhadap apapun
“iya” jawab Nana sambil tersenyum simpul setengah tertawa karena bingung, canggung, dan terlalu senang
Joe berbalik dan memegang lightsticknya, Nana pergi ke arah berlainan dengan Joe. Sekerumunan perempuan melihat Nana bingung setengah sinis karena tersenyum sepanjang jalan dan mungkin mereka memperhatikan adegang aneh antara Joe dengannya.
“gimana?” tanya Raina
“ahahahaha gue seneng bangeeet. Dia senyum.. demi apapun keren..” jawab Nana masih dengan senyumnya
“nih lightstick ungunya” Ines memberikan lighstick ungu lainnya dari tube
Tanpa diduga Joe berbalik ke arah yang sama dengan Nana dan mendekati kerumunan perempuan yang Nana lewati tadi
“Na, dia baru aja minta pasangin lightstick dari lo tuh” kata Raina sambil memperhatikan Joe dengan kerumunannya
“iya? Ah gue ga sanggup liat dia.. keren banget sih”
“lo bisa gila lama-lama” kata Raina
                Setelah penampilan final dari acara itu selesai, Nana, Raina, dan Ines berpisah untuk pulang. Nana mencari kunci mobil di dalam tas padatnya, menekan tombol buka dan masuk ke pintu pengemudi. Setelah memasukkan kunci dan menghidupkan mobil, dia hanya duduk sambil berpikir
Yang tadi gue lakuin ke Joe bener ga sih?
Setelah dua tahun ini gue ngerasa ga ada kemajuan
Atau sebenernya gue udah masuk friendzone? Dammit.
Kok tadi gue ga ngeliat Joe ya?
Nana menatap kearah luar mobilnya, parkiran sepi tidak ada tanda-tanda orang berkeliaran
Ya mungkin dia emang ga suka.. atau bahkan ga tertarik sama gue..






Sabtu, 29 Maret 2014

29 March 2014

okeeee menghitung mundur Ujian Nasional kok kayaknya gue SMA tuh secepat kilat gitu ya macem barang kiriman JNE. kan tiga tahun ya, apa selama ini gue lagi mimpi doang? wkwk.
udahlah ya daritadi gue bahas yang  ga penting penting amat. sebenernya gue mau ngepost yang lebih penting tapi apa daya gue humoris jadi ya penting penting engga gitu deh.
sekali lagi ini penting penting engga jadi terserah mau baca ke bawahnya apa engga, gue bilang terserah baca ya bukan terserah benci apa engga, lo gaboleh benci gue ahhaha.
pokonya gini, gue udah janji sama diri gue sendiri buat hidup secara simple yang artinya jangan masuk ke suasana yang nyusahin diri gue sendiri gitu.
tapi sekarang  gue rasa udah kebalik semuanya, istilahnya mah udah terlanjur. tapi namanya terlanjur mah dilanjutin aja, ya ga? daripada engga sama sekali.
ada yang udah ngerti gue ngomong ke arah mana? kalo ga ngerti cari aja di kamus oxford.. pasti ga ada wkwk.
udah ah susah ya jadi orang serius ternyata. yang masih bingung bingung pegangan aja deh ya