Kamu tahu?
Menyukai seseorang itu mudah.tapi, untuk mengakui bahwa kamu tidak menyukainya
, harus berjuang mati-matian.
“heii, lagi
apa tuh?”
“oh? Ini?
Brosur kuliahan”
“emang lo
dapet kelas akselerasi?”
“ga lah! Emang
sepinter apa gue? Haha. Ini tuh brosur kuliah kaka kelas yang gue suka hehe”
“wah genit lo,
kok lo ga cerita sama gue sih lo naksir kaka
kelas?”
“ ah ini
urusan cewe kalo lo diceritain pun nggak akan ngerti tau”
“sombong lo
ya”
“iyaaa wee”
jawabku sambil menjulurkan lidah.
Sudah sepuluh
tahun ini pertemananku berjalan seperti ini dengan Igo. Temanku seperjuangan
dari kecil, kami tumbuh bersama, membuat kenangan bersama juga, masa lalu kami
selalu bersama, tapi ketika dewasa... perasaan lain tumbuh, apa namanya?
***
“Jeeeeeen,
pulang ke toko biasa yuk”
“ngapain?”
“mandi”
“hah?”
“ya ngapain
lagi menurut lu?”
Akhirnya aku
pasrah dan menemani Igo ke toko buku dekat rumah kami, rumah kami memang
bersebelahan, aku tidak tahu mengapa sejak kecil kami selalu bersama. Aku
melintasi lobi dan aku melihatnya. Prince charming.
*buag!* “ya!
sakit!” *hei!* ” teriak Igo
“ah, mian
ehehe” *maaf*
“liatin apa
sih lo?”
“ga ada hehe”
aku tertawa sambil menunduk
“hyeee, ada
kaka kelas yang lo suka itu ya? Mana? Mana?”
“gaa ih” aku langsung
menatap Igo dengan tatapan sungguh-sungguh
“masa?” Igo
malah memasang tampang meledeknya
“ah udah deh”
aku langsung tancap gas tanpa kata-kata
Aku memasuki
toko buku lebih dahulu dan terdengar lonceng yang terletak tepat diatas
kepalaku, menandakan seseorang datang masuk ke toko.
“Go, lo mau
cari buku apaan sih?” aku mengintip buku yang dibacanya dari punggungnya
“ah? Kado”
“gue baru tau
cowo selain lo ada juga yang suka baca buku” kataku sambil berlalu
“hem” jawabnya
sambil terus membolak-balik buku yang digenggamnya.
Aku pulang membawa setumpuk komik
karena 2 hari ke depan adalah hari libur haha. Sedangkan Igo membeli buku
mencurigakan, bukan buku aneh tapi buku yang tidak biasanya dia beli.
“ Go gue
penasaran banget nih mau tau apa yang lo beli”
“jangan
ikutan urusan orang deh, susah emang ya kita nih bener-bener gabisa rahasiaan”
“tuh salahin
orangtua kita lagian dari lahir sampe sekarang yang gue lliat elo terus”
“ye kenapa
ngomelnya ke gue” Igo mendahului ku berjalan masuk ke rumahnya, kalau ingin
tahu beberapa menit setelah ini juga kami akan bertemu lagi lihat saja.
Aku segera
masuk ke rumah dan berlari kecil ke kamarku yang ada di lantai atas. Aku
membuka tirai jendelaku. Dan puuff. There he is. Rumahku dan Igo benar-benar
bersebelahan dan kamar kami pun begitu. Aku melihat Igo menggenggam handphone
nya sambil mondar- mandir di kamarnya, sebenarnya apa yang di tunggu?. Aku
menutup tirai dan kemudian membersihkan diri.
Drrrt
“ne? Mwo?”
*ya? apa?*
“gue diterima
dong haha” tawa Igo membuat telingaku sakit
“diterima
apa? Emangnya lo masuk kelas akselerasi terus lulus duluan? Haha”
“bukan! Gue
diterima jadi pacarnya Nina, itu loh anak sepuluh tiga, lo tau kan? Dan besok
itu ulangtahun dia”
“em? Aah iya
iya tau” DEG! Seakan jantungku telah melompat dari tempatnya
“jadi lo ga
ngucapin selamat?”
“ah! Chukkae
haha akhirnya teman seperjuangan gue dapet pasangan” *selamat* jadi buku tadi..
“ahahaha
makasih ya”
“jadi buku
tadi buat dia?”
“em! Sejak
kapan lagian gue suka baca buku kaya gitu”
“oh iya iya”
“udah ya gue
tutup dulu, daah”
Klik, telepon
ditutup. Aku duduk di pinggir kasur kamar ku. Ternyata ini rasanya jika sahabat
yang dari dulu dekat sekarang seakan diambil dengan mudahnya. Tapi, sakit..
disini..
“Igo, mau
berangkat bareng kan?”
“ah? Ohh, gue
berangkat bareng Nina, rumahnya Cuma dua blok dari sini, gue pergi ya, daah”
“dah” aku
melihat punggung Igo yang perlahan menjauh, bahkan rasanya aku tidak ingin
pergi ke sekolah. Semua perasaan ini membuatku muak. Perih. Sakit.
Besoknya...
“Igo, pulang
ke toko yuk, ada buku yang perlu gue beli”
“gue boleh
ajak Nina?”
“boleh aja”
kali ini adalah kali pertama Igo mengajak orang lain selain aku yang pergi ke
tempat itu.
Seminggu
kemudian...
“Igo pulang
yuk!” aku menoleh ke arah Igo yang sedang membereskan bukunya
“gue pulang
bareng Nina ya hari ini, bye” dia meninggalkanku di kelas dan kemudian berjalan
pergi ke kelas Nina. Apa ini yang dinamakan sahabat kecil? Udah nggak ada lagi
yang namanya Igo. Dia berubah.
Weekend..
Drrrt drrt
Handphoneku
bergetar lama untuk kesekian kalinya. Dan untuk kesekian kalinya pula aku hanya
memandang layarnya. Igo. Aku sedang tidak mood untuk mengangkat teleponnya. Aku
membencinya. Dia adalah seseorang yang berubah sekarang. Aku meninggalkan
handphoneku dan bergegas keluar rumah untuk pergi ke taman.
Lucky i’m in love with my bestfriend.
Lucky to have been where i have been.
Lucky to becoming home again.
We’re lucky we’re in love in everyway.
Lucky to have stayed where we have stayed.
Lucky to becoming home someday.
“JEN! JEN!”
aku melihat Igo berteriak ke arahku dan kemudian aku berlari menjauhinya, aku
tidak ingin bertemu dengannya sekarang. Aku tidak tahu mengapa. Aku tidak suka
melihatnya dengan Nina dan seolah melupakanku dengan mudah.
“JEN!” grep.
Dia menangkap tanganku.
“apa?”
“lo kenapa
sih?”
“gue yang
kenapa atau elo yang kenapa?”
“lo berubah
sekarang, pulang gapernah ajak gue, pergi pun lo lebih dulu, pergi ke toko tapi
ga bilang gue”
“oh ya? Gue
yang berubah atau gue yang nggak sesuai sama yang lo mau?”
“maksud lo?”
“lo ada apa
cari-cari gue? Masih inget sama gue?” tanyaku sambil berusaha melepas tanganku
“lo kenapa
sih? Hah?!”
“ah! Udah
deh” aku melepaskan tanganku dan kemudian berjalan ke taman
“JEN!”
“jangan
panggil gue! Dan jangan ikutin gue!” teriakku kepada Igo. Dan kemudian aku
menangis sambil berjalan ke taman. Aku duduk dibawah pohon sambil memperhatikan
sekelilingku. Hanya anak kecil, tidak akan ada yang sadar bahwa aku menangis.
“kak”
“eh?” wajahku
terangkat kemudian melihat anak kecil yang masih sekitar 7 tahun melihat ke
arahku
“kakak,
kenapa?” dia berjongkok di depanku
“aku? Ga
kenapa-kenapa kok, kamu siapa?”
“aku Sam kak,
salam kenal” dia menjulurkan tangannya
“aku Jenny,
salam kenal juga” jawabku sambil tersenyum
“kakak kenapa
sendirian? Kakak gapunya temen?”
“ada, tapi
dia udah berubah” ah bodoh. Anak kecil mana mungkin mengerti. Jen! Babo!
*bodoh*
“berubah? Aku
nggak ngerti kak”
“ah gapapa
haha” aku tertawa lagi setelah sekian lama.
“kak, kita
main aja yuk, daripada kakak sedih terus”
“yuk” Sam
memngambil bolanya dan mulai melempar ke arahku, kemudian aku mengembalikan
padanya, sampai menjelang sore aku baru pulang dari taman. Perasaanku sudah
membaik sekarang.
Aku bersiap
pagi ini untuk berangkat lebih pagi dan menghindari Igo tapi ternyata salah,
aku malah melihatnya sedang berdiri di depan pagar rumahku, sekarang apa lagi
yang dia inginkan?!. Aku membuka pintu rumah dengan cepat dan meninggalkan rumah.
“Jen, gue
salah apa sih?” dia bertanya padaku
“Jen” dia
memanggilku lagi tetapi aku terus berjalan.
“kakaaak” aku
menoleh melihat siapa itu, dan suara yang ku kenal.
“hai Sam,
kamu mau berangkat kemana?”
“ke sekolah
kak, kakak?”
“aku juga,
bareng yuk”
“Jen ini
siapa?” tiba-tiba Igo menyesuaikan jalannya denganku, tapi aku tetap menghiraukannya.
“aku Sam kak,
salam kenal. Kak Jen kenapa diemin terus kakak ini?” tanya Sam padaku
“soalnya
kakak lagi ga mood jawab pertanyaanya” langkahku semakin cepat dan Sam
mengikutiku juga
“kakak,
sekolah aku belok kesini, aku pergi dulu ya, dadah”
“daah,
hati-hati ya” aku melambai ke arah Sam.
“Jen lo betah
banget sih diemin gue, mau sampe kapan?” aku langsung menaiki bus begitu bus
itu berhenti dan sekali lagi aku menghiraukannya lagi.
Jam
istirahat...
“Jen kantin
yuk” aku langsung bangkit dari kursiku dan menuju ke lapangan karena ada janji
dengan Ardhi.
“kenapa?”
tanyaku to the point saat sampai di lapangan
“emm”
“please,
don’t waste my time, I’m not in the mood”
“lo mau jadi
pacar gue?” ah GOD! Yang bener aja lo! Perasaan gue kenal aja ga! Teriakku
dalam hati
“sayangnya
nggak, tapi makasih ya udah suka sama gue, anything to say?”
“nggak, tapi
kenapa?”
“soalnya gue
rasa gue suka sama orang lain yang sayangnya juga dia udah sama orang lain”
“Igo? Temen
kecil lo itu”
“not your
bussiness, bye” aku benci saat dia mengaitkan ini dengan Igo, Igo, ah aku
muak!.
***
Seminggu
kemudian..
Aku sedang
berjalan pulang ke rumah dan hari ini aku sangat lelah, buktinya aku pulang
lebih sore dari sekolah karena ada proyek ekstrakulikuler ku.
“kak Jen,
udah lama ga ketemu, temen kakak yang kakak maksud waktu itu kak Igo ya?”
“kamu kenapa
tiba-tiba nanyain kakak kaya gitu” aku mengajaknya duduk di teras rumahku
“aku kasian
sebenernya sama kak Igo, dari kemaren aku liat kak Igo nungguin kakak pulang
tapi kakak pulangnya sore terus, aku juga sempet ngobrol terus katanya ada hal
penting makanya kak Igo nungguin kakak terus”
“oh gitu?
Penting banget ga kalo menurut kamu , Sam?”
“mungkin iya,
soalnya mukanya keliatannya sedih terus capek juga”
“ah , makasih
ya infonya Sam, kamu mau ikut aku ke dalem ga?”
“ah ga deh
kak, aku pulang aja ya. Sampe ketemu besok. Dadah” Sam berlari kecil keluar
dari gerbang rumahku. Aku menuju ke kamarku, aku menghempaskan diri ke atas
kasurku. Aku benci perasaan ini, perasaan bersalah. Apa aku harus
menghubunginya sekarang? Sudah sekitar sebulan ini aku mendiamkannya. Terlebih
lagi tanpa alasan. Tidak tahu kenapa aku berjalan ke arah tirai dan
menyibakknya agar terbuka.
“Jen, kalo
gue lakuin ini untuk lo, lo mau ga ngomong sama gue lagi” hem? Apaan tuh?
Tulisannya terpasang di jendela Igo. Kemudian tirainya terbuka dan Igo
diseberang memgang gitar. Kemudian dia menuliskan di kertas “buka jendela kamar
lo”. Aku melakukannya dan dia juga melakukannya.
“lucky i’m in
love with my bestfriend
Lucky to have been where i have been.
Lucky to
becoming home again.”
Sejak kapan
Igo bermain gitar? Dari dulu sampai sekarang bahkan aku tidak pernah melihatnya
menyentuh alat musik sama sekali.
“gimana Jen?
Lo mau ngomong sama gue apa ga?”
“kenapa? Kenapa
lo kaya gitu?”
“gue berjuang
apa aja demi bisa ngomong sama lo” dia mengambil ember yang dulu kami pasang
dengan katrol agar dapat berbagi barang dengan mudah. Dia meletakkan sesuatu di
dalamnya dan kemudian mengulurnya sampai embernya berada di tempatku
‘kalo gue bilang gue suka lo, apa lo
percaya?’
Aku
melemparnya ke bawah. Omong kosong lagi? Nina tersayangnya itu bakalan disimpen
dimana? Cadangan?. Aku menatapnya penuh emosi. Apa dia pikir aku ini
mainannya?.
“gue udah
putus Jen sama Nina, lagian kalo lo mau tau, gue itu sebenernya ga suka banget
sama Nina, dia juga begitu sama gue”
“terus? Gue
ga butuh lagi penjelasan lo, yang jelas 2 bulan terakhir ini lo berubah” aku
ingin segera menutup tirai ku tapi..
“JEN! GUE
SERIUS, GUE SUKANYA SAMA ELO” dia teriak sekencang mungkin dan membuatku
tambah-tambah kesal dan menutup jendelaku dengan kasar dan menutup tiraiku.
Kenapa sih
lo? Hah? Igo itu bodoh banget , keterlaluan malahan. Apa perasaan yang selalu
membuatku kesal itu adalah cemburu? Bukankah itu wajar? Dia berubah dan seolah
meninggalkanku. Aku wajar kesal dengannya, atau mungkin aku juga suka
dengannya.
“Jen, pagi
ini gue udah cape banget nih ngejar-ngejar elo terus, sekali lagi gue tanya dan
abis itu gue ga akan kejar-kejar lo lagi” aku menatap matanya yang lurus ke
arahku
“apa?”
“lo mau jadi
pacar gue apa ga? Kalo lo mau tau gue udah nunggu lo sampe 3 tahun”
“3 tahun?!
Lo gila?”
“ga, gue
normal”
“kalo gue
jawab ga gimana?”
“yaudahlah,
gue jomblo selamanya”
“masa? Ah lo
keren banyak yang mau sama lo”
“tapi gue
maunya elo”
“ah ga lucu
lo becandanya ginian dari kemaren” aku
berjalan duluan mendahului Igo
“gue lagi
serius, selama ini gue bercanda terus sama lo , tapi makin kita gede becanda
yang dulu Cuma main-main bikin gue suka sama lo” langkah Igo terhenti, aku pun
begitu.
“kalo lo mau
tau juga, Nina itu persis kaya lo . Dia
peduli sama gue, dia bikin gue seneng terus, dia juga baik sama gue, tapi
perasaan gue ke Nina itu ternyata cuma sebatas sahabat atau lebih kaya kaka yang jagain adenya, kalo lo itu sesuatu yang lain"
“apa?” aku
bertanya serius dan dia menatapku
“lo itu bukan
kakak, atau adik, atau temen, atau keluarga gue. Lo itu semuanya, lo bisa jadi apa aja. Dan kalo lo
tau perasaan gue ga bisa di deksripsiin waktu gue ngeliat lo ketawa, perasaan
seneng yang biasanya gue alamin malah jadi sedikit janggal. Bukan itu perasaan
yang seharunya gue rasain” aku menatapnya sekilas kemudian melanjutkan “mungkin
perasaan itu suka” aku menatapnya sambil tersenyum.
“jadi jawaban
lo? Lo belum jawab gue”
“ne” *ya*
“hah? Jinja? yeojachingu?” *benarkah? Kamu pacarku?*
“mau gue
berubah pikiran?”
“ani haha” *nggak*
dia berjalan ke arahku kemudian dia menggenggam tanganku “ayo!” teriaknya. setelah dilihat-lihat aku mengingat kejadian
ini 14 tahun yang lalu saat aku dan Igo berangkat ke sekolah juga tapi dengan
perasaan yang berbeda. Sahabat.
Pulang
sekolah....
“Igo ke taman
yuk, gue kangen sama Sam”
“ayo” Igo
menemaniku pergi ke taman, aku ingin melihat tanggapan Sam karena sekarang aku
sudah berbaikan dengan Igo.
“Sam!”
teriakku ketika melihatnya sedang beramain bola dengan temannya. Sam segera
berlari ke arahku.
“kakak
akhirnya baikan juga!” seringai lebar menghiasi wajahnya yang penuh keceriaan
“iya dong,
kan kamu yang suruh kakak baikan. Makasih ya Sam”
“sama-sama
Kak, kakak tau ga kenapa aku suruh kakak baikan?”
“emm, ga.
Kenapa?”
“soalnya dulu
aku punya temen namanya Jessi, dia juga baik kaya kakak, tapi sayangnya dia
udah di surga kak. Aku sedih banget waktu itu soalnya aku lagi berantem sama
dia tapi aku ga sempet baikan, ternyata Tuhan udah minta dia balik ke surga”
“terus kamu
gimana?”
“kata mama
aku, Jessi itu anak baik makanya Tuhan panggil dia, katanya dulu dia sakit
parah tapi aku ga ngerti dia sakit apa. Jadi , sekarang mumpung kakak masih
bisa ketemu kak Igo jangan berantem-beranteman lagi ya, soalnya nanti aku juga
jadi sedih liatnya. Mending kita main aja”
“ayo!” Igo
berteriak semangat dan lari kelapangan bersama Sam. Aku melihat mereka dan
kemudian duduk di bangku yang ada di pinggir lapangan. Aku tersenyum melihat
Igo jatuh dan kemudian ditolong bangun oleh Sam. Siapa sangka seorang anak
kecil mengerti perasaan seseorang yang sudah dewasa. Mungkin Sam juga lebih
dewasa daripada aku, aku justru yang kekanak-kanakan. Makasih Sam, mungkin kamu
malaikat kecil yang diturunin Tuhan buat bikin aku terus barengan sama Igo.
“Jen, gue
salah apa sih?” dia bertanya padaku
“Jen” dia
memanggilku lagi tetapi aku terus berjalan.
“kakaaak” aku
menoleh melihat siapa itu, dan suara yang ku kenal.
“hai Sam,
kamu mau berangkat kemana?”
“ke sekolah
kak, kakak?”
“aku juga,
bareng yuk”
“Jen ini
siapa?” tiba-tiba Igo menyesuaikan jalannya denganku, tapi aku tetap menghiraukannya.
“aku Sam kak,
salam kenal. Kak Jen kenapa diemin terus kakak ini?” tanya Sam padaku
“soalnya
kakak lagi ga mood jawab pertanyaanya” langkahku semakin cepat dan Sam
mengikutiku juga
“kakak,
sekolah aku belok kesini, aku pergi dulu ya, dadah”
“daah,
hati-hati ya” aku melambai ke arah Sam.
“Jen lo betah
banget sih diemin gue, mau sampe kapan?” aku langsung menaiki bus begitu bus
itu berhenti dan sekali lagi aku menghiraukannya lagi.
Jam
istirahat...
“Jen kantin
yuk” aku langsung bangkit dari kursiku dan menuju ke lapangan karena ada janji
dengan Ardhi.
“kenapa?”
tanyaku to the point saat sampai di lapangan
“emm”
“please,
don’t waste my time, I’m not in the mood”
“lo mau jadi
pacar gue?” ah GOD! Yang bener aja lo! Perasaan gue kenal aja ga! Teriakku
dalam hati
“sayangnya
nggak, tapi makasih ya udah suka sama gue, anything to say?”
“nggak, tapi
kenapa?”
“soalnya gue
rasa gue suka sama orang lain yang sayangnya juga dia udah sama orang lain”
“Igo? Temen
kecil lo itu”
“not your
bussiness, bye” aku benci saat dia mengaitkan ini dengan Igo, Igo, ah aku
muak!.
***
Seminggu
kemudian..
Aku sedang
berjalan pulang ke rumah dan hari ini aku sangat lelah, buktinya aku pulang
lebih sore dari sekolah karena ada proyek ekstrakulikuler ku.
“kak Jen,
udah lama ga ketemu, temen kakak yang kakak maksud waktu itu kak Igo ya?”
“kamu kenapa
tiba-tiba nanyain kakak kaya gitu” aku mengajaknya duduk di teras rumahku
“aku kasian
sebenernya sama kak Igo, dari kemaren aku liat kak Igo nungguin kakak pulang
tapi kakak pulangnya sore terus, aku juga sempet ngobrol terus katanya ada hal
penting makanya kak Igo nungguin kakak terus”
“oh gitu?
Penting banget ga kalo menurut kamu , Sam?”
“mungkin iya,
soalnya mukanya keliatannya sedih terus capek juga”
“ah , makasih
ya infonya Sam, kamu mau ikut aku ke dalem ga?”
“ah ga deh
kak, aku pulang aja ya. Sampe ketemu besok. Dadah” Sam berlari kecil keluar
dari gerbang rumahku. Aku menuju ke kamarku, aku menghempaskan diri ke atas
kasurku. Aku benci perasaan ini, perasaan bersalah. Apa aku harus
menghubunginya sekarang? Sudah sekitar sebulan ini aku mendiamkannya. Terlebih
lagi tanpa alasan. Tidak tahu kenapa aku berjalan ke arah tirai dan
menyibakknya agar terbuka.
“Jen, kalo
gue lakuin ini untuk lo, lo mau ga ngomong sama gue lagi” hem? Apaan tuh?
Tulisannya terpasang di jendela Igo. Kemudian tirainya terbuka dan Igo
diseberang memgang gitar. Kemudian dia menuliskan di kertas “buka jendela kamar
lo”. Aku melakukannya dan dia juga melakukannya.
“lucky i’m in
love with my bestfriend
Lucky to have been where i have been.
Lucky to
becoming home again.”
Sejak kapan
Igo bermain gitar? Dari dulu sampai sekarang bahkan aku tidak pernah melihatnya
menyentuh alat musik sama sekali.
“gimana Jen?
Lo mau ngomong sama gue apa ga?”
“kenapa? Kenapa
lo kaya gitu?”
“gue berjuang
apa aja demi bisa ngomong sama lo” dia mengambil ember yang dulu kami pasang
dengan katrol agar dapat berbagi barang dengan mudah. Dia meletakkan sesuatu di
dalamnya dan kemudian mengulurnya sampai embernya berada di tempatku
‘kalo gue bilang gue suka lo, apa lo
percaya?’
Aku
melemparnya ke bawah. Omong kosong lagi? Nina tersayangnya itu bakalan disimpen
dimana? Cadangan?. Aku menatapnya penuh emosi. Apa dia pikir aku ini
mainannya?.
“gue udah
putus Jen sama Nina, lagian kalo lo mau tau, gue itu sebenernya ga suka banget
sama Nina, dia juga begitu sama gue”
“terus? Gue
ga butuh lagi penjelasan lo, yang jelas 2 bulan terakhir ini lo berubah” aku
ingin segera menutup tirai ku tapi..
“JEN! GUE
SERIUS, GUE SUKANYA SAMA ELO” dia teriak sekencang mungkin dan membuatku
tambah-tambah kesal dan menutup jendelaku dengan kasar dan menutup tiraiku.
Kenapa sih
lo? Hah? Igo itu bodoh banget , keterlaluan malahan. Apa perasaan yang selalu
membuatku kesal itu adalah cemburu? Bukankah itu wajar? Dia berubah dan seolah
meninggalkanku. Aku wajar kesal dengannya, atau mungkin aku juga suka
dengannya.
“Jen, pagi
ini gue udah cape banget nih ngejar-ngejar elo terus, sekali lagi gue tanya dan
abis itu gue ga akan kejar-kejar lo lagi” aku menatap matanya yang lurus ke
arahku
“apa?”
“lo mau jadi
pacar gue apa ga? Kalo lo mau tau gue udah nunggu lo sampe 3 tahun”
“san nian?!
Lo gila?” *3 tahun*
“ga, gue
normal”
“kalo gue
jawab ga gimana?”
“yaudahlah,
gue jomblo selamanya”
“masa? Ah lo
keren banyak yang mau sama lo”
“tapi gue
maunya elo”
“ah ga lucu
lo becandanya ginian dari kemaren” aku
berjalan duluan mendahului Igo
“gue lagi
serius, selama ini gue bercanda terus sama lo , tapi makin kita gede becanda
yang dulu Cuma main-main bikin gue suka sama lo” langkah Igo terhenti, aku pun
begitu.
“kalo lo mau
tau juga, Sam itu persis kaya lo kalo dia cewe dan kalo dia seumur sama lo. Dia
peduli sama gue, dia bikin gue seneng terus, dia juga baik sama gue, tapi
perasaan gue ke Sam itu kaya kakak yang harus jagain adiknya dan lo gue anggep
sesuatu yang lain”
“apa?” aku
bertanya serius dan dia menatapku
“lo itu bukan
kakak, atau adik, atau temen, atau keluarga gue. Lo itu semuanya. Dan kalo lo
tau perasaan gue ga bisa di deksripsiin waktu gue ngeliat lo ketawa, perasaan
seneng yang biasanya gue alamin malah jadi sedikit janggal. Bukan itu perasaan
yang seharunya gue rasain” aku menatapnya sekilas kemudian melanjutkan “mungkin
perasaan itu suka” aku menatapnya sambil tersenyum.
“jadi jawaban
lo? Lo belum jawab gue”
“ne” *ya*
“hah? Jinja? yeojachingu?” *benarkah? Kamu pacarku?*
“mau gue
berubah pikiran?”
“ani haha” *nggak*
dia berjalan ke arahku kemudian dia menggenggam tanganku “ayo!” teriaknya. setelah dilihat-lihat aku mengingat kejadian
ini 14 tahun yang lalu saat aku dan Igo berangkat ke sekolah juga tapi dengan
perasaan yang berbeda. Sahabat.
Pulang
sekolah....
“Igo ke taman
yuk, gue kangen sama Sam”
“ayo” Igo
menemaniku pergi ke taman, aku ingin melihat tanggapan Sam karena sekarang aku
sudah berbaikan dengan Igo.
“Sam!”
teriakku ketika melihatnya sedang beramain bola dengan temannya. Sam segera
berlari ke arahku.
“kakak
akhirnya baikan juga!” seringai lebar menghiasi wajahnya yang penuh keceriaan
“iya dong,
kan kamu yang suruh kakak baikan. Makasih ya Sam”
“sama-sama
Kak, kakak tau ga kenapa aku suruh kakak baikan?”
“emm, ga.
Kenapa?”
“soalnya dulu
aku punya temen namanya Jessi, dia juga baik kaya kakak, tapi sayangnya dia
udah di surga kak. Aku sedih banget waktu itu soalnya aku lagi berantem sama
dia tapi aku ga sempet baikan, ternyata Tuhan udah minta dia balik ke surga”
“terus kamu
gimana?”
“kata mama
aku, Jessi itu anak baik makanya Tuhan panggil dia, katanya dulu dia sakit
parah tapi aku ga ngerti dia sakit apa. Jadi , sekarang mumpung kakak masih
bisa ketemu kak Igo jangan berantem-beranteman lagi ya, soalnya nanti aku juga
jadi sedih liatnya. Mending kita main aja”
“ayo!” Igo
berteriak semangat dan lari kelapangan bersama Sam. Aku melihat mereka dan
kemudian duduk di bangku yang ada di pinggir lapangan. Aku tersenyum melihat
Igo jatuh dan kemudian ditolong bangun oleh Sam. Siapa sangka seorang anak
kecil mengerti perasaan seseorang yang sudah dewasa. Mungkin Sam juga lebih
dewasa daripada aku, aku justru yang kekanak-kanakan. Makasih Sam, mungkin kamu
malaikat kecil yang diturunin Tuhan buat bikin aku terus barengan sama Igo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar