Minggu, 11 Mei 2014

cerpen

lightstick
setidaknya aku berani

                Jam sudah menunjukkan hampir jam 5 petang, tetapi salah satu temannya belum juga datang. Ia memerhatikan jam tangan oranyenya, sekelibat wajah seseorang muncul dalam pikirannya. Wajahnya mulai memanas dan jantungnya berdebar cepat.
“Na, Ines sampe mana?”
“gue gatau, terakhir SMS nya dia baru siap-siap”
“udah jam segini, turun ke lapangan yuk” ajaknya
“yuk”
Nana mengikuti langkah pelan Raina yang melambat karena puluhan orang lainnya juga menuju tempat yang sama
“eh, Raina” Nana menghentikan langkahnya, begitu juga Raina
“eh, Joe. Udah lama ga ketemu. Gila makin keren aja lo hahaha”
Nana mematung, menyaksikan kegiatan dua manusia di depannya
“hai Na” sapanya sambil tersenyum
“eh.. hai” balas Nana dengan ekspresi bingung, walaupun hanya melihat wajah Raina sekilas tapi Nana tahu bahwa tatapan Raina yang tadi adalah tatapan gemas karena Nana bertingkah konyol di depan Joe. Alih-alih mengajak Joe mengobrol, Nana masalah menyingkir agar Raina dan Joe dapat mengobrol, atau lebih mirip sebagai nostalgia.
Nana memutuskan untuk membeli minum daripada hanya terbengong-bengong menunggu Raina mengobrol
“mas, air mineralnya satu botol ya” kata Nana pada penjual minum di counter pertama. Suara 2 perempuan di belakang Nana menarik perhatiannya. Sebelum perempuan itu benar-benar menyadari Nana memperhatikannya, Nana sudah bisa menebak siapa salah satu perempuan itu. Gosh, his ex-gf. Gumamnya dalam hati. Tanpa pikir panjang Nana langsung menyambar air mineralnya sambil memberikan satu lembar uang lima ribuan pada penjualnya
“lo kemana aja sih? Joe udah mau turun tuh” Raina menatap Nana sambil ngos-ngosan
“gue.. beli minum..” kata Nana tanpa dosa
“tau gitu.. gue nitip” katanya sambil menatap botol yang dipegang Nana
“yaudah minum punya gue dulu aja”
“udah gausah. Mending kita langsung turun aja”
Nana mengecek jam tangannya lagi. Pukul 6. Langit mulai gelap dan lampu-lampu dekorasi mulai menyala dengan warna yang meriah. Penonton membuat formasi U karena lapanagan bawah akan segera dipakai untuk dance performance, dan Joe adalah salah satu crew nya.
Musik dimulai, suasana mulai meriah dengan teriakan riuh rendah dari penonton yang menyambut masuknya penari-penari sekolah terkenal itu.
“lo bawa kamera ga?” tanya Raina ditengah-tengah suara ribut orang-orang disekitar mereka
“bawa dong” Nana menarik kamera digital ungunya dari dalam tas
“emang ye, niat lo dateng kesini”
“ya kalo ga ngeliat dia, buat apa gue dateng kesini hahaha” Nana menekan tombol ON pada kameranya. Layarnya hanya menampakkan satu sosok fokus seseorang. Joe.
Joe bersama dua orang temannya berjalan maju dan mulai bergerak mengikuti lagu yang melantun keras, diikuti suara sorakan dari penonton disekitar lapangan. Perlahan senyum itu terukir kembali, senyum yang Nana rasakan 2 tahun lalu.

                Ines berjalan masuk ke dalam venue utama. Memeriksa sekelilingnya, berharap bertemu Nana atau Raina seperti yang diberitahukan mereka sebelumnya
“Ines, sini” raina melambai dari salah satu sudut kursi
“ini, lightsticknya” kata Ines sambil menyerahkan tube panjang kepada Nana
“baru tadi gue mau telpon lo, biar ga lupa” Nana membuka tutupnya, memeriksa keadaannya
“lo mau pake warna apa?” tanya Ines
“ungu ada kan ya? Raina, lo pake warna apa?”
“ada ijo ga?” tanyanya sambil melongok ke arah tube tersebut
“kayaknya ada deh”  Nana merogoh salahsatu lighstick dari dalam tube tersebut
“nih, lo mau pake warna apa Nes?”
“kuning dong”
“nih”
Mereka mematahkan lightstick masing-masing kemudian memasangnya di pergelangan tangan kiri. Mereka turun untuk melanjutkan menonton, karena setelah ini ada penampilan dari Gamaliel, Audrey dan Cantika sebagai bintang tamu yang mereka tunggu malam ini.
“gue harusnya ngasih ini ke Joe” kata Nana sambil menatap angin kosong
“kok lo tiba-tiba gitu?”
“barusan aja Joe lewat, jadi kepikiran”
“ya lo kasih  aja yang punya lo. Nanti patahin yang baru” saran Raina enteng
“iya juga ya” Nana hanya diam sambil memikirkan kebodohannya
“NA! Lo kok malah ngelamun.. kejar si Joe!” Raina menepuk keras pundak Nana sampai Nana makin terbengong bengong
“Na, itu Joe, buruan” kata Ines sambil mendorong Nana agar mengejar Joe
Nana berlari mengejar Joe sambil menghindari kerumunan dan kolam renang, karena jika dia terpental sedikit.. kolam renang itu tidak akan berpindah bukan?
Punggung Joe sudah ada di depan Nana. Sambil berpikir bagaimana cara untuk membuatnya berbalik, Nana memperlambat langkahnya 
“Joe..” Nana memanggilnya pelan. Joe menghentikan langkahnya sambil berbalik ragu, apakah benar ada seseorang yang memanggilnya atau tidak
Joe  melihat Nana yang berdiri dibelakangnya. “lo manggil gue?” tanyanya bingung
“iya, ini buat lo” kata Nana sambil memberikan lightstick di tangannya
“buat gue?” tanyanya lagi
“iya” jawab nana kikuk
“makasih ya” katanya sambil tersenyum, senyum yang mampu membuat nana kebas terhadap apapun
“iya” jawab Nana sambil tersenyum simpul setengah tertawa karena bingung, canggung, dan terlalu senang
Joe berbalik dan memegang lightsticknya, Nana pergi ke arah berlainan dengan Joe. Sekerumunan perempuan melihat Nana bingung setengah sinis karena tersenyum sepanjang jalan dan mungkin mereka memperhatikan adegang aneh antara Joe dengannya.
“gimana?” tanya Raina
“ahahahaha gue seneng bangeeet. Dia senyum.. demi apapun keren..” jawab Nana masih dengan senyumnya
“nih lightstick ungunya” Ines memberikan lighstick ungu lainnya dari tube
Tanpa diduga Joe berbalik ke arah yang sama dengan Nana dan mendekati kerumunan perempuan yang Nana lewati tadi
“Na, dia baru aja minta pasangin lightstick dari lo tuh” kata Raina sambil memperhatikan Joe dengan kerumunannya
“iya? Ah gue ga sanggup liat dia.. keren banget sih”
“lo bisa gila lama-lama” kata Raina
                Setelah penampilan final dari acara itu selesai, Nana, Raina, dan Ines berpisah untuk pulang. Nana mencari kunci mobil di dalam tas padatnya, menekan tombol buka dan masuk ke pintu pengemudi. Setelah memasukkan kunci dan menghidupkan mobil, dia hanya duduk sambil berpikir
Yang tadi gue lakuin ke Joe bener ga sih?
Setelah dua tahun ini gue ngerasa ga ada kemajuan
Atau sebenernya gue udah masuk friendzone? Dammit.
Kok tadi gue ga ngeliat Joe ya?
Nana menatap kearah luar mobilnya, parkiran sepi tidak ada tanda-tanda orang berkeliaran
Ya mungkin dia emang ga suka.. atau bahkan ga tertarik sama gue..