Minggu, 12 Oktober 2014

cerpen



Shuushi

It was autumn. It was feel good. And I was in love.

                Suasana gugur tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Aku mengingatnya dengan jelas. Suara daun gugur yang terinjak, suara tawa canda gurau kita berdua. Sekarang semua terasa berbeda dengan sebelumnya. Aku sendiri. Dan kamu entah bagaimana.
“ngelamun aja.. kurus deh lama-lama tinggal tengkorak haha” dia menyodorkan segelas kopi hangat di depan wajahku seperti satu tahun terakhir ini.
“kok lo masih disini? Ini kan udah jam delapan” kataku sambil mengambil gelasnya
“gue hari ini ga ada kelas. Nanti ada kelas pengganti lagi rabu” yep, today is Monday, the first day of the week and the first day of autumn this year
Kami sama-sama duduk diam bersebelahan tanpa berbicara atau bergerak sedikitpun. Aku hanya memperhatikan kebulan uap hangat dari gelas kertas kopi yang dibawakannya. Dia yang membawakanku kopi satu tahun terakhir ini adalah Abraham, sama-sama murid yang pergi jauh dari kampung halamannya demi menimba ilmu dan pengalaman.
“hari ini lo ada kelas jam berapa?” tanyanya demi memecah keheningan
“hm.. jam sepuluh. Why?” tanyaku kemudian
“nope. I just wanna know. Gue pikir lo ga sibuk jadi bisa jalan” aku menatapnya sejenak. Aku memang belum lama mengenalnya tapi cukup untuk tahu bagaimana sikap dia seharusnya
“ why are you looking at me like that?” tanyanya kemudian setelah menyadari aku menatapnya terlalu lama
“no.. it is just not like you..” kemudian aku menyeruput kopi panasku
“I actually know why you are here. I mean here” dia menekankan kata itu yang sama sekali belum aku tangkap
“I don’t really understand, what ‘here’ you mean” kataku pelan
“maksud gue sekolah jauh-jauh sampe kesini. I know what your reason is ” tiba-tiba aku merasa wajahku panas. Kesedihan itu muncul sedikit demi sedikit seperti menggerogoti badanku di tahun-tahun sebelumnya
“I just.. wanna go somewhere else. Can we?” aku memutuskan untuk tidak masuk kelas hari ini. Toh badanku sendiri menolak setelah apa yang dikatakan Abraham

                Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Masih terlalu pagi untuk melihat taman ini ramai oleh orang yang sekedar duduk atau bercengkrama. Aku melihat punggung Abraham dari jauh, dia pergi untuk membeli permen kapas untukku. Aku beruntung mengenalnya satu tahun yang lalu. Tahun dimana aku merasa kritis bahkan sampai ingin menghilang dari muka bumi
“feel not well?” tanyanya sambil memberikan permen kapas ungu warna favoritku
“not really but still feeling blue” kataku pelan
“kenapa? Karena kejadian dua tahun yang lalu?” pertanyaan itu seraya memanggil memori usangku yang menampilkan gambar dua tahun yang lalu. Yang penuh keributan dan cekcok.
“maybe. Mungkin perasaan gue yang memanggil rasa itu lagi. Rasa trauma yang buat gue sendiri gue gapernah nyangka bakalan ngalamin itu. Dan gue perlahan mengobati luka itu. Sampe sekarang.. dan entah kapan sembuhnya” baru kali ini aku mengungkapkan apa yang benar-benar aku rasakan selama ini
“you know… kadang film aja ga sesuai dengan skenario sutradara. Apalagi hidup.. yang sutradaranya aja kita gabisa lihat, alias Tuhan. Tapi sama aja kaya film when nothing goes right just do whatever you want. Improvisasi..” memang dia penikmat film dan buku sejati. Aku diam-diam mengaguminya.
“bener kata lo improvisasi, dan ini hasil improvisasi gue. Terdampar di Negara asing, dengan orang-orang asing yang tinggal dengan gue”
“at least gue ga asing kan? Haha” tanyanya sambil menghiburku
                I’m lost in my own thought. Aku tidak menggubris omongan Abraham. Aku diam membayangkan kejadia dua tahun lalu. Chaos. Hanya karena pembagian harta. Uang. Aku sudah melihat berbagai macam hal yang dikarenakan uang. Penyiksaan, penculikan, pembunuhan. Aku benci uang. Aku lari dari keluargaku dan bertemu dengan seseorang yang aku anggap dapat menemaniku sampai akhir hayat. Karena kami berpikiran sama tentang apapun. Kami melewati suka dan duka bersama. Sampai akhir musim gugur lalu. Perasaanku terasa gugur juga terbawa musim itu
“kita beda, you know what I mean” aku menatapnya seraya menghilangkan semua perasaan yang sudah aku simpan selama ini
“aku tahu. But we are going to make this thing works out” katanya sambil menggengam kedua tangan kecilku
“I don’t think.. so..” jawabku makin melemah karena dorongan air mata yang ingin meluncur
“please, don’t leave me” kali ini kedua matanya berkaca-kaca sambil menatapku
“if I could. I would. Tapi aku gabisa. Karena sekali lagi kita berbeda. Maaf” jawabku sambil memeluknya. Pelukan terakhir
“just remember, I will love you. Like always” dia memelukku balik. Pelukan hangat terakhir darinya.
Semua yang aku perjuangkan, semua yang sudah aku lakukan. Semua itu hanya tinggal memori yang selalu aku ingat setiap musim gugur. Mungkin musim gugur tahun depan akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin.