‘or maybei’m confused
when you’re near me’
Aku hanya
memandang hampa keluar jendela kereta. Banyak pohon memang, tapi skema tentang
pohon seolah blur, semua skema dalam otakku terasa blur. Yang aku pahami hanya
skema tentang Mada dan kejadian enam bulan yang lalu. Kejadian pahit yang
seolah menamparku keras agar aku tahu betapa sulitnya berjuang di dunia. Kenyataan
yang seolah membantuku untuk cepat kembali ke yang maha kuasa. Kenyataan yang
aku rasa adalah sebuah ilusi. Kejadian pahit yang berujung dengan kenyataan
pahit. Mau tidak mau aku harus menerimanya.
“Halo? Lan? Bulan depan sibuk enggak?” suara hangat yang
membuatku tersenyum setiap hari kembali terdengar setelah beberapa minggu absen
“seharusnya enggak. Kenapa kak?” aku bergegas mengambil
kalender karena tahu dia akan memberitahukan sesuatu berkaitan tentang tanggal
“wisuda gue akhir bulan depan. Lo harus dateng ya! Gue nggak
mau tahu gimana caranya, tapi lo harus dateng, ya?” tanyanya dengan nada riang
seperti biasanya
“semoga bisa ya kak, tau kan jadwalku disini lagi semacem
neraka gitu” kataku sambil melingkari tanggal dengan spidol merah, warna spidol
khusus untuknya di kalenderku
“Hahaha. Nggak mau tahu. Lo harus dateng. Eh udahan dulu ya,
gue sebentar lagi mau ngurusin toga dan lain-lainnya. Dah Bulan! Jangan lupa lo
harus dateng!” kemudian telepon ditutup. Sebulan terakhir aku memang tidak
mendengar kabar tentang apapun tentang Mada. Tapi aku percaya bahwa dia akan
baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja, sedangkan aku tidak akan baik-baik
saja.
Aku
memasuki aula yang sudah penuh dengan mahasiswa yang siap menghadapi kerasnya
kehidupan setelah acara ini selesai. Disitulah aku melihat mada sedang
tersenyum di depan kamera, membuatku mematung seketika. Bukan karena senyumnya,
ini lebih karena orang yang tersenyum di sampingnya.
“Bulan! Sini! Ikut foto!” aku baru saja mundur selangkah
ketika Mada sudah tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arahku
“Eh? Nggak kak, nanti aja. Kakak foto-foto dulu aja” tolakku
halus karena merasa mengganggu momen manis dengan perempuan disampingnya
“Udah, apaan sih nggak nggak segala” akhirnya Mada menarikku
pelan untuk mengambil foto selanjutnya. Aku hanya dapat tersenyum tipis karena
merasa canggung untuk berdiri di sebelah Mada beserta perempuan itu
“Oh iya Lan. Ini kenalin, Putri. Dia yang selalu bantuin gue
selama ini. Dan ini satu lagi” Mada merogoh tas kecil yang diletakkan di kursi
terdekatnya
Mada mengeluarkan undangan. Undangan yang tidak pernah aku
bayangkan sebelumnya. Undangan yang membuatku ingin langsung terbang pulang ke
Jakarta
“6 bulan lagi gue sama Putri nikah. Save the date! Kalo lo
nggak dateng, liatin aja” kata-katanya membuatku tercekat dan mau tidak mau aku
hanya tersenyum tipis sambil mengangguk
Aku harus kembali lagi kesini 6 bulan lagi? Aku hanya tidak
tahu bagaimana caranya aku kesini lagi setelah kejadian ini. Melihat wajah Mada
saja aku sudah tidak sanggup.
Dan disinilah
aku bersama otak bodohku. Berdiri di depan gedung pertemuan, mengedarkan
pandanganku ke seluruh ruangan. Entah apa yang sedang terjadi di otakku. Aku langsung
kembali ke kesadaranku karena handphone di tasku bergetar
“Lan? Kamu jadi kesini kan?” tanya Mada di seberang telepon
“aduh kak maaf, aku mendadak ada pertemuan sama dosen gitu
dan nggak bisa ditunda. Maaf kak” aku menjauh dari gedung pertemuan, takut Mada
tiba-tiba saja muncul keluar gedung
“Yah Bulan, kenapa nggak ngabarin dari semalem? Gue udah
nunggu-nunggu kedatengan lo tau” terdengar ada sedikit rasa kecewa dalam
suaranya
“Aduh maaf kak. Aku janji nanti kalo kakak ada acara lagi
entah itu housewarming party atau apapun, aku pasti dateng” aku berusaha
menahan bulir yang ingin tumpah dari mataku
“hmm. Oke Lan, gue pegang janji lo ya. Gue lagi siap-siap
nih. Nanti kalo adda waktu lagi gue telepon ya. Bye!” kemudian telepon pun
diputus.
Aku masih berdiri
jauh dairi gedung pertemuan, ragu apakah harus melangkah masuk atau tidak
karena sekarang tamu sudah mulai ramai berdatangan. Aku mengecek jam tanganku,
30 menit lagi acara resmi akan dimulai. Aku putuskan untuk melangkah masuk ke
dalam ruangan walaupun aku tahu ini sama saja dengan bunuh diri.
Aku memandang
Mada dari kejauhan. Memandangi wajah tersenyumnya yang tidak pernah berubah
dari sepuluh tahun yang lalu. Dadaku sesak, seolah-olah kenangan yang sudah aku
buat dengannya mendesak ke air mataku yang sebentar lagi tumpah. Kenyataan bahwa
kebahagian yang aku rasakan tidak sama dengan kebahagiaan yang dia rasakan
selama ini membuatku mual dan ingin menghilang. Aku merasa muak karena
kenyataan yang selama ini aku tidak akui ternyata benar, aku memang adiknya. Sekedar
adik yang harus dijaga, adik yang selalu ada dalam batasan yang dibuatnya, adik
yang dikhawatirkan karena kelakuan konyolnya, sebatas adik-kakak. Mungkin inilah
akhirnya, akhir yang lebih tragis daripada bayangan yang pernah aku buat. Mungkin
lebih baik menghilang seperti buih yang dilakukan oleh Ariel. Karena dengan
begitu dia akan bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar