‘lo gapernah jatuh
cinta ya? Cinta bikin lo keliatan idiot men!’
Tidak
pernah sekalipun dalam pikiranku terlintas untuk menyukai orang yang sudah
kuanggap kakakku sendiri. Tidak pernah sekalipun. Tapi siapa yang tahu tentang
perasaan? Aku rasa perasaanku sendiri inkonsisten. Sering berubah-ubah
membuatku sendiri bingung apa maksud dari perasaan yang aku rasa.
“Dek! WOY! Ngelamun mulu deh.. ayam tetangga bisa mati semua
gara-gara lo” aku melihatnya menggerutu sambil membetulkan letak kacamatanya
“apaan sih bang?! Tetangga gue gapunya ayam!” aku balik
menggerutu
“tetangga gue punya!” kami selalu saling berteriak ketika
berbicara tidak mau kalah. Aku melihatnya lagi, kali ini sedang menggulung
lengan kemejanya asal-asalan
“cari pacar makanya bang! Biar ada yang ngurusin lo” kataku
sambil mengambil alih gulungan kemeja yang asal-asalan tadi
“males gue, kan ada lo. Lo juga ngurusin gue” katanya sambil
memperhatikan gulungan yang aku buat
“beda bang. Beda antara pacar sama adek kayak gue” aku
menyatakan pembelaan. Sedetik kemudian aku menyesal telah mengeluarkan kalimat
tersebut, semoga tidak terdengar sarkatik olehnya. Tapi sejak kapan aku
memikirkan pendapatnya tentangku? Aku bahkan tidak pernah peduli jika dia
sering mendengarku mengeluarkan kata-kata kasar.
Aku
membuka mataku pelan dan mengerjapkannya berkali-kali. Di luar masih sangat
gelap dan udara masih terasa dingin menusuk kulitku. Aku meraih jam tangan yang
kulepas di samping meja tempat tidur, ternyata masih jam 5 pagi. Aku memang
tidak punya kelas hari ini dan tidak punya rencana untuk melakukan apapun, jadi
kuputuskan untuk terlelap kembali dalam tidurku. Satu jam.. dua jam.. aku tidak
bisa kembali ke alam mimpiku. Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka dan aku
memutuskan untuk diam karena mood ku memang sedang tidak jelas akibat abang.
Namanya Maro, tapi terbiasa kupanggil abang karena dia adalah seniorku
“ADEEEEEEK!!!! BANGUUUUN!!” tanpa aba-aba apapun Maro loncat
ke atas tempat tidurku dan memelukku bermaksud untuk mengganggu ‘tidurku’.
“AAAB!!!AAANG!!!” aku berusaha melepaskan diri karena
pelukan paksaan yang dia lakukan. Bukan karena sesak napas, ini lebih kepada
sesak di perasaanku.
“HAH?! Lo udah bangun? Wah.. lo pura-pura tidur biar gue
loncat ya?” dia melonggarkan pelukannya untuk mengecek wajahku
“WOY! Sadar apa siapa yang pikirannya liar tak terkendali
ngeliat gue masih diatas tempat tidur, kalo cowo-cowo kampus tau kelakuan lo,
mereka semua nggak akan mau kali sama gue!” aku menggerutu sambil memberikan
tatapan ‘diem aja, nggak usah jawab’ , tapi bukan Maro namanya jika gerutuanku
tidak dibalas
“emang itu rencananya! Kamu emang Cuma boleh buat abang aja!
Hahahaha” katanya sambil berdiri dan melangkah keluar kamarku tanpa merasa
bersalah sama sekali. Aku berusaha merapikan rambutku sambil merasa kesal
“heh, jangan lupa mandi! Gue mau ajak lo jalan, dasar jomblo
mageran!” katanya lagi dari ambang pintu. Tanpa pikir panjang aku meraih boneka
brown ku dan melemparnya sekuat tenaga. Jackpot! tepat mendarat di wajahnya membuat kacamatanya
jatuh ke lantai
“WAH ANJIR LO YA DEK! BENERAN MINTA DIKASIH PELUKAN MAUT!”
katanya sambil masuk ke kamarku lagi dan seperti biasa aku harus berlari ke
kamar mandi sebelum ditangkap, tapi sayangnya aku memang tidak pernah berhasil
kabur darinya
“IYAAAAA ABANG AMPUN AKU MINTA AMPUN ABANG PALING GANTENG
SEJAGAT RAYA” teriakku ketika jarinya sudah siap memberikan ‘pelukan maut’nya
“beneran? Beneran lo minta ampun?” tanyanya lagi sambil
melotot
“IYAAA! AMPUN!” aku memohon sambil menahan jari-jarinya yang
3 kali lebih besar dari jariku. Dan itu hanya jari, bukan kekuatannya.
Kekuatannya bisa berkali-kali lipat dari pertahananku
“yaudah. Sana mandi buruan” katanya sambil melepaskan
pelukannya dan melempar handuk ke wajahku
“nggak deng. Jelek banget lo bang, najis” kataku sambil lari
ke dalam kamar mandi, meninggalkan dia yang mungkin menungguku untuk
melaksanakan eksekusi pelukan mautnya
Aku celingukan di pintu kamar mandi, masih takut atas
pelukan mautnya. Aku mengambil ripped jeans paling nyamanku dipadukan dengan
kemeja flannel kotak-kotak dan mengambil kacamata dengan frame hitam karena
flanelku bergaris hitam. Aku memasukkan paksa dompet, alat make up dan
lain-lainnya ke dalam tas kulitku. Dan bergegas turun untuk berangkat walaupun
aku tidak tahu apa-apa soal kemana dan akan melakukan apa.
Mataku
langsung membelalak hebat ketika menyadari bahwa kami sudah di depan pintu
masuk ancol. Aku hanya memberikan tatapan minta kejelasan pada Maro
“kenapa sih dek? Liat-liat abang mulu. Abang tau abang
ganteng” katanya sambil tersenyum tanpa dosa
“bukan itu, ini kita ngapain coba disini?” tanyaku
kebingungan
“ke seaworld” jawabnya pendek sambil mengeluarkan uang untuk
tiket masuk mobil
“hah? Kamu sehat bang?” tanyaku sambil memegang keningnya
“Sehat dek!” katanya sambil mendorong tanganku dari
keningnya
“Ya abis abang! Sakit ga sakit, keliatan sakit” kataku
sambil memperhatikan gedung seaworld yang semakin dekat
“udah dek dandan cantiknya? Lo dandan gak dandan sama aja
buluk dah percuma” katanya sambil mengecek wajahku
“diem aja bang, diem” kataku sambil menjambak rambutnya yang
kemudian langsung dilepas karena memang tenaganya lebih besar dariku
Untuk beberapa saat setelah aku masuk ke dalam seaworld, aku
hanya memperhatikan sekelilingku, bukan abang yang berjalan di belakangku. Kemudian
aku menoleh ke belakang untuk melihat apa yang dia lakukan
“seneng gak dek?” tanyanya tiba-tiba setelah aku menoleh,
tatapannya berbeda dari biasanya
“hah? Seneng? Kenapa harus seneng ya bang? Sedangkan gue
sendiri bingung kenapa kita kesini haha” aku tertawa sambil memasuki eskalator
dibawah akuarium raksasa
“kamu beneran lupa dek?” Maro berdiri tepat di belakangku,
membuat otot punggungku menegang
“ini ada di salah satu time capsule loh. Kamu yang tulis,
abang iyain idenya. Mau abang baca ulang time capsulenya?” seketika tubuhku
membeku mengingat time capsule yang aku kubur bersamanya dan berjanji akan
membukanya dalam waktu lima tahun. Dan ya hari ini tepat lima tahun setelah aku
mengubur time capsule tersebut
“tadi pagi, abang tunggu kamu di taman belakang rumah itu. Abang
pikir kamu udah di bawah dari pagi berhubung kamu yang paling ingetan tapi
ternyata kamu masih ngebo di kamar” Maro melanjutkan kalimatnya dan entah
mengapa aku merasa eskalator ini tiba-tiba saja berjalan sangat pelan
“ya, ternyata kamu nggak inget. Wajar sih berhubung
akhir-akhir ini kamu begadang dan ngerjain tugas terus. Jadi kamu masih inget
isinya gak, dek?” tanya Maro lagi masih dengan intonasi rendahnya tepat di
telingaku. Sejujurnya ya aku tahu isinya, tapi aku terlalu merasa malu untuk membalikkan
badanku, seluruh badanku terasa kaku
“kalo kamu nggak bersuara, abang bacain ulang isi time
capsulnya..” katanya menggantung, membuat tubuhku refleks menghadap ke arahnya
“jadi gimana dek?” tanyanya sambil tersenyum
“harus banget ya bang? Itu kan waktu adek masih kecil..
maklumin lah.. abang kan tau adek suka banget ngelantur” kataku pasrah setengah
memohon untuk dibatalkan saja isi time capsulenya
“harus, berhubung kita berdua yang kubur dan tulis itu.
Jadi, yaudah harus dilakuin hahaha. Lo inget kan kalo cinta bikin orang
keliatan idiot? Dan kita udah idiot dari dulu… Jangan bilang lo ga ngerti juga
maksud dari kalimat gue. Kalo memang nggak ngerti.. mending lo banyak makan
ikan deh dek, biar pinter” kemudian dia merangkul pundakku sambil menggeretku
keluar dari seaworld
Memang
isi time capsule tersebut bukan sesuatu yang spesial dan mengagetkan karena
memang ternyata rasa itu pernah hidup beberapa tahun yang lalu. Mungkin
beberapa tahun terakhir, perasaan itu aku tekan hingga masuk ke alam bawah
sadar dan membuatku terbiasa dengan perasaan tersebut. Dan mungkin untuk
sekarang sumber stimulusku tersebut sudah mengijinkan perasaan itu untuk timbul
dan hidup kembali kemudian mati. Mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar