Senin, 04 Mei 2015

NOT ME (cerpen)



The simplest love story ‘I love him and he loves me too’

                Aku selalu tidak mempunyai keberanian yang cukup besar untuk mendekatinya. Walaupun aku dekat, aku merasa tidak kenal. Jika dibilang jauh, hubungan kami tidak seasing yang kalian kira. Kami saling kenal. Kami saling menyimpan rasa masing-masing sebagai rahasia pribadi. Yang aku ketahui pasti tentangnya hanyalah bahwa dia memang temanku.
“belum pulang?” tanyanya sambil duduk disebelahku
“belum. Belum dijemput. Lo?” tanyaku balik sambil memperhatikan barang yang dibawanya
“masih ada kerjaan nih. Enaknya bisa pulang haha” jawabnya sambil merapikan beberapa kertas
“ga enak” kataku pelan
“hah?” akhirnya dia memalingkan wajahnya untuk menatapku
“engga. Bukan apa-apa” kataku sambil melihat ke arah lain
Entah tatapannya atau memang ada yang salah denganku, setiap kali dia menatapku dalam jarak dekat perasaanku selalu kacau tanpa sebab yang jelas. Tidak, mungkin alasannya jelas. Apalagi alasannya jika bukan karena aku menyukainya?
                Aku melangkah pelan memasuki pelataran parkiran kampus. Lagi-lagi aku melihatnya sedang melangkah keluar mobil hitamnya. Aku lupa memberitahumu tentang siapa dia. Dia seseorang yang memberikanku kesan mendalam saat pertama kali menginjak tempat ini. Abraham, begitu katanya saat pertama kali aku menjabat tangannya sambil berkenalan. Tatapan pertama yang diberikannya padaku seperti mengandung sesuatu yang membuatku ingin masuk ke dalamnya. Suaranya tidak terlalu berat, penampulannya yang sedikit agak cuek membuatku penasaran. Penasaran ingin mengenalnya lebih dalam, lebih dalam daripada aku mengenal diriku sendiri. Mungkin aku adalah perempuan satu-satunya yang bersikap sok cuek dan tidak peduli,  ketika banyak wanita bersikap sok manis agar mendapatkan perhatiannya. Aku tidak sepenuhnya cuek, aku hanya memperhatikannya lewat sudut mataku. Aku memperhatikan wajah seriusnya, susunan gigi rapi ketika dia tertawa, bahkan napasnya yang waktu itu terdengar jelas di dekat telinga kananku. Aku memang tidak terlalu mengenalnya jauh, aku hanya tahu warna kesukaannya, makanan yang paling dia benci, suasana hati yang sering berganti, keseriusannya dalam karier, selera humornya yang hampir punah, dan tingkat keromantisan hampir di batas nol. Hanya sejauh itu. Aku bahkan tidak bertanya kepanjangan T di belakang namanya, tidak bertanya apakah dia mempunyai saudara kandung, atau apa nama SMA nya dulu. Aku tidak tahu kehidupan pribadinya dan aku tidak berusaha menguak hal tersebut. Sampai ketika kejadian satu bulan lalu membuatku tidak tahu harus berkata apa. Ketika itu pukul 6 sore di Jakarta, aku sedang merapikan buku dan bersiap meninggalkan kelas untuk pulang. Handphoneku berdering lama yang menandakan telepon masuk. Aku baca penelpon tersebut dan buru-buru mengangkat
“ya?? Lo kenapa tiba-tiba telepon gue? Ada follow up dari Candy?” Candy teman satu permainanku ketika aku SMP dulu tapi sayangnya dia pindah ke Jakarta saat SMA meninggalkan aku dan tiga temanku yang terjebak dalam kehidupan rasis di salah satu kota
“Candy sadar! Cepetan ke rumah sakit! Ga ada besok besok ya, gue tunggu. Cepet dateng!” suara Sena begitu bahagia dan tidak mengijinkan satu kata pun keluar dari mulutku
Aku mendengar kabar 2 tahun kemudian ketika Candy harus di rawat di rumah sakit karena kecelakaan yang membuatnya koma. Bulan depan sudah hampir 2 tahun komanya, tetapi syukurlah akhirnya dia bangun untuk menemui sahabat gilanya ini.
                Cecil menemuiku di depan rumah sakit untuk segera menemui Candy di kamarnya. Aku sudah tidak sabar untuk menemuinya, aku membawakannya coklat. Makanan yang selalu ia bawa kemana-mana.
“Nana” Mikha menyambutku masuk ke kamar Candy dan membiarkanku duduk di samping ranjangnya
“Candy akhirnya lo bangun juga.. gue taku banget kalo kita ga akan ketemuan kaya gini lagi, sekarang kita lengkap” kataku sambil memandang kea rah Cecil, Sena, dan Mikha bergantian sambil tersenyum
Candy hanya membalasku dengan tersenyum sambil memegang erat tanganku. Aku memakluminya, mungkin karena Candy merasa seluruh tubuhnya terasa masih kaku untuk bergerak apalagi berbicara.
“Dy, lo harus janji cepetan keluar dari neraka ini ya. Lo tau kan gue paling gasuka tempat ini” kata Mikha sambil memandang ngeri ke sekelilingnya kemudian diikuti dengan tawa kami
“oh iya, tadi mama Candy nitipin Candy ke kita, suruh jagain dulu katanya beliau mau cari buah keluar. Mamanya bilang Candy mau kedatengan tamu spesial” kata Cecil sambil tersenyum iseng memandang Candy
“tamu spesial?” tanyaku ke arah Cecil sambil kebingungan
“ya pokoknya tunggu aja deh, gue juga ngga tau itu siapa haha”  jawab Cecil sambil bangkit kemudian mengambil minum
Pintu kamar Candy terbuka perlahan membuat kami semua melihat ke arah sosok yang akan masuk
“Candy…” senyum lelaki yang baru saja melangkahkan kaki ke dalam kamar membuat hati Candy luluh, bukan hanya hatinya tapi hatiku juga
“Abraham?” gumamku pelan di tengah kebingungan
“Na? lo ada di sini?” tanyanya balik
“gue temen SMP nya Candy dulu” jawabku cepat kemudian memberikan tatapan seperti ‘kalo lo sendiri?’
“gue.. pacarnya Candy..” jawabnya. Membuat seisi ruangan diam di tempat dan hampir menahan napasnya masing-masing bahkan Cecil menghentikan aktivitas minumnya karena kaget
“ooh gitu” jawab Sena untuk memecah keheningan
Kemudian akulah yang melangkah duluan keluar kamar sebelum diikuti yang lainnya. Alasanku karena perasaanku yang tidak menentu sedangkan alasan Sena, Cecil, dan Mikha adalah agar mereka tidak mengganggu privasi Cindy
“lo kenal pacarnya Candy Na?” akhirnya Mikha bersuara ketika kami sudah duduk berdampingan di tempat makan rumah sakit
“kenal.. mana mungkin engga” jawabku sambil menahan sedih. Aku melihat Sena yang menggosok-gosokan jarinya yang berarti ia sedang ragu-ragu
“Sen, lo kenapa?” tanyaku kemudian
“gue yang harusnya Tanya lo kenapa” pernyataan Sena membuat Cecil dan Mikha menoleh ke arahku hampir bersamaan
“hah? Emang ada apaan sih?” kali ini Cecil yang bersuara. Memang dialah yang paling lama memproses kejadian yang ada di sekitarnya. Pertanyaan Cecil diikuti dengan tatapan Sena yang meminta kejelasan
“oke, I’ll tell you. Jangan lihat gue seperti itu. Gue ga bersalah” kataku agar tatapan mereka tidak seolah-olah sedang merobekku pelan
“Abraham temen kampus gue. Ya.. Cuma temen kok” jawabku pendek yang aku tahu pasti mereka masih meminta kejelasan lebih lanjut
“Cuma itu? You sure? Jangan bohong lah sama kita” Sena membrondongku kali ini
“oke.. sebenernya ya.. gue memang ada rasa sama dia. Tapi just for your information gue gapernah otak-atik kehidupan pribadinya karena gue pikir itu privasi, contohnya kaya gini nih. Gue aja gatau kalo ternyata dia pacaran sama sahabat gue, well di Jakarta kan gede. Gue gapernah terpikir kalo dia bisa jadian sama Candy, emang lo lo pada ada yang mikir kesana? Engga kan?” jawabku panjang lebar dengan intonasi pelan pendek dan panjang yang hampir saru karena perasaanku yang tidak keruan
“tuh kan. Gue tahu memang sebenernya lo ada apa-apa sama dia, sorot mata lo sih yang bilang kaya gitu. Lo sadar ga kalo diantara kita yang paling ga jago nyembunyiin perasaan ya elo doang Na” kata Sena
“maaf gue menjadi paling lemot dan ngga ngerti elo Na” kata Cecil pelan
“gue tau sih tapi ngga yakin gitu” akhirnya Mikha mengungapkan apa yang dia pikirkan terhadapku
“not your fault guys. Gue ga minta kalian selalu menyadari apa yang gue rasakan kok” jawabku untuk menenangkan kedua sahabatku yang mudah parno
“jadi sekarang gimana?” Tanya Sena sambil menatapku lekat
“hmm let everything go? Apalagi yang bisa gue lakuin?” tanyaku balik
“nggak ada untuk sekarang. Kalo lo mau melupakan ya it’s up to you. Kita pasti dukung kok” Jawab Sena sambil melihat ke dua sahabat yang lainnya. Dua-duanya mengangguk pada apa yang Sena katakan
“hm okay, gue juga memang gatau mau gimana mengadapi Abraham lagi dengan cara yang berbeda setelah kejadian ini” kataku pelan
Setelah kejadian itu sikapku memang berubah terhadap Abraham. Aku hanya menjawab kalimatnya dengan dua kata atau terkadang malah hanya satu kata. Aku tidak tahu apa yang salah denganku… hanya saja semua ini berat.
“hei, hati-hati” Abraham menarik lenganku pelan dan setelah kusadari tembok di depan keningku hanya berjarak beberapa senti
“eh.. iya haha. Gue ga merhatiin jalan” aku tertawa canggung, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan saat ini
“mau kelas ya?” tanyanya kemudian sambil melirik kertas-kertas yang aku dekapkan erat pada dada
“iya. Nih mau ngumpulin makalah” jawabku sambil mengacungkan makalah yang kuketik hampir 7 hari 7 malam
“goodluck buat nilainya nanti. Semoga aja IP lo semester ini bagus kaya semester kemarin” katanya sambil tersenyum. Senyuman yang aku ingin kutuk karena terlalu manis sehingga membuatku seperti terkena diabetes
“baik banget pake doain gue segala. Makasih ya. Dan Bram.. bisa kurang-kurangin senyumnya ngga? Gue bisa mabok kalo liat senyum lo terus terusan hahaha” jawabku sambil tertawa dan meninggalkannya yang mematung seperti orang bodoh
                Mungkin setelah ini memang let everything go adalah hal terseulit setelah mata kuliah faal yang sedang aku ambil di semester ini. Mungkin, ada suatu rencana mengapa aku dipertemukan olehnya. Karena rencana Tuhan memang misterius dan aku sebagai manusia tidak dapat menebaknya. Mungkin untuk saat ini, aku hanya perlu usaha maksimal. Semangat!.