KITA
Matahari pagi seakan mengintip dari balik jendela ku yang ditutupi oleh tirai panjang tetapi terlalu terangnya sampai menembus tirai kamar ku aku bangun dengan mata yang masih lengket menempel satu sama lain badan ku juga masih rindu dengan tempat tidur sampai – sampa susah sekali untuk dipisahkan dengan susah payah aku bangun dan membereskan tempat tidur, mengambil handuk dan bergegas mandi.
Aku melihat mama saat menuruni tangga mama sedang menyiapkan sarapan roti untuk pagi ini dan segelas susu untukku. Aku duduk di sebelah mama dan menyantap sarapan ku pagi ini mama memulai pembicaraan kami
“hari ini ada pelajaran apa saja?”
“banyak sih ma, tapi ada fisika aku malas” jawabku dengan mulut masih setengah terisi
“asal kamu ngerti fisika itu asik aja, kamu udah bawa buku musiknya?”
“udah , ma” seketika raut mukaku berubah menjadi cemas aku memikirkan bahwa sebenarnya aku tidak benar – benar ingin menjadi pemusik aku hanya ingin menjadi penulis lagipula menurut teman – temanku aku tidak begitu jelek dalam hal menulis malah aku cukup bagus bila membuat cerita.
“itu diminum dulu susunya ya” kata mama
Aku langsung menegak minumanku dan bergegas pergi ke sekolah setelah berpamitan dengan mama.
Sampai disekolah, seperti biasa kelasku masih sepi dan kosong melompong aku melihatu buku musik yang kubawa aku tidak benar – benra ingin mempelajarinya tapi aku melihat di mata mama begitu banyak pengharapan mama terhadapku. Colekan seseorang membuatku sadar dari pikiranku
“louise, nyontek Pe-eR dong hehe” seringai Nima membuatku memakluminya memang temanku yang satu ini seperti itu kalo dia nggak seperti itu aku justru aneh
“nih” sambil menyerahkan buku pe-eR ku padanya
“terimakasih Louise engkau bagai peri dari surga” katanya dengan nkata – kata yang cukup hiperbolis , dengan cepat nima sudah mengambil buku Pe-eRnya dan menyalin jawaban cepat, mungkin bila ada lomba menyontek tercepat Nima bisa jadi pemenangnya.
Tiba – tiba seseorang berdiri di depan pintu sengan muka yang benar – benar pucat seperti mayat yang baru berevolusi dan mata yang masih setengah tertutup
“aduuuh masih ngantuk nih” keluhnya sambil memasuki kelas
“emang abis lembur ya mas?” godaku pada Dino sahabatku yang satu ini memang paling malas sedunia deh
“ya nggak lah, memang pelajaran pertama apa?” jawabnya setengah bangun dan tidak
“fisika’’ jawabku singkat dan santai
“HAH??!! Serusan??” serunya begitu keras dan membuat matanya membelak seketika
“emang keliatannya mukaku ini gimana?”
“serius sih, tapi kalo kayak gini sih aku nggak akan jadi tidur deh”.
Bel masuk pun berbunyi murid – murid di kelasku masuk dengan lengkap, sekeretaris menuliskan tugas fisika dan ternyata guru fisika kita tidak masuk.
“ahh surga dunia banget deh” kata Dino sambil menyandarkan badannya di kursi
“haha itu sih emang kemauan kamu” kataku ikut - ikutan
“yaaah aku ngapain nyalin Pe-eR dong?” sesal Nima
“udah lah syukurin aja lumayan olahraga tangan pagi” jawabku seadanya
“ahh bosen nggak mau ngerjain tugas ah kan kata nima juga udah olahraga pagi nyalin Pe-eR haha”
Aku tersenyum saja. Tiba – tiba nima dan dino tertawa – tawa asik sepertinya nima sedang menceritakan sesuatu yang menggelikan hingga muka Dino terlihat konyol seperti itu, aku hanya tersenyum geli melihat mereka yang seperti itu tapi dibalik itu mereka seperti aku mereka mempunyai masalah besar seperti ku tentang masa depan kita, aku tahu Dino selama ini ingin menjadi seorang pemain bola dan Nima ingin menjadi dokter hewan tapi , kenyataannya Dino sedang belajar menjadi seorang pemain basket dan Nima sedang belajar menjadi seorang koki itu terbukti bahwa sebenarnya mereka pun menyembunyikan sesuatu di balik pikiran mereka yang memang sangat tertutup rapat dan itu berisi tentang kebohongan mereka, mereka takut dan aku pun takut, takut sesuatu yang tak kita inginkan itu terjadi, karena kita terlalu takut itu kita nggak akan melakukannya sekali lagi ini semua karena ketakutan kita. Aku ingat dengan jelas tentang pembicaraanku dengan Dino saat itu, jika aku melakukan sesuatu itu karena kemauan ku dan aku yang sekarang adalah aku yang mau itu tetapi ketika aku nggak melakukan itu berarti bukan aku, tapi aku nggak pernah mau menjadi seorang pembohong begitu juga Dino, dan aku tahu tanpa sadar Dino berbicara untuk dirinya sendiri karena aku , Nima, dan Dino berbohong tentang kita yang sekarang adalah yang kita mau.
Bel pulang yang ditunggu pun berbunyi aku , Nima , dan Dino sudah sepakat akan membicarakan apa yang kita mau kepada orang tua kita. Aku berfikir kembali tetang yang aku alami rasa takut dan ragu pun kini menjadi satu aku masih bimbang akankah aku berbicara yang sebenarnya pada mama atau nggak. Dengan langkah yang dipaksakan aku pulang ke rumah.
Aku sampai dirumah dan aku melihat mama sedang bekerja di balik komputernya, mama kelihatan serius karena keningnya berkerut aku mengurungkan niatku yang ingin menyampaikan sebenarnya pada mama namun sepertinya mama sedang sibuk. Aku berjalan menuju kamar dan akan bicara pada mama nanti ketika makan malam.
Makan malam yang aku tiba kini sudah datang aku mengumpulkan nyali ku sekuat mungkin untuk bicara pada mama, di sela – sela makan ku, aku bicara pada mama
“ma, aku mau bilang kalo sebenernya aku itu nggak begitu tertarik sama musik aku lebih tertarik sama nulis , aku memang suka musik tapi aku lebih suka nulis mungkin jalanku memang disana, kata mama aku bebas memilih jadi apa yang aku mau nanti kan? Kalau aku mau jadi penulis itu nggak masalah kan ma?” bagai diputar otak ku serasa terbalik, aku pusing dan keringat dingin itu pun mulai menhinggapi tubuhku, mama melihatku seperti sedang memahami apa yang sedang aku bicarakan, nafsu makanku hilang dan aku bergegas meninggalkan meja makan dan menuju kamar tidur. Aku merebahkan badanku diatas kasur menatap langit – langit kamar yang kosong aku tak bisa bayangkan apa kata mama nanti apa mama mengijinkan atau tidak, aku terlalu lelah dan tidak sampai dua puluh menit aku pun tertidur.
Kali ini perasaanku yang membangunkan ku bahkan sebelum matahari pagi yang menyapaku seperti biasanya aku melihat jam di meja kecil sebelah tempat tidur masih pukul lima dini hari aku berusaha untuk tertidur kembali namun tak bisa aku terlalu memikirkan perkataan ku pada mama kemarin tetapi sekarang aku lebih lega karena semuanya sudah aku ungkapkan. Aku mengambil handuk dan mandi. Aku memakai seragam dan membereskan buku terlebih dahulu sebelum turun. Aku melihat jam sudah pukul setengah tujuh pagi waktu terasa lebih cepat. Aku bergegas turun meninggalkan kamar, mama sedang menyiapkan makanan Ia berdiri di depan pemanggang roti. Aku berjalan ke arah mama , kami tidak berbicara satu sama lain lalu tiba – tiba mama bebisik padaku
“Louise, kamu mau jadi apapun nanti itu terserah kamu, mama hanya nyaranin soal kamu mau atau nggak itu ada di kamu,memang mama mengharapkan tapi mama nggak akan maksa kamu buat jadi pemusik kamu mau jadi penulis pun mama tetap setuju , mama tetap dukung pilihan kamu. Jadilah diri kamu jangan jadikan kamu sebagai orang lain atau yang mama inginkan, itu adalah masa depan kamu” tatapan mata mama membuat jantungku lompat dari tempatnya , butir – butir itu pun meluncur di atas pipiku dan dengan mulus dan tak dapat ditahan, aku melihat mama dan memeluknya erat aku menangis di pelukan mama selama beberapa menit. Aku beruntung memepunyai mama yang dapat mengerti aku sepenuhnya.
Aku berjalan ke sekolah dengan ringan aku melihat Dino dengan wajah pucat dan setengah membentak ke dalam seseorang yang ada dalam mobilnya saat mobil mulai berjalan aku menghampiri Dino
“kenapa?” tanyaku sambil mengiringi langkahnya
“aku nggak dibolehin main bola” jawabnya sambil menatap lurus
“kok bisa? Bukannya hak kamu ya buat jadi apa aja?”
“tapi papa ku nggak bolehin”
“mau aku bantu bilang?”
“kamu yakin itu berhasil?”
“kalo nggak di coba nggak akan tahu hasilnya ‘kan?” kataku sambil mengangkat bahu
“ya kalo kamu kepengin banget sih”
“oke, nanti pulang sekolah aku ke rumahmu bareng Nima”.
Saat akku memasuki ruang kelas, aku melihat Nima yang hanya tersenyum sambil membaca buku anatomi hewan miliknya itu . Nima mengangkat kepalanya seraya menutup buku anatomi hewannya, Nima menatap Dino dengan pandangan bingung
“kenapa nih pangeran kita yang satu ini?” godanya sambil menepuk pundak Dino
Dino hanya menggeleng malas ketika ditanya tentang masalahnya itu
“dia nggak dibolehin main bola sama papanya” kataku angkat bicara
“oh, nanti pulang sekolah kita ke rumah Dino aja, bujuk papanya supaya bolehin Dino main bola”
“rencanaku juga begitu sih” kataku singkat.
Kelas berlangsung dengan seru, tapi aku masih berfikir nanti mau bicara apa ke papanya Dino jujur aku takut sebenarnya tapi ini demi Dino. Saat aku berfikir bel pulang pun berbunyi.
Aku membereskan bukuku dan bersiap pergi ke rumah Dino bersama Nima
“yuk kita jalan” kataku mengajak Dino dan Nima
“kalian yakin ini akan berhasil?” tanya Dino Pada Nima dan aku
“iya” kataku meyakinkan, Nima hanya menangguk setuju padaku.
Rumah Dino tampak sepi dari luar seperti tak berpenghuni, aku berfikir apakah papanya ada atau tidak, aku memasuki teras rumah Dino dan memasuki ruang tamunya memang rumah Dino tampak sangat besar dari luar maupun dalam.
“Dino papamu mana?” tanya Nima
“nggak tau” katanya
Tiba – tiba saja papa Dino turun dari lantai atas dan melihat ke arah kami bertiga
“eh, ada Nima sama Louise” sapa papa dino
“hai om” kataku dan Nima
“Dino kesini sebentar bisa?” tanya papanya pada Dino
“ya, pa” jawab Dino
Punggung Dino pun menghilang setelah beberapa saat dia jalan ke arah papanya.
“kira – kira apa yang mereka bicarakan ya?” tanyaku pada Nima
“nggak tau mungkin masih masalah bola” jawab Nima.
“AKU NGGAK PERNAH SUKA MAIN BASKET DAN AKU PERNAH BILANG SOAL ITU!!” suara di seberang sana membuat aku dan Nima seakan loncat dari tempat duduk kami masing – masing , lalu aku dan Nima spontan berjalan kearah suara itu, aku melihat muka Dino yang menahan amarah dan begitu pula papanya mereka sama – sama dalam keadaan emosi aku yang kaget hanya diam dan seakan mulutku terkunci rapat – rapat
“maaf om bukanya aku ikut campur urusan om sama Dino tapi izinkan Dino buat main bola ya om?” tanya Nima yang membuat metaku setengah membelak kaget Nima terlalu berani untuk mengatakan itu
“kamu siapa? Suruh om kasih izin Dino main bola” tanya papa dino yang masih menahan emosi
“tapi om kalo emang Dino lebih suka main bola kenapa nggak? Lagipula om belum pernah liat Dino main bola ‘kan?” aku yang berdiri di samping Dino hanya bisa mengusap punggungnya agar lebih sabar
“oke kalo itu yang kalian mau, om kasih izin Dino main bola tapi Dino harus bermain dengan baik nanti” kata papa Dino pada kami.
Dino mengucapkan terimakasih padaku,Nima, dan tentu ayahnya
Kini aku, Dino dan Nima dapat hidup di jalan yang memang sudah kami tentukan. Dan sekarang Kita adalah Kita bukan orang lain ataupun siapapun sekarang aku mulai mempelajari tentang hidup, aku lebih suka seperti sekarang, aku jadi lebih bisa menghargai diriku sendiri.