cerita : Fantasy


“this isn’t real”

                Last night I dreamt about something strange

“Ya! Jazz!” seseorang memanggilku dan kurasa semuanya akan berantakan
“hm? Apa?”
“yaelah masih pagi aja udah bete, plis deh mau sampe kapan?”
“sampe kapan? Sampe lo diem dan nggak gosip depan muka gue”
“ah Jazz, oh iya lo tau nggak ada anak baru yang mau masih sini loh”
“terus? Kenapa emangnya? Penting gitu buat gue?”
“ih! Gue kan Cuma nanya”
“Yaudah gue bilang jangan ngegosip”
“katanya sih cowo gitu! Gue harap dia ganteng”
“lo gue lempar sepatu beneran deh”
“iya iya ampuuuun”

                Ini tuh masih pagi eh tapi mbak gosip yang satu ini alarmnya udah nyala, alhasil gosipin cowo nggak jelas gitu dan yah siapa sih peduli kalau ada murid baru atau nggak, yang penting hidupku masih tentram, sampai akhirnya hidupku benar-benar terganggu.
               

“nama saya Leonardo Nakahara”
dan kemudian seisi kelas ribut oleh bisikan para teman-teman perempuanku seperti mereka baru menemukan mangsa. Mereka berbisik “ih ganteng” “ih keren” tapi untukku tidak ada bedanya dengan murid laki-laki disini, biasa saja. Ya jika ingin benar-benar diakui dia memang keren dan lumayan dengan kacamatanya itu. Aku bosan mendengar perkenalan dirinya, aku menguap sangat lebar, kemudian aku melipat kedua tanganku diatas meja dan merebahkan kepalaku diatasnya, lagipula.. guru tidak akan melihatku kan?aku duduk di bangku ke dua dari belakang. Belum beberapa menit aku mendengar kata-kata “itu dibelakang” apa halusinasi ku saja? Aku mengangkat kepalaku dan kemudian dia berjalan ke arahku,spontan aku berteriak “ngapain lo?!” dan memicu pandangan sinis dari teman-temanku. “mau duduk disebelah lo lah emang keliatannya gue mau ngapain?” ini manusia satu mungkin memperhatikanku sejak tadi karena aku tidak menyimak perkenalannya , lagipula aku tidak tertarik. Mulai sekarang my classmate , my enemy.
Oke tadi itu flashback hal pertama yang membuat hidupku mulai memasuki area tidak aman. Hal kedua , sejak duduk dengannya aku merasa diperhatikan, cara ku menulis, memperhatikan guru, membaca buku sampai-sampai meraut pensil pun diperhatikan, ini manusia gila atau apasih. Ketiga, dia selalu bertanya hal-hal yang dia sudah tanyakan sebelumnya, bertanya perpustakaan ada dimana, kantin, laboratorium dan itu semua membuat aku harus membuatkan daftar tempat dan letak sampai rutenya. “tapi tanpa sadar itulah yang akan kamu ridukan ketika dia tidak ada di dekatmu lagi, ketika kamu mengucapkan kata yang salah, kamu akan pergi”.

“AAA!! Jazz itu kaka kelas yang gue taksir!”
“itu? Yang mana sih?
“yang itu raket biru”
“mmm, baju merah?”
“iya!dia keren ya”
“iya keren tapi...”
“kenapa?”
“itu temen baik kaka kelas yang gue taksir”
“lo naksir yang mana?”
“itu yang pake baju biru tua.. dan celana coklat”
“wow”
“kenapa? Selera lo tinggi banget ckck”
“haha, gue Cuma naksir aja kok nggak lebih”


                Kira-kira seperti itu aku menyebutnya “naksir” padahal dari SMP aku sudah tertarik dengannya tapi saat itu aku berpikir aku tidak bisa terlebih lagi dia sudah punya pacar, aku pernah melihat mereka jalan berdua, satu kali di mall dan aku berpikir mereka tidak akan putus karena pada saat aku melihat mereka, mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan dan ya sudahlah. Aku tidak berharap.  Dan ini satu hal yang aku tidak tahu sejak kapan Leo ikut tennis?!. Matakku melebar mencari kepastian apakah benar aku melihatnya atau tidak dan mataku mengatakan ini 100% benar.


“hai”
“em hai”
“ternyata ekskul lo tennis”
“lo sendiri kenapa ikut tennis?”
“gue emang suka main tennis”
“Oh” .Dalam hatiku, OH TUHAN HARUSKAH AKU BERTEMU DENGANNYA SETIAP HARI?!!. Aku ingin menghakhiri tennis ini dengan cepat, setiap kali aku beristirahat aku selalu memandangi jam tanganku berharap waktu lebih cepat, paling tidak betah melihat cowok sok kegantengan ini, lihat saja mata kaka kelas perempuanku tidak dapat berhenti menatapnya. Setelah tennis aku merencanakan pergi ke perpustakaan, kepalaku penat oleh pelajaran selama seminggu ini, aku ingin membaca buku yang menarik.


“siang mba kika” sapakku sambil tersenyum
“eh Jazz tumben kesini”
“iya nih mba aku pusing sama pelajaran jadi aku cari sesuatu yang menarik aja, oh iya ada buku baru yang seru nggak mba?”
“oh itu ada di rak kiri kedua ya itu baru semua, minggu ini baru aja dikirimin”
“oke, makasih ya mba”

                Aku menuju ke arah rak buku kedua, mataku berbinar-binar semua buku ini menarik mulai dari novel sampai pengetahuan, dan ada satu yang aku heran mengapa ada buku lama disini? Aku mengambilnya dari rak, bukunya sudah agak kusam dan rapuh “you never get what you want” judul buku aneh dengan sampul polos berwarna ungu tapi kupikir ini seru. Aku membawanya ke meja.              Kalimat pertama pada buku ini aneh “kamu nggak akan pernah lagi mau untuk baca buku ini” buku ini sama sekali nggak berniat promosi. “apa kamu pernah berfantasy tentang sesuatu? Aku sering. Suatu kali aku pernah mengucapkan satu permintaan tetapi permintaan itu tidak pernah terkabulkan justru apa yang aku tidak ingin itu malah terjadi, mungkin tidak terjadi denganmu. Tapi aku tidak menjamin jika setelah ini kamu mengalami hal yang sama, maka dari itu jika kamu sudah siap dengan tantangan yang akan terjadi setelah bab pertama ini, kamu boleh membaca bab berikutnya tapi jika tidak, lebih baik kembalikan buku ini ke tempat semula kamu menemukannya.” Oh God buku apaan sih ini , berniat nakut-nakutin? Atau kutukan? Aku jelas tidak percaya.

“mba kika, aku pinjem buku yang ini ya?”
“coba lihat” mba kika mengambil buku itu dari tanganku
“boleh kan mba?”
“ini buku apa ya? Perasaan mba nggak pernah lihat buku ini sebelumnya”
“ah masa sih? Ini ada di rak kedua kok, keselip”
“oh, boleh deh mana kartu kamu?”
“ini mba” kataku sambil menyerahkannya



                Saat yang sama dan jam yang sama setiap pagi, duduk di kelas membaca buku, aku masih asyik menatap buku yang aku pinjam kemarin
“pagi”
“oh?pagi”
“baca apa?”
“jangankan elo, gue aja ga tau”
“jutek”
“apa lo?!”
“tenang kali tenang, lo kaya gitu lama-lama suka loh sama gue”
“ga akan pernah! Walaupun di dunia ini tinggal kita berdua!”
WUUUSH! Sesuatu terjadi pada buku itu, angin keras membuat semuanya berserakan, aku menutup mataku begitu pula dengan Leo.
“Leo?”
“ya?”
“lo ngerasa ini aneh ga sih?”
“apa?”
“itu” kataku menunjuk sesuatu
“aneh”
aku dan Leo berlari ke koridor kelas, sesuatu terjadi. Semua orang berlalu-lalang seperti biasa tapi, tidak ada yang menyadari keberadaan aku dan Leo.
“ana! Ana!” aku berteriak memanggil Ana yang berdiri di ambang pintu kelas sebelah, aneh aku merasakan keadaanku tidak terlihat
*krrriiiiing* bel sekolah berbunyi dan aku memasuki kelas terburu-buru

-tubi kontinyuuuu~ wahaha-





“hari ini aneh”
“maksud lo?” entah sejak kapan aku duduk berdua dengan Leo di taman sekolah
“aneh, lo ngerasa ga sih? Gue ngerasa invisible”
“gue engga tuh.. aduh!” jitakan keras mendarat mulus di kepalanya
“ah elo tuh apa sih yang lo sadar selama ini hah? Emang lo pernah tau setiap hari jumat gue pake softlens apa? Setiap hari apa aja gue pake sepatu merah? Lo ga tau kan? Huuh” aku menghela napas panjang sambil menatap bunga kuning di depan ku
“gue tau kok, lo pake softlens setiap hari jumat dan warnanya hijau, lo pake sepatu merah setiap hari selasa sama rabu, lo selalu bawa kipas lo setiap lo ada kursus, lo selalu kesel kalo ngeliat kaka kelas lo itu ngomongin tentang cewenya, iya kan?”
aku langsung melongo memandangnya
“ternyata lo perhatian juga, gue pikir lo memang orang yang ga ada hatinya” aku langsung menunduk
“udah ah gue mau pulang nih, lo mau pulang apa nginep aja sekalian di sini?”
“ikut”
“ke rumah gue?”
“ikut jalan lah!”

Bab 2.
Apa kamu sudah merasa kesepian sekarang? Apa rasanya? Ga enak? Kehilangan teman dan malah terjebak dengan orang yang justru tidak kamu sukai. Berjuanglah aku pun begitu dulu, kamu tidak perlu merasa tidak beruntung, mungkin sekarang tidak tapi nanti kamu akan berterima kasih. Ingat, jadilah gajah jika kamu sudah keluar dari permainan ini.

“OH GOD, permainan apa lagi ini?” kataku tak sabaran sambil menutup buku “yah walaupun hampir dari kata-kata itu benar, tapi untuk apa aku merasa beruntung? Ah nantinya juga aku tidak akan merasa beruntung” aku melipat kedua tanganku di atas meja, ini benar-benar aneh. Tiba-tiba handphone ku bergetar, siapa ini? Menelpon di hari bebas seperti ini
“halo?”
“Jazz, bantuin gue”
“kenapa lo?”
“udah ke rumah gue aja”
“alamatnya?”
“nanti gue sms”
*klik* telepon diputus
pesan singkat kemudian masuk berisi alamat rumah Leo. Apa ini? Apa lagi yang akan dia lakukan sekarang? Sangat gila! Ah terus saja kerjai aku! Gerutuku dalam hati




“Leo?”
“Jazz, masuk aja”
aku di dalam rumah Leo, interior rumah dengan gaya minimalis dengan warna yang soft sangat memanjakan mataku
“Leo, orangtua lo mana?”
“pergi”
“ohh”
aku masuk kedalam kamar Leo, benar-benar kamar laki-laki tapi ini lebih baik, benda sesuai pada tempatnya.
“lo mau minta bantuan apa?”
“lo tau ga sih gue punya cewe?”
“HAH?! APAAN?! PACAR?”
“santai kali, iya gue punya pacar”
“ga tau eheh”
“tuh kan terbukti , elo yang ga peduli”
“maap ya maap”
“bentar lagi cewe gue ulang tahun, kado yang bagus apa ya?”
“jadi lo nyuruh gue kesini Cuma buat ini?”
“bukan, gue minta lo temenin”
“maap ya, lo tau sense of girly gue tuh nol persen”
“masa? Kenapa lo masih pake hekter warna ungu”
“mwo?! Tau darimana lo gue punya hekter ungu?”
“tuh kan, yaudah sense of girly lo itu ga nol”
“iya iya terserah, mending lo beliin dia boneka super besaaaaaar bentuk binatang, cewe itu suka teddy bear umumnya, tapi kalo gue sih suka.. hmm.... panda! Haha”
“mau temenin gue beli ga?”
“duh, gue ga tau nih beli dimana boneka gituan, kalo ga kita pesen online aja deh, mana komputer lo?”
“pake laptop aja tuh” katanya sambil menunjuk laptopnya. Aku menuju laptop tersebut, dan kemudian membuka dan menyalakannya
“Jazz, gue ke dapur ya, ambil minum. Lo mau minum apa?”
“apa aja deh terserah”
aku mengutak atik komputernya, setelah beberapa detik Leo menutup pintu kamarnya, aku merasa semua ini hampa, seperti ada yang melompat pergi dari hatiku, apa ini? Aku tidak fokus menatap layar laptopnya. Aku ingat buku itu “mungkin sekarang belum beruntung tapi nanti” apa itu maksudnya
*drrrt* telepon genggam Leo bergetar
beberapa detik kemudian
*ting*
seperti ada chat masuk, aku mengecek messengger Leo
“Leo! Bunga!! Telepon gue sekarang kalo lo udah terima chat ini!”
di chat itu tertulis ‘Bunga’ hmm apa ini pacarnya Leo? Andi? Temen lamanya?
“Jazz, ini minumnya” seketika Leo muncul dibelakangku
“itu chat dari andi”
“hah?!” Leo langsung menyambar handphonenya dengan kasar dan menekan tombol dengan cepat dan langsung tersambung dengan orang yang ada di seberang sana
“iya gue kesana! Sekarang! Rumah sakit mana? Oh oke” sambungan telepon pun diputus.
“Jazz ayo!” Leo menarik tanganku dengan cepat dan memaksaku mengikutinya dari belakang, dan seketika aku sudah ada di dalam mobilnya
“kita kemana?” tanyaku
“rumah sakit”
“kenapa?”
“Bunga, kecelakaan” tatapan Leo seolah menembus kaca mobilnya,memperhatikan jalanan yang penuh dengan kesibukan
“siapa?”
“pacar gue”
hatiku seketika mencelos mendengar apa yang dia katakan, tiba-tiba saja hujan deras turun, membuat penglihatan menjadi buyar. Aku tahu itu tidak tapi kalo seandainya iya, bagaimana? Apa aku salah?

Aku berdiri di depan ruang bertuliskan UGD, Leo terus bolak balik tidak keruan karena kondisi kecelakaan parah yang dialami Bunga. Aku tidak pernah menyangka akan berdiri di depan ruang ini seperti yang terjadi di film.
“Leo” Leo menghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya menatapku
“ya?”
“sampe kapan lo bakalan mondar mandir gitu?”
“gue gabisa tenang,Jazz”
aku memutuskan untuk duduk di kursi yang berada di depan ruang tersebut. Aku teringat akan buku itu lagi, buku misterius. Setiap bab hanya memuat inti yang aneh, bahkan ketika aku membacanya, aku pun tidak mengerti maksudnya. Akiu baru ingat, invisible itu hilang ketika aku pergi dari sekolah! Ah akhirnya aku nyata kembali, aku tersenyum sendiri. Aku memutuskan mengeluarkan buku itu dari dalam tas
Bab 3
apakah kamu akan berterimak kasih sekarang? Aku rasa kamu bahkan belum menyadarinya. Tak apa. Tapi ingan setelah permainan kecil ini selesai, kamu akan merasa kesepian dan terkutuk. Kamu harus menjadi pelangi setelah hujan. Matahari ketika mendung. Buatlah hidup seseorang ceria dan berwarna karena hanya pelangi yang dia punya, yaitu kamu. Aku sudah merencanakannya, maka terimalah.

Oh Tuhan apalagi kali ini rencana buruk? Rencana baik?

“keluarga pasien?”
“oh bukan saya temannya”
“maaf sekali dek, kami sudah berusaha sekuat tenaga tapi kami tidak berhasil” buku yang di genggamku seketika jatuh mendengar obrolah dokter dengan Leo.
“maksud dokter...?”
“ya, kami tidak berhasil” dokter itu pun menghembuskan napas berat dan tertunduk sambil menepuk bahu Leo

Aku berdiri mematung mendengar semuanya, apa ini? Apa ini rencananya? Aku terus bertengkar dengan pikiranku sendiri. Untuk apa lagi ini? Siapa yang tega? Hah?! Siapa?!. Aku menghampiri Leo, menepuk bahunya pelan, melihat wajahnya yang nelangsa seperti itu membuatku mengubah pikiranku, Leo bukan seseorang yang menyebalkan, bukan sekarang.
sepi, diperjalanan pulang dengan perasaan seperti ini serba salah. Aku bingung apa yang harus aku  lakukan.
“Jazz, gue salah ga sih?”
“eh? Salah apa?”
“gue kurang merhatiin Bunga”
“ga kok, lagipula lo juga ga tau kalo bakalan kaya gini, ini udah ada jalannya”
“lo percaya sama kaya gitu?”
“percaya, gue juga percaya sama keajaiban”
“contohnya?”
“gue bisa ketemu sama kaka kelas gue itu, itu keajaiban” aku tersenyum
“lo bahkan menikmati setiap detik hidup lo ya”
“iya dong! Buat apa gue sedih?” sekilas aku melihat pelangi, apa ini yang dimaksud dengan ‘menjadi pelanginya’?

Sudah larut dan akhirnya Leo mengantarku pulang, semoga mama tidak khawatir.
“LEO-SSI! HWAITING!” kataku seraya mengepalkan tanganku semangat
“gumawo” dia tersenyum semanis permen kapas, ah bahkan rasanya aku mencair sekarang
“inget kata gue ya! Kejaiban!annyeong” kataku sambil melambai. Leo melaju dengan mobilnya dan semakin samar menjauh.

                Hari ini pemakaman Bunga, aku tidak ikut. Aku terlalu takut karena teringat tulisan pada buku itu, aku merasa bersalah. Bagaimana ini? Apa aku akan melanjutkan bab seterusnya atau aku akan mengembalikan buku ini? Tapi akhir-akhir ini ada yang berbeda, mama tidak berbicara denganku. Ah, apa ini karena buku itu? Invisible ku tidak akan hilang sampai buku ini selesai? Begitukah maksudnya? Ah michigeutta!. Apa aku harus menjadi pelangi Leo? Ah, itu tidak masuk akal! . aku terus memandang langit-langit kamar. Lagipula siapa yang akan suka dengan orang seperti Leo hah?. Atau aku harus memberitahunya tentang buku ini? Atau aku hanya diam saja? Ah, aku harus memberitahunya. Tapi, bukan dalam waktu dekat ini. Aku tahu dia sedih, maka aku harus menghiburnya.

To: Leo

Leo-ssi ayo kita pergi keluar! :D

Aku mengirim pesan singkat kepadanya, semoga dia mau.

From: Leo

Kemana?

Aaaah dia mau!

To : Leo

Taman kota atau perpustakaan? Mana yang lo suka?

From: Leo

Taman kota

To: Leo

Kita ketemu jam 3 disana. See you!

Setidaknya aku bisa menghiburnya sedikit walaupun dia sekarang masih merasa berkabung tapi mau bagaimanapun dia harus bisa melewati ini semua. Karena Leo yang aku kenal adalah Leo yang menyebalkan haha. Aku tertawa dalam hati.


Jam menunjukkan pukul 3 sore, aku menunggu di bangku taman. Tidak kusangka taman kota sore ini akan seramai ini, aku melihat banyak orang yang lalu lalang, aku tidak tahu sejak kapan aku tidak pernah ke tempat ini lagi.
“hai Jazz” sorot matanya sangat lemah bahkan jika aku dorong mungkin dia langsung tersungkur jatuh
“hai”
“tumben lo ngajak gue keluar”
“iseng aja, ayo!”
aku menariknya ke sebuah tempat permainan
“Leo-ssi, yang beruang itu lucu!”
“lo mau yang itu?”
“mau, eh engga, eh gatau”
“haha yaudah gue kenain deh” melihatnya tertawa seperti sebelumnya hatiku sejuk. Dalam satu kali tembak Leo mengenainya
“woa! Daebak!” aku membulatkan kedua mataku
penjaga permainan itu memberiku boneka beruang coklat kecil memakai pita di lehernya dan memberiku tanpa sepatah kata pun, tapi aku sudah terbiasa dengan ini , berinteraksi hanya dengan Leo
“woa! Kyoptaaaaaa!”
“ambil aja, lo yang mau itu kan”
“gumawoyo!”
“ne”
Aku sudah berputar-putar disini sekitar 2 jam, dan aku memutuskan untuk membeli permen kapas pink yang dijual di pintu gerbang tadi
“oia gue gatau lo suka manis atau ga hehe”
“ha? Ah, ga kenapa-kenapa kok”
“naik bianglala yuk!” aku mendahuluinya berjalan. Tanpa persetujuan darinya, aku langsung memesan tiket.
ternyata memutuskan untuk naik bianglala ini adalah keputusan yang salah. Akhirnya, aku hanya berdiam diri, begitu pula dengan Leo.
“Leo, gue gatau lo bisa bahasa korea”
“lo tuh ga peka kan, mana lo tau kalo gue ngerti bahasa korea”
“huh” aku mengerucutkan bibirku
“gue juga ga pernah tau kalo lo orang yang baik”
“hah? Naega wae? Ah anioo” Aku langsung menatap wajahnya
“lo tuh jutek terus sama gue, kesannya malah kaya ga suka kalo gue idup”
“iya, emang bener kok apa yang lo bilang” tampangku ku buat se serius mungkin
“ah benar dugaanku”
“ahahahaha! Gue bercanda. Apa yang mau lo lakuin sekarang?”
“hm? Ga tau. Gue masih kepikiran dia”
“aah, gwenchana. Semua baik-baik aja kok, ini baru, jelas lo masih belom bisa nerima. Untuk dia mungkin lo udah ngelakuin yang terbaik buat dia, dia tenang kok disana. Oh iya gue tau ini saat yang ga tepat tapi..”
“tapi apa?” potongnya langsung
“ini” aku mengeluarkan sebuah buku “buku ini yang bikin semuanya kacau, semua yang kita alamin ditulis di buku ini”
“lo dapet dari mana?” Leo mengambilnya dan langsung membukanya cepat
“perpustakaan biasa gue baca”
“ooh, lo udah baca selanjutnya?”
“hm, belum gue takut hal-hal aneh terjadi lagi akhir-akhir ini, jadi gue pending untuk baca”
“baca aja, kan masih ada gue yang mau nolongin lo”
“oh?” aku langsung membelak kaget, orang seperti dia bisa juga baik seperti ni haha.
“wae?”
“anio, tapi, buku ini itu sesuai sama kehidupan yang kita jalanin sekarang, kalo gue baca bab berikutnya ya ini bakalan terjadi sama kita, lo ga apa-apa?”
“ga, emang gue harusnya gimana?”
Tidak terasa bianglala itu pun sudah sampai dibawah, aku langsung turun dan berjalan duluan, tiba-tiba saja aku bingung dengan perasaanku sendiri, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini, setelah semua hal ini.

Bab 4
This ih almost the final, what is your choice?. Kamu harus segera memilih sebelum bab dari buku ini habis, sekarang jalan itu sudah terbuka lebar, kamu tidak perlu bertanya apa itu jalan. Kau mengetahuinya. Soal  perasaannya aku tidak bisa membantumu, aku sudah membukakan jalan, sekarang tinggal bagaimana kamu berusaha sekuat tenaga. Karena permainan ini hampir selesai.

Lagu should i confess mengalun pelan di telingaku, sesuai dengan perasaanku saat ini, aku menatap langit-langit kamarku, aku menutup mukaku sesaat kemudian menarik napas panjang, aku menghembuskannya pelan seraya melepaskan tanganku, ah jinca?eottokhe?.  Aku selalu memimpikan akhir bahagia seperti di buku atau komik tapi sekarang aku rasa aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Lagipula dari dulu aku selalu sendiri, tapi apa ini yang namanya perasaan jatuh cinta? Aku harap bukan.
drrrrt, siapa meneleponku disaat libur panjang seperti ini?
“halo?”
“Jazz, ke perpustakaan yuk”
“ne? Leo? Ngapain?”
“iya ini Leo, gue bosen. Pengin tau perpustakaan disini”
“ooh, oke. Mau berangkat jam berapa?”
“sekarang”
*tiiiiin* aku berlari membuka jendela kamarku sambil menggenggam handphoneku yang tersambung dengan Leo
“ya! Jukeosipho?” wajahku masih wajah bangun tidur. Ah! Aku sunggu memalukan
“absolutely not! Haha. Muka lo”
Aku menutup telepon genggamku dengan terburu-buru dan langsung mengganti pakaian, bersiap-siap. Aku sunggu terburu-buru. Aku berlari menuruni tangga dan aku hampir terjatuh.
“uuh Leo-ssi! Kau benar-benar merepotkan!”
“mian”
“ayo pergi sebelum gue kesel banget” aku mendengus keras
“hehe, muka lo tadi lucu kok gapapa lah! Hahaha!”
“YAAAAA!!!!!” Leo langsung menancap gas penuh dan menyetir sambil tertawa, membuatku tidak bisa memukulnya. Ini terlalu berbahaya.
                   Walaupun sekarang aku senang melihatnya seperti ini tapi, aku belum percaya dia sudah melupakan Bunga. Aku menatapnya lekat, ah sial aku tidak dapat berkonsentrasi. Aku harap dia tidak menyadarinya. Sebaiknya aku mengganti buku yang kubaca.
barisan ke 2. Ah, ini diaaa, komik yang aku ikuti keluar volume berikutnya, aku mau membacanya.
“itu apa?”
“whoa! Huuuh gue kira siapa, kaya setan lo”
“maap, itu apa?”
“komik, lo ga liat?”
“komik apa maksud gue”
“komik hiburan haha”
“kenapa suka baca komik?” katanya sambil mengeluarkan komik dari deretan komik tersebut
“kenapa suka baca ensiklopedia?”
“kok tanya balik?”
“mau tanya aja”
“soalnya itu menarik”
“begitu juga dengan gue, komik itu menarik yah walapun karakter di komik itu terlalu sempurna, tapi sekali-kali hidup di dunia fantasy ga seburuk yang lo pikirin kok” aku berjongkok untuk melihat di deretan komik paling bawah
“oh ya? Lo mau tinggal di dunia fantasy?”
“kadang mau, kadang ga”
“kenapa ga? Itu kan perfect” Leo mengikutiku berjongkok
“karena Leo” jawabku sambil menatapnya dan melanjutkan “dunia fantasy itu ga pernah ada, sesakit apapun dunia real gue lebih milih di sini di tempat yang bener-bener real” aku menatap komik-komik tersebut. Lalu aku berdiri dan melangkah pergi sambil membawa komik tersebut. Aku hampir menangis saat mengatakan real, aku tidak bisa menerima kenyataan setelah permainan ini selesai. Mungkin setelah ini Leo tidak akan mengingat apa saja yang udah kita jalanin sekarang. Aku mengatur napasku pelan. Sakit.
Bab 5
Hey this is the last chapter what whould you do?. Ini bab terakhir loh disini adalah keputusan terakhir aku punya kata-kata terakhir buat kamu. Kamu juga begitu padaku, dalam halaman terakhir itu adalah permintaan yang akan aku kabulkan dan kamu punya dua pilihan. Akan kembali ke dunia nyata dengan tangan kosong atau kembali ke dunia nyata dengan seseorang yang kamu sayangi. Keputusan itu ada di tanganmu tapi ingat aku tidak dapat membuat aku hanya membantu.
Kalimat terakhir itu apa maksudnya? Ya memang sih buku ini hanya membantu tapi ya ada benarnya juga dia tidak membuat ku menjadi jatuh cinta pada Leo dia hanya membantuku untuk meyakinkan perasaanku bahwa memang ini perasaan suka. Aku segera mengetikan nomor telepon yang aku tuju.
“halo?”
“kenapa? Tumben lo telepon gue malem-malem gini”
“eng mau tanya sesuatu sama lo”
“apa?” tanya Leo yang membuat lidahku kelu
“dunia game ini udah mau selesai, lo mau bangun dengan kedekatan kita kayak gini atau lo mau bangun dan ngeliat gue jutek kaya dulu?”
“gue mau kita tetep gini lah, gue capek tau dijutekin sama lo terus”
“haha, gue juga capek duduk sama orang nyebelin kaya lo”
“ih, gue serius”
“gue juga hahaha” tawaku pecah seketika
“jadi keputusan lo?”
“rahasia” aku langsung memutuskan sambungan telepon dengannya
aku membuka halaman terakhir, hanya kertas putih kosong, tetapi tetap saja aku harus mengatakannya.
Fajar pun menjelang dan aku terbangun saat alarm mejaku berdering keras tepat di telingaku. Aku melihat ke arah jamku. 5.00 pagi. Aku bergegas mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Aku merasa ada yang janggal hari ini entah apa itu
“Jazz! Morning!” sapa Ana menggebu-gebu
“Hai morning” ah syukurlah kehidupan normalku akhirnya kembali lagi. Aku tersenyum sambil berjalan kedalam kelas. Aku meletakkan taskku diatas kursi sambil tersenyum “ah kursiku” batinku ingin berteriak seperti itu tapi apa daya nanti aku  dikira gila. Aku segera duduk di kursi ku dengan senang dan kemudian jantungku sudah senam SKJ. Leo. Tapi perasaanapa ini? Seingatku tadi malam aku mengucapkan mantra ingin melupakannya tapi kenapa hari ini jantungku malah berdebar hebat?
“hai” sapa Leo sambil tersenyum
“hai” sapaku kalem. Ah ternyata mantra itu berfungsi, Leo bahkan tidak mengingatnya. Ah yasudahlah. Aku mengecek tasku, buku itu tidak ada? Bagaimana aku mengembalikannya? Hanya satu cara, denda.
Aku setengah berlari ketika mendengar bel pulang, aku ingin segera ke perpustakaan untuk meyakinkan bahwa aku benar-benar belum mengembalikannya. Dan sekarang disinilah aku bolak-balik mencari buku tersebut dan ternyata memang tidak ada
“mba Kika, aku ngilangin buku nih”
“buku yang mana? Kamu kan belum pinjem lagi”
“buku yang udah setengah mau ancur itu loh”
“coba kartu kamu mana? Mba liat dulu datanya”
“ini” jawabku sambil menyerahkan kartu. Mba Kika mengecek lewat komputernya. Beberapa menit kemudian ia kembali
“ga ada, kamu belum minjem buku apa-apa lagi selain komik yang terakhir itu”
“masa sih? Aku yakin banget aku pinjem buku”
“udah lah nggak apa-apa buktinya aja nggak ada di data”
“yaudah deh mba, makasih ya”
“iya Jaz”
aku kembali ke rak buku deretan dua dan mengambil beberapa komik. Dengan pasrah aku menuju kursi dan menghempaskan tubuhku. Aku membuka komik tersebut ketika seseorang menyodorkan kue lingkaran berwarna biru dihadapanku bertuliskan “girlfriend?”, aku mendongakkan kepalaku dan melihat sosok itu, Leo. Leo langsung duduk disampingku dan menatapku. Ah permainan apa lagi ini? “ini apa?” tanyaku setengah berbisik
“gue lagi nanya, tuh liat aja tulisannya”
“maksudnya apa??”
“girlfriend?” dia bertanya langsung
“anio!” jawabku sambil menjulurkan lidah
“eiiii! Jinca?”
“ne, haha” tawaku pelan
“ya!” sekarang Leo menarikku keliar dari perpustakaan
“Jazz, gue serius” suaranya normal
“gue duarius”
“Jazz”
“apa?”
“beneran nih?”
“neeeee!!”
“annyeong” katanya sambil melambaikan tangan dan berjalan pergi
“ya! Andwae! Haha” kataku sambil mengejarnya
“apa?” kali ini aku sibuk menuliskan kata di tangannku
“boyfriend?” aku menyerahkan tulisan yang ada di tanganku
“jinca?!” tanyanya padaku
“anio hahaha”
“YA! JAZZ! Kalo lo ga mau jadi cewe gue juga tetep aja lo harus mau!” katanya sambil setengah berteriak dan kemudian mengejarku.
“Leo, kok lo ga normal lagi sih? Bukannya seharusnya lo gasuka gue?”
“lo sendiri?”
“gue baru inget itu buku bilang dia itu ga bikin orang jadi suka tapi dia Cuma bantu jadi kalo orang sampe suka ya itu kan gara-gara dirinya sendiri”
“tuh lo pinter, lagipula kalo lo gasuka gue, gue cari tuh buku biar tinggal kita bedua aja yang ada di game itu hahaha” aku menatapnya sekilas
“YA! JEONGMAL BABOYA!” teriakku sambil berjalan
“michiggeutta, kalo punya cewe kaya lo" *ingin gila rasanya*  jawabnya santai
“YA!” aku memukunya keras
“aduh sakit”
“hahaha”
Kali ini happy ending, yah walaupun awalnya sedih-sedih gitu, anyway jodoh itu ada dimana aja, kapan aja, bisa terjadi di siapa aja. Tergantung usaha. Semuanya! HWAITING!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar