Love
Game
“WOAH!” jeritku
dalam hati, itu! Itu! Gimana nolaknya, udah diajakin, tapi nggak nolak juga ga
jelek-jelek banget sih
“Na?
Gimana? Ikut yuuk” ajak Meili
“yaudah
deh hehe” aku tertawa garing, gimana ini? Niatan move on, berantakan sudah
“daftar
besok aja ya, ke kelas mereka langsung”
“ooh”
jawabku sambil mengangguk
****
Aku
adalah murid SMA sekarang, tapi tidak ada perbedaannya, hanya seragamku saja
yang berubah. Mungkin satu lagi, perasaanku.
“Na,
Ayo temenin gue ke kelas mereka” Meili meminta aku masuk kedalam neraka secara
terang-terangan
“harus
sekarang? Harus gue temenin juga?”
“iya
lah! Lo juga kan mau ikutan, kenapa sih?”
“ya
ga kenapa-kenapa sih... yaudah ayo”
Meili melangkah penuh semangat 45
sedangkan aku lunglai setengah mati
“muka
lo kenapa tuh? Pucet, kaya mayat jalan”
“ga
kenapa-kenapa ehehe”
“jangan-jangan
ada kaka kelas yang lo taksir ya? Makanya lo takut ketemu dia”
“parah
lo! Kaga lah!” aku langsung Melotot ke arah Meili, yah walaupun jawaban dia
tidak seratus persen salah.
Tuh kan benqar saja, perasaanku tidak
enak, ditambah harus berdiri di depan kelas 12 Ipa 2. Mati sajalah.
“anak
baru ya? Mau masuk tenis?”
“iya
ka” jawab Meili
“bentar
ya” dia melangkah ke dalam kelas, kemudian yang kembali orang lain
“ini
kertasnya, isi nama, kelas, sama nomor handphone ya, biar gampang dihubungin”
Aku melihat mata Meili berbinar
menatap kaka kelasku yang ini, sampai-sampai dia tidak mengambil kertas yang
disodorkan
“iya
ka, makasih” aku langsung mengambil kertasnya dan menuliskan nama Meili dan
namaku, maklum aku berteman dengan Meili sejak SMP, aku sangat hapal nomor
handphone nya. Aku mengembalikan kertas itu sambil beranjak pergi
“eeh
tunggu, nanti pulang sekolah jangan lupa ngumpul dulu di kelas ini”
“ohh
iya” aku langsung melanjutkan langkahku sambil sedikit menyeret Meili
“Mei
ah! Malu-maluin lo” gerutuku sambil melihat kearahnya
“ya
maklum yang barusan lucu banget”
“lucu
apaan? Lucu gue narik-narik lo pergi dari situ?”
“yah
namanya suka pada pandangan pertama Na”
“udah
tahun 2012 ngomong masih kaya jaman batu, lebay banget”
Pulang
sekolah...
Aku langsung menuju ke kelas 12 Ipa 2,
Meili malah melarikan diri tidak datang, atau dia sengaja menjebakku, dan
sekarang aku terlihat seperti orang bodoh. Semoga saja perutku tidak melilit,
dan aku tidak kehilangan keseimbangan.
“coba
tenang duluuuuuu” ka Kat setengah berteriak di dalam kelas. Semuanya langsung
duduk dan mengambil posisi
“nah
hari ini ada pembagian kelompok, berhubung peminat tenis ini melonjak tajam jadi
senior-senior disini jadi tutor buat junior baru. Perkenalan dulu deh, saya
Kat, yang paling ujung sana ada Kim, sebelahnya Nathan, sebelahnya lagi kris,
yang ini Kevin”
DEG, jantungku seakan melompat,
perutku melilit, untung pandanganku tidak kabur haha. Dia melihat kearahku,
kenapa harus aku?!
“mulai
dari kelompok Kim dulu ya, ada Sam, Stephen, sama Gia. Kelompok Nathan, ada
Natasya, Jen, sama David. Kelompok Kris, ada Nana, Meili, sama Miki. Yang
terakhir kelompok Kevin, ada Jessi, Cika, sama Nadine. Kita punya ketua nih
tapi sayangnya hari ini dia berhalangan hadir, mungkin sabtu ini dia bisa
dateng. Jadwal tenis setiap sabtu jam 8 ya, kalo ada ekskul lain kaya Nathan,
dia ikut dance dateng jam setengah 9 aja, disini ada yang ikut dance?”
“aku sama Meili ka” kataku sambil
mengangkat tangan
“kalo
gitu, Nathan kelompoknya sama kalian berdua aja, yang tadi dituker sama
kelompoknya Kris. Udah ya fix, uang bayaran....” ka Kat masih terus menjelaskan
dan aku malah menerawang memikirkan sabtu ini, akan jadi apa aku nanti.
Lagipula ini ide bodoh darimana untuk menyetujui menemani Meili ikut ekskul
tenis.
D-Day 07.00 AM
*drrrt* handphoneku bergetar
-Meili-
Lo dimana deh? Gue udah di lobi
-reply-
Ini gue lagi jalan ke situ, tunggu
---sent----
Hari ini pertama kali aku ekskul
tenis, seumur hidupku aku belum pernah memegang raket tenis, apalagi
memainkannya, bermain bulu tangkis saja aku payah padahal raketnya tidak berat.
Jadwalku hari ini ekskul dance dan tenis, dance tidak ada masalah, tenis yang
bermasalah. Apa aku akan bertemu dengan kaka kelasku yang itu?. Entahlah.
Aku
melihat ka Nathan dari jauh, dia sudah pemanasan dan siap menari, sebaliknya
Meili malah duduk dan memandangnya penuh arti, benar-benar terlihat bodoh haha.
Tawaku dalam hati.
“Mei, lo mau bangkit terus latihan apa
mau terus melongo sampe jam setengah 9 disitu?” tanyaku meledek sambil
pemanasan
“lah? Lo kapan sampenya? Tiba-tiba ada
disini”
“lah elonya aja yang daritadi ngelamun tuuh ngeliat itu”
akumenunjuk ka Nathan dengan daguku. Aku meninggalkan Meili yang masih duduk.
“hari ini kita mau belajar koreo, tapi
sebelum itu kita belajar dasar aja dulu, mulai dari slide. Ikutin gue”
instrukturku membalikkan badannya
“satu... dua... tiga...” dia membuat
gerakan slide bolak balik dan kami semua mengikutinya.
08.30 AM
“Mei, berangkat sekarang ga?”
“emang udah jam berapa?”
“nih” kataku sambil menunjukkan jam
tangan ungu yang aku pakai
“yuk”
“emm, ka Nathan lo aja ya yang ajak,
dah gue duluan” aku langsung berdiri pamit ke teman-temanku dan lari menuju
lapangan meninggalkan Meili yang masih terbengong-bengong.
Wow,
lapangan rame dan pemanasan sudah dimulai, tanpa pikir panjang, aku meletakkan
barang-barangku dan masuk menuju lapangan.
“kenapa
telat?” tanya pelatih
“saya tadi latihan street dance
dulu”
‘ohh
yang bareng Nathan itu?”
“iya
pak”
“Nathan
nya mana?”
“lagi
jalan sama temen saya juga”
“yaudah
kamu berdiri dibelakang yang itu tuh” kata pelatihku yang biasa dipanggil pak
Pei. Aku langsung menuju tempat yang ia tunjuk.
Aku mengikuti gerakan, yang dilakukan
pak Pei, gerakan dasar. Forehand.
“ayun
dari belakang pundak sampe pergelangan tangan yang megang raket ada diatas
pundak kiri, siku jangan ditekuk. Lurusin aja”
Aku berusaha mengikutinya, aku tidak
mengerti. Seumur-umur aku main bulu tangkis aja susah, apalagi ini. Woah bisa
gila aku. Baru pemanasan seperti ini saja, tanganku sudah pegal bukan main.
“NA!
Tega banget lo” tiba-tiba Meili sudah berdiri disampingku
“hehehe”
aku terkikik geli sambil tetap melakukan pukulan forehand
“gue
gatau mau ngomong apa tau ga sih sepanjang perjalanan ke sini”
“lo
harusnya berterimakasih sama gue tau, kalo gue ga pergi duluan lo gabisa tuh
berduaan gitu”
“ya
tapi ga sekarang juga” Meili menatapku penuh amarah
“lebih
cepat lebih baik. Udah jangan bawel, pemanasan dulu”
*krek* pagar lapangan tenis terbuka,
dan kebetulan aku sedang melihat ke arah belakang. No way.
“Kevin,
kenapa telat?”
“alah
kaya gatau dia aja” kak Nathan nyeletuk dengan enaknya
“hehe”
“cepet
pemanasan” pak Pei menyuruhnya langsung tanpa basa basi
Aku berlari kecil keluar lapangan, dan
duduk di sisinya. Kaka kelas yang dulu Cuma bisa aku liat pas pulang sekolah,
stalk diem-diem sekarang dia ada di depan aku. Aku masih tidak dapat percaya
apakah ini mimpi atau kenyataan. Aku tersenyum seraya angin berhembus membuat daun-daun
kering berjatuhan di depanku. “woaah kaya di komik” seruku dalam hati sambil
memperhatikan pohon yang mengelilingi lapangan.
“Nana,
ayo” Pak Pei memanggilku untuk melakukan pukulan di lapangan.
Aku berlari ke tengah lapangan dan
mengambil posisi ‘siap’
“
3 bola, yang pertama disitu, kedua maju, ketiga balik lagi. Siap ya”
aku menjawabnya dengan menggangguk
kemudian berlari setelah bola dilemparkan
*pok* *pok* *pok* “aku lumayan juga, 3
bola dan semunya terpukul haha” pujiku dalam hati sambil tersenyum tepat saat
aku melihat Ka Kevin, mulutku langsung rapat tertutup. Aku terlihat bodoh.
Minggu ke-2
Aku mulai semangat datang ekskul
sekarang. Selain tenis itu seru, aku bisa ketemu kaka kelasku itu haha. Tanpa
kusadari aku tersenyum sambil jalan ke arah lobi.
“senyam
senyum, kesambet mampus lo”
“ih
gasuka aja lo, biarin aja”
“gue
makin curiga lo suka sama kaka kelas yang pake baju biru itu kan?”
“hmmm
ka Kim?”
“bukan,
yang satu lagi”
“hmm
siapa ya?”
“dari
K juga itu... Kevin! Iya kan?” Meili memasang wajah meledeknya
“iya,
kenapa?” aku balik menatapnya tanpa ekspresi
“Na,
jangan ngeliat gue kaya gitu lah. Gue lebih serem lagi kalo lo begitu”
“ini
muka paling biasa” aku masih menatapnya
“jadi
lo beneran suka sama kaka kelas yang itu?” sekarang tatapan Meili berubah
menjadi tatapan ingin tahu, senang, penasaran, semangat
“iya,
kenapa sih?” aku tidak sadar, aku mengatakannya lumayan keras dan sekarang kami
berada di lobi, tempat street dance latihan. Beberapa orang yang ada di lobi
melihat ke arahku dan Meili. Aku langsung tersenyum sambil melambai ke arah
mereka bersikap seakan tidak ada apapun yang terjadi.
08.30 AM
Seperti biasa aku menuju lapangan
tenis tapi kali ini aku bertiga, bersama Meili dan Nathan. Ternyata Meili
mencegatku yang mau kabur seperti minggu lalu, minggu depan aku harus sudah
menyiapkan strategi baru untuk lari dari mereka berdua.
Aku
mengambil raketku dan langsung berbaris di lapangan. Seperti biasa, sebelahku
Meili.
“Kevin
kemana dia?” pak Pei tiba-tiba buka suara
“ah
bapa kaya ga tau Kevin aja, palingan dia males kaya biasanya” ka Nathan
langsung menjawabnya
Aku menatap Meili seolah sedang
bertanya tapi Meii juga balik memandangku seolah mengatakan ‘tidak tahu’.
Padahal ini baru minggu ke-2 tapi dia sudah absen, benar-benar malas atau
memang sifatnya begitu.
“si
Kevin kira-kira ngapain ya? Kaga dateng tenis mulu”
“pacaran
kali haha” ka Kris nyeletuk yang spontan membuatku menahan napas tidak percaya.
Apa tadi? ‘pacar’? ah yang benar saja ka Kevin sudah punya pacar
“paling-paling
ge tidur, si Flo mana mau diajak jalan, lagian bukannya dia udah putus ya?” ka
Nathan ikut berkomentar. ‘Flo’? putus? Aku bahkan gatau kalo ka Kevin punya
pacar.
***
Mataku
terus bergerak cepat sambil mengamati layar laptopku, jariku sibuk menekan
tombol mouse. Bener ini orangnya pasti ga salah lagi, ya ga aneh sih ka Kevin
mau sama dia, cantiknya keterlaluan haha. “tapi, kenapa mereka putus gitu?
Padahal mereka cocok kok” tanyaku dalam hati sambil mengerutkan dahi.
“Mei,
lo udah tau belum ka Kevin putus sama pacarnya?” tanyaku setelah duduk di
bangku kantin
“hah?!
Kapan? Gue gatau tuh, lo tau darimana?”
“gue
tau dari kaka kelas sih”
“oh,
pacarnya kaya apa? Cantik?”
“kelewat
cantik” jawabku sambil menyendok makananku
“lo
ada fotonya?”
“ga
ada lah, emang gue pacarnya. Kalo mau cari aja nih di facebook” aku
mengeluarkan handphone dan mengetik nama
“wooah!
Bener emang cantik, ya tipe-tipe kaka kelas kita gitu” kata Meili sambil
mengotak-atik handphoneku setelah gambar-gambarnya muncul
“ga
gue banget deh, beda jauh” kataku sambil mengaduk makanan, karena tiba-tiba
nafsu makanku hilang
“ya
terus? Emang lo beneran naksir berat?”
“ga
sih hehe” aku menatap makananku, sedangkan Meili malah mengeluarkan pandangan
menerawang seakan sedang meramal
“ya
kalo lo bukan tipe dia, gue bakalan bantuin lo se maksimal mungkin lagipula apa
salahnya suka sama dia? haha” Meili tertawa lepas sambil mengembalikan
handphoneku.
Tiba-tiba aku terpikir jika Meili itu
malaikat haha. Aku mengulum senyum.
“ke
kelas langsung aja yuk” ajakku sambil berdiri
“ga
diabisin?” tanya Meili heran sambil menatap piringku
“ga
ah, nafsu makan gue ilang” jawabku sambil jalan pergi dan kemudian Meili
menyusulku meninggalkan kantin
Minggu ke-3
*drrt* handphone ku bergetar terus,
kupikir itu alarm tetapi setelah kulihat
“Na, lo dimana sih?”
“ha? Kenapa?”
“udah jam berapa nih?”
“delapan” jawabku santai
“HAH?! DELAPAN??!!!” tiba-tiba aku
berteriak dan melotot
“tuh kan dasar kerjaannya begadang
mulu, udahlah gausah street dance, kita ketemu di ternis aja” Meili menjawabku
santai sedangkan aku sudah kocar kacir bangun dari tempat tidur dan
mengaduk-aduk lemari pakaian
“yaudah bilangin aja ya, makasih Mei
hehe” aku berhenti melakukan aktivitas instan, kemudian berjalan menuju kamar
mandi
8.30 AM sekolah
Aku berjalan menuju lapangan tennis.
Pagi ini awan kumulus setia menemani perjalanku dari rumah sampai sekolah. Aku
baru teringat, aku membawa kamera instaxku, tanpa pikir panjang aku
mengeluarkannya.
*klik* beberapa saat kemudian
kertasnya keluar, aku meniupnya agar gambarnya cepat muncul. Aku suka
gambarnya.
Aku
membuka pagar besi lapangan tenis perlahan, ternyata hari ini tidak sesuai
dengan dugaanku. Dia datang. Baju biru tua, celana se-lutut berwarna coklat,
sepatu putih sambil memegang raket biru-putihnya, dia selalu memakai setelan
baju itu, atau mungkin itu memang seragam tenisnya.
“tumben
lu dateng? Kalo udah putus baru rajin ya haha”
“gue
dateng salah, ga dateng salah”
“sori,sori
Cuma bercanda aja haha”
Aku memperhatikan mereka berdua,
mendengar permbicaraan. Sebetulnya aku benar-benar tidak mengerti kenapa mereka
putus, padahal selama ini ka Kevin tidak menunjukkan tanda-tanda keresahan, dan
satu lagi yang aku heran. Kenapa mukanya bahagia gitu? Bukan seharusnya dia
sedih ya?.
“mau
sampe kapan lu mematung gitu?” tiba-tiba Meili muncul dari belakangku
“baru
juga sampe, lagian siapa yang mematung, gue mau naro tas” sangkalku
“yaudah
cepet, langsung masuk lapangan” Meili
langsung berjalan memasuki lapangan.
11.00 AM
“sekarang
main game, pilih pasangan masing-masing yang mau main” pak Pei memberitahukan
kaka kelas 12
Aku meliriknya dari sudut mataku,
ternyata pasangannya dengan ka David. Aku tersenyum samar melihat mereka berdua
bercanda. Mereka berjalan menuju lapangan, karena game akan dimulai.
2 bulan kemudian...
Aku
berdiri, bersiap untuk game tenis. Kelas 10 sekarang sudah bisa ikut game
seperti yang dilakukan kelas 12. Aku bahkan belum siap untuk bermain, aku rasa
aku tidak bisa.
Pak Pei menggenggam bola tenis dan
menjatuhkannya tepat ditengah-tengah kaki kami yang berbentuk ‘O’. Bolanya
memantul 1 kali, 2 kali, 3 kali dan tap bolanya jatuh diatas sepatuku.
“berarti
bola kedua ini jadi pasangan Nana main nanti” kata pak Pei sambil menjatuhkan
bola kedua, aku menunggunya dengan jantung berdebar. 1 kali , 2 kali, 3 kali, 4
kali, dan tap bolanya jatuh diatas kaki Meili.
“waaah!”
Meili memekik sambil berlari kecil kearahku
“kira-kira
lawan kita siapa ya? Lanjutnya setelah berdiri di sampingku sambil menatap anak
tenis
“gatau”
jawabku
Bola ketiga dijatuhkan, 1 kali, 2
kali, 3 kali, 4 kali dan tap jatuh diatas kaki Ka Kevin. Jantungku langsung
jumpalitan ga keruan, antara senang, kaget, dan perasaan ‘mati gue’. Benar saja
bola ke empat jatuh diatas kaki ka Kim, sekarang perasaan ‘mati gue’ lah yang
lebih menonjol karena dua-duanya kelas 12 dan kemampuan bermain tenisnya,
diacungi 4 jempol kalo bisa.
“
mau berapa game? 4 aja ya” kata pak Pei. Aku mengeluarkan tatapan ‘ terserah’
karena mau berapa game pun aku dan Meili akan kalah.
“lo
sanggup Na?” tanya Meili tiba-tiba
“sanggup
apanya?” tanyaku sambil berjalan kearah lapangan sebrang
“
ngalahin mereka lah! Ngapain lagi emangnya?” tanya Meili setengah sewot
“ga”
jawabku datar
“ah
gila lo”
“lah
emang iya” jawabku sambil mengambil posisi
Sekarang perasaan ‘mati gue’ tambah
menjadi-jadi melihat ka Kevin bersiap service ke arahku. Aku menelan ludah
perlahan dan merasakan seperti waktu berhenti sekarang juga.
*wush!* bola melesat dengan kecepatan
tinggi melewati tangan Meili
“lima
belas”
aku menyesali karena aku bilang diawal
game jika aku dan Meili akan kalah. Doa yang salah ini sepertinya malah
dikabulkan, sekali lagi aku menyesal mengatakan itu.
Bola kedua melewatiku tanpa memberiku
berkedip terlebih dahulu
“tigapuluh”
Giiran Meili lagi yang menerima bola.
Aku baru ingat, Meili takut pada bola kecepatan tinggi, itu kenapa mukanya
kebingungan terus dari tadi
Bola ketiga melesat cepat melewati
sebelah kiri Meili
“empat
puluh”
Bola terakhir, aku akan benar-benar
mati jika tidak memukul bola terakhir ini. “ah mau gila rasanyaaa!!” aku
berteriak dalam hati sambil menelan ludah
Bola keempat meluncur cepat tanpa
sempat aku pukul
“game!”
Ah yang benar saja!! Aku benar-benar
bodoh kali ini, sungguh ini menurunkan martabat kelas 10, seakan kami ini bodoh
sekali.
“ck,
love game” ka Kevin mengatakannya sambil mentapku ketika kita bertukar
lapangan. Sial! Aku bergumam dalam hati sambil pergi dan tidak memedulikan
kata-katanya. Ternyata orang sekeren dia dengan gampangnya merendahkan orang
lain. Lihat nanti ka! Aku bales “love
game”-mu itu!
****
Murid
kelas 12 hilir mudik di depan ruang guru termasuk ka Kevin. Hari ini
pengambilan ijazah dan mungkin hari ini jadi hari terakhir aku liat dia.
Ternyata waktu 5 bulan itu nggak kerasa ya.
“kenapa
pandangan lu kosong gitu? Kehilangan ya? Haha” Meilikeluar dari kelas sambil
meledekku
“ga
lah” aku membalikkan tubuhku sambil bersandar pada tembok. Dari lantai dua dua
ini aku dapat melihat jelas ke ruang guru di bawah, ka Kevin sedang hilir mudik
mencari seseorang
“lo
yakin ga kenapa-kenapa? Kan dua bulan yang lalu gue tanya, lo bisa ngelepasin
dia gitu aja? Lo malah jawab dengan mantap bisa. Nah sekarang muka lo udah kaya
begitu”
“ini
natural, perasaan kehilangan tuh natural tau, haha” aku tiba-tiba saja ingin
tertawa mengdengar penjelasan Meili yang panjang lebar seperti itu
“jangan
berlarut-larut sedihnya, kita musti move on!” kata Meili sambil mengepalkan
tangannya dan diangkat ke udara
“kita?
Emang lo belom move on?” tiba-tiba saja aku jadi bingung, seminggu yang
lalu Meili mengatakan dia udah move on
“yah,
udah sih tapi belum sepenuhnya” dia menurunkan tangannya kemudian memasang
wajah lesu
“berarti
gue ada temennya haha”
“oh
iya, sabtu ini lo tenis kan?”
“kenapa?”
“gue
punya rencana”
“rencana
apa?” Meili memasang raut wajah mencurigakan
“pokoknya
setiap sabtu mulai dari sabtu ini lo harus bawa kamera lo yang ungu itu. Gue
mau bikin foto kenang-kenangan, tapi tepatnya bukan gue, yang bener itu elu.
Nanti lo sama ka Kevin gue suruh foto bareng, alesan aja buat kenang-kenangan.
Pinter ga gue? Haha” kadang Meili itu jenius, super jenius. Tapi kadang rencana
gilanya itu malah membuatku masuk ke dalam neraka
“iya
nanti gue bawa, tapi gue gamau foto bareng. Nanti gue dibilang freak lagi sama
dia”
“kan
ada Miki, dia ngerti lah kalo lo suka sama ka Kevin. Kita suruh dia aja yang
mintain haha”
“teganya
lu sama temen sendiri”
“daripada
lo ga dapet fotonya, ya tapi terserah sih kalo lo ga nyesel” kata Meili sambil
menaikkan kedua bahunya
“ya
gimana nanti deh” aku menjawab seadanya
Akhir-akhir
ini aku dan Meili mulai malas mengikuti ekskul street dance jadi kami
memutuskan untuk datang sekali-kali dan seperlunya saja. Dan menurutku hari ini
tidak ada sesuatu yang penting, buat apa datang ekskul?.
“gimana
Na? Lo bawa kameranya?”
“bawa
hehe” jawabku sambil mengeluarkannya dari tas
Ternyata setelah beres latihan tenis
pun ka Kevin ga dateng ya, aku sedikit kehilangan juga
Minggu berikutnya...
Seperti
biasa aku membawa kamera dan selalu menyiapkannya dalam tas, berharap keajaiban
membuat ka Kevin datang pagi ini.
Tetapi hasilnya.... nihil, lagi-lagi
ka Kevin tidak datang
Minggu berikutnya....
Sudah
hampir satu bulan ka Kevin tidak datang tenis, ternyata perasaan yang aku benci
mulai muncul. Kangen.
“gimana
Na? Udah mau sebulan loh lo ga ketemu ka Kevin” tiba-tiba Meili buka
pembicaraan
“gatau
hehe” jawabku sambil mengangkat kedua bahu
Aku menatap langit sejenak, memperhatikan
awan. “kumlus aku harus ngapain?” bisikku dalam hati.
Minggu berikutnya...
Kali
ini aku berjalan lunglai ke arah lapangan tenis, semakin lama perjuanganku
surut juga. Mungkin apa kata Meili itu benar, akiu harus move on.
“Na”
Meili menyenggolku tengan siku tangannya
“apa?”
aku menatapnya bingung
“itu”
Meili mengatakannya sangat pelan, tapi matanya memberiku kode untuk melihat ke
arah belakangku. Aku memutar tubuhku, aku merasa jantungku lompat dari tempat
asalnya. Ka Kevin.
Aku tidak bisa konsentrasi bermain
tenis dengan benar, daritadi Meili memberiku kode agar memulai aksi
foto-fotonya itu, sedangkan aku tidak terlalu tertarik walaupun yah aku memang
kangen ka Kevin.
“apaan
sih lu Mei?”
“kapan
lagi kalo ga sekarang?”
“apanya?”
“foto-fotonya
laaah” Meili berniat berbisik tapi apa daya dia tidak berbisik sama sekali,
malah suaranya agak kencang
“sssst,
nanti yang lain denger”
“ayoo
deh langsung game aja daripada lama-lama” tiba-tiba salah seorang dari kelas 11
menyarankan seperti itu
“serunya
kaya waktu itu nih anak kelas 10 lawan 12 haha” celetuk yang satunya lagi.
Mendengar pernyataan seperti itu aku langsung jiper dan berusaha mengumpat
dibalik Miki
“ooh,
Nana sama Meili ya? Ayo kita buat mereka tanding lagi” kaka kelas 12 langsung
menyebutkan namaku dengan lantang membuat semuanya melihat kearahku
“hehe,
hai” kataku sambil keluar dari balik badan Miki
“ayo
dong kamu maju lagi, siapa tau sekarang udah ada kemajuan”
“aduh
ka, aku bener-bener gabisa main deh” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal
“gapapa,
udah tanding lagi ya!”
mereka mendorongku dan Meili ke tengah
lapangan disusul dengan ka kevin dan ka Kim. Tiba-tiba aku teringat suatu ide,
aku mendekati Meili dan membisikinya sesuatu
aku mendapat kesempatan service
pertama, dan ka Kim adalah sasaranku
*wusssh* tapi bolanya berhasil
dikembalikan, aku dan Meili berposisi tengah agak belakang dan depan. Meili
hanya menepisnya membuat bola jatuh di dekat net
“lima
belas”
Bola kedua. Ka Kevin. Dengan emosinya
aku memukul, tapi dengan sengaja aku memelankannya, padahal kelihatannya akan
sangat kencang
*wush* bolanya meluncur tepat di kotak
home ka Kevin, tapi kenapa dia? Tidak sempat memukul ya? Aku tertawa dalam hati
“tiga
puluh”
“waaah!
Kayaknya ada yang dendam kesumat nih gara-gara tanding dulu hahaha” aku
mendengar salah satu anak kelas 10 memprovokatori. Aku melihat wajah kakak
kelas yang ada di depanku ini mulai terbakar. Bukan terbakar matahari , tapi
terbakar amarah haha.
Bola ketiga. Ka Kim yang menerimanya, wajahnya
agak terlihat serius sekarang, aku jadi benar-benar takut.
*wush* ka Kim mengembalikannya dengan
keras dan cepat tapi aku tidak mengerti kemampuan Meili mnegembalikan bola
cepat datang dari mana. Bolanya sekarang ke arah ka Kevin, dia melakukan pukulan
forehand pelan, membuat bolanya jatuh di dekat net. Ide jahatku mulai lagi, aku
mengembalikannya pelan membuat mereka tidak dapat mengejarnya.
“empat
puluh”
Aku tersenyum dalam hati atas
kejeniusanku. Sekarang tinggal satu poin lagi aku siap mengembalikan ‘love game’
itu. Aku mengambil napas panjang sambil melihat bola yang ada di genggamanku. Melemparnya
dan memukulnya ke arah ka Kevin. Tapi....
“one
ball” waaah! Bodoh! Aku menunduk seketika karena bolanya tidak masuk ke home ka
Kevin.
Aku mengambil bola kedua. Berisiap-siap
dan kembali melempar-memukulnya.
*wush* tidak kusangka bolanya
melambung pelan membuat umpan yang sangat mudah dijangkau. Dengan secepat kilat
bolanya dikembalikan ke arahku, aku berlari menjangkau bola dan memukulnya
dengan hati-hati.
“Game!”
“waaaaaahhh
game gameeeee!!” Meili berteriak histeris sambil menoleh ke arahku
Aku langsung berjalan bertukar lapangan
tanpa komentar apa-apa sedangkan yang lainnya riuh berteriak-teriak
“ck,
love game” aku menatap ka Kevin sambil mengatakannya kemudian berlalu
Beberapa bulan kemudian.....
Angin
berhembus pelan membuat daun-daun kering berterbangan. Aku menatap lapangan
tenis, “tidak datang.. lagi” aku mengatakannya dalam hati sambil tersenyum
membayangkan love game terakhir yang aku lakukan. Semenjak saat itu ka Kevin
tidak datang untuk bermain tenis lagi, mungkin sibuk dengan kuliahnya yang jauh
disana.
“Nana!
Tumben udah dateng” Sam, ketua tenis yang biasanya datang paling pagi, bahkan
aku dahului
“eh,
hai. Pengen cepet ke lapangan aja” aku melihat kearahnya sambil tertawa yang
dibuat-buat. Sam langsung berjalan masuk lapangan sambil membawa bola tenis
yang se-ember itu.
Aku berdiri dan mengambil raket
kemudian berjalan masuk ke arah lapangan, aku berbisik dalam hati “ka Kevin,
aku tunggu love game-mu lagi” kemudian tersenyum.
Day by day I look at you only and waits for you always
Until now you’re the only one I know and I will love only you
It’s a valuable moment even when I’m loving you
If there is no you, I do not want to do anything at all
Every single day when I open my eyes in the morning, I want to see you
In my present days now, I cannot live if there is no you
I want to hear that one sentence “I love you” though
Every day, I love you..Only you, I love only you, Just the two of us
Until now you’re the only one I know and I will love only you
It’s a valuable moment even when I’m loving you
If there is no you, I do not want to do anything at all
Every single day when I open my eyes in the morning, I want to see you
In my present days now, I cannot live if there is no you
I want to hear that one sentence “I love you” though
Every day, I love you..Only you, I love only you, Just the two of us
-end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar