Shuushi
It was autumn. It was
feel good. And I was in love.
Suasana
gugur tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Aku mengingatnya dengan jelas.
Suara daun gugur yang terinjak, suara tawa canda gurau kita berdua. Sekarang
semua terasa berbeda dengan sebelumnya. Aku sendiri. Dan kamu entah bagaimana.
“ngelamun aja.. kurus deh lama-lama tinggal tengkorak haha”
dia menyodorkan segelas kopi hangat di depan wajahku seperti satu tahun
terakhir ini.
“kok lo masih disini? Ini kan udah jam delapan” kataku
sambil mengambil gelasnya
“gue hari ini ga ada kelas. Nanti ada kelas pengganti lagi
rabu” yep, today is Monday, the first day of the week and the first day of
autumn this year
Kami sama-sama duduk diam bersebelahan tanpa berbicara atau
bergerak sedikitpun. Aku hanya memperhatikan kebulan uap hangat dari gelas
kertas kopi yang dibawakannya. Dia yang membawakanku kopi satu tahun terakhir
ini adalah Abraham, sama-sama murid yang pergi jauh dari kampung halamannya
demi menimba ilmu dan pengalaman.
“hari ini lo ada kelas jam berapa?” tanyanya demi memecah
keheningan
“hm.. jam sepuluh. Why?” tanyaku kemudian
“nope. I just wanna know. Gue pikir lo ga sibuk jadi bisa
jalan” aku menatapnya sejenak. Aku memang belum lama mengenalnya tapi cukup
untuk tahu bagaimana sikap dia seharusnya
“ why are you looking at me like that?” tanyanya kemudian
setelah menyadari aku menatapnya terlalu lama
“no.. it is just not like you..” kemudian aku menyeruput
kopi panasku
“I actually know why you are here. I mean here” dia
menekankan kata itu yang sama sekali belum aku tangkap
“I don’t really understand, what ‘here’ you mean” kataku
pelan
“maksud gue sekolah jauh-jauh sampe kesini. I know what your
reason is ” tiba-tiba aku merasa wajahku panas. Kesedihan itu muncul sedikit
demi sedikit seperti menggerogoti badanku di tahun-tahun sebelumnya
“I just.. wanna go somewhere else. Can we?” aku memutuskan
untuk tidak masuk kelas hari ini. Toh badanku sendiri menolak setelah apa yang
dikatakan Abraham
Jam
masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Masih terlalu pagi untuk melihat taman
ini ramai oleh orang yang sekedar duduk atau bercengkrama. Aku melihat punggung
Abraham dari jauh, dia pergi untuk membeli permen kapas untukku. Aku beruntung
mengenalnya satu tahun yang lalu. Tahun dimana aku merasa kritis bahkan sampai
ingin menghilang dari muka bumi
“feel not well?” tanyanya sambil memberikan permen kapas
ungu warna favoritku
“not really but still feeling blue” kataku pelan
“kenapa? Karena kejadian dua tahun yang lalu?” pertanyaan
itu seraya memanggil memori usangku yang menampilkan gambar dua tahun yang
lalu. Yang penuh keributan dan cekcok.
“maybe. Mungkin perasaan gue yang memanggil rasa itu lagi.
Rasa trauma yang buat gue sendiri gue gapernah nyangka bakalan ngalamin itu.
Dan gue perlahan mengobati luka itu. Sampe sekarang.. dan entah kapan
sembuhnya” baru kali ini aku mengungkapkan apa yang benar-benar aku rasakan
selama ini
“you know… kadang film aja ga sesuai dengan skenario
sutradara. Apalagi hidup.. yang sutradaranya aja kita gabisa lihat, alias
Tuhan. Tapi sama aja kaya film when nothing goes right just do whatever you
want. Improvisasi..” memang dia penikmat film dan buku sejati. Aku diam-diam
mengaguminya.
“bener kata lo improvisasi, dan ini hasil improvisasi gue.
Terdampar di Negara asing, dengan orang-orang asing yang tinggal dengan gue”
“at least gue ga asing kan? Haha” tanyanya sambil
menghiburku
I’m
lost in my own thought. Aku tidak menggubris omongan Abraham. Aku diam
membayangkan kejadia dua tahun lalu. Chaos. Hanya karena pembagian harta. Uang.
Aku sudah melihat berbagai macam hal yang dikarenakan uang. Penyiksaan,
penculikan, pembunuhan. Aku benci uang. Aku lari dari keluargaku dan bertemu
dengan seseorang yang aku anggap dapat menemaniku sampai akhir hayat. Karena
kami berpikiran sama tentang apapun. Kami melewati suka dan duka bersama.
Sampai akhir musim gugur lalu. Perasaanku terasa gugur juga terbawa musim itu
“kita beda, you know what I mean” aku menatapnya seraya
menghilangkan semua perasaan yang sudah aku simpan selama ini
“aku tahu. But we are going to make this thing works out”
katanya sambil menggengam kedua tangan kecilku
“I don’t think.. so..” jawabku makin melemah karena dorongan
air mata yang ingin meluncur
“please, don’t leave me” kali ini kedua matanya berkaca-kaca
sambil menatapku
“if I could. I would. Tapi aku gabisa. Karena sekali lagi
kita berbeda. Maaf” jawabku sambil memeluknya. Pelukan terakhir
“just remember, I will love you. Like always” dia memelukku
balik. Pelukan hangat terakhir darinya.
Semua yang aku perjuangkan, semua yang sudah aku lakukan.
Semua itu hanya tinggal memori yang selalu aku ingat setiap musim gugur. Mungkin
musim gugur tahun depan akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin.