“menurut
lo, gue itu gimana sih?” Riana menatapku lekat. Oh please, jangan balik ke
topik ini lagi.. kita udah ngebahas ini sekitar lebih dari seribu kali
“Ri, just please. Can we change the topic? Kita udah
ngebahas ini berapa kali? Sebenernya apa sih yang terjadi sama lo?” aku balik
menatapnya tajam
“nothing..” Riana yang biasa kupanggil Riri ini sudah
menghela napasnya sekitar 10 kali dalam percakapan 5 menit terakhir
“there must be something.. kenapa sih lo gamau cerita?”
“ya, lo tau kan perasaan yang lo sendiri ga ngerti gimana
jelasinnya, perasaan itu yang lagi gue rasain sekarang” jawabnya sambil menatap
ujung sepatu converse merah terangnya
“apaan nih? Masalah Rangga ya?” tebak ku sambil tetap
memperhatikan gerak gerik Riri
“Na..”
“apa? Gue bener kan?”
“gue gatau ah, bodo amat!”
“ya.. terserah lo sih”jawabku pasrah, sudah berapa kali
masalah ini dibahas dan kembali lagi ke sikapnya yang acuh tak acuh itu.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan tebakanku benar kan, ini masalah Riri dan
Rangga. Dari wajah Rangga yang super kusut itu aku bisa menebaknya, Walaupun
memang setiap hari wajah Rangga terlihat seperti itu...
Ri, Ngga, kadang ada hal-hal yang nggak semudah itu kita
bisa ngerti, kita Cuma perlu tau aja...
Pagi
ini wajah Riri lebih terlihat kusut dari sebelumnya, terlihat sangat kusut.
Begitu pula dengan Rangga yang sekilas aku lihat sedang melangkahkan kakinya ke
kelas sebelah
“ISSSHHHH” Riri meletakkan ranselnya dengan kasar ke atas
kursi. Aku agak menjauhkan diriku dari kursinya
“kenapa sih lo?” alih-alih bertanya baik-baik, aku malah
serbawa sewot karena sikapnya
“gue gatau ah, gatau”
“iya gatau apaan sih? Cerita dulu baru ngomel.. gue kan ga
ngerti apa-apa Ri” jawabku sambil membetulkan letak dasi. Riri langsung
menghempaskan tubuhnya di atas kursi kayu sekolah dan memulai ceritanya
“gue ga ngerti. Gue salah apaan ya Na.. emangnya gue
terlihat bossy?”
“hmm.. nggak dimata gue..” jawabku seadanya
“kemarin gue tanya sama temennya Rangga.. dan benerkan
akhirnya gue tau semuanya dari temennya. Rangga gamau gue bossy, ngatur, jadi
gendut, jadi jelek dan..”
“stop” aku menghentikan kata-kata Riri “gue kasih tau ya
sama lo, dulu waktu dia nembak lo, apa yang dia liat dari lo? Fisik lo? Atau lo
sebagai Riana Widiani?”
“ya iya sih.. tapi katanya gitu dia maunya gue ga bossy”
“gue bossy. Setiap saat. Tapi liat Ega, dia gapernah ngeluh
kalo gue bossy gitu. Dia biasa aja, dia nerima gue sebagai Kirana, bukan
sebagai gue yang baik dan lain-lainnya”
“tapi itu Ega..”
“kenapa? Harusnya kalo Ega gitu bukannya Rangga juga bisa
bersikap baik sama lo?. Lo kan orang baik, kenapa harus diperlakuin kaya gitu?.
Ri, orang baik itu pasti dapet yang baik juga”
“tapi bukannya hidup saling melengkapi? Yang pinter sama
yang bodoh, yang gendut sama yang kurus, yang jelek sama yang cantik...”
“iya itu sih gue masih setuju, tapi coba lo bayangin kalo
orang baik dapet orang jahat.. mereka sama-sama nggak seharusnya ngedapetin
itu. coba kalo baik dipasangin jahat.. yang baik bakalan disakitin dan yang
jahat makin makin aja, mereka harus dapet apa yang mereka berikan. Lo ngerti
kan?”
“iya.. teori lo bisa bener juga sih...”
“lo itu ya... jujur deh, menurut gue lo itu berubah...”
“iya memang gue banyak berubah” katanya sambil membuka
tempat pensilnya
“Riana yang gue tau sih, ga pernah nangis... apalagi
gara-gara masalah percintaan..”
“hah? Kapan gue nangis?”
“hari rabu kemarin apa itu? Nangis kan lo?”
“oh iya yah hehehe” jawabnya sambil menyeringai
“udah deh lo mending dengerin gue aja, jangan membuat
keputusan pas lo lagi kaya gini. Pikiran lo tuh udah tercemar, udah ga jernih.
Akibatnya apa coba? Semua yang lo liat itu kayaknya salah, ga sesuai dengan
yang lo mau. Semua keliatan nyebelin, mending jalanin aja. Komunikasi dan
keterbukaan lo sama Rangga itu bermasalah, sangat bermasalah. Kalian pacaran..
tapi kaya engga gitu deh...”
“dia tuh kalo gue tanya kenapa.. pasti bilangnya ga
kenapa-kenapa gitu” katanya sambil mengetukkan ujung pensilnya keatas meja. Aku
menghela napas perlahan, sangat perlahan
“ya lo minta dia untuk cerita lah, kalian ini pasangan.
Seharusnya ga begini”
“gue paksa dia?”
“gausah dipaksa, tapi kalian ini pacaran.. seharusnya
sama-sama ngerti apa yang lagi terjadi. Jangan malah satu pihak kebingungan
sendiri gini”
“hmm gue coba.. thanks ya Na”
“hmm anytime Ri”
Kalo tinggal ngomong aja, rasanya gampang banget ya. Tinggal
kasih saran, orang lain yang jalanin. Tapi coba kalo aku yang melakukannya. Aku
pikirkan itu sampai sejuta kali.
Aku
sedang menempel bahan-bahan mading yang super imut dimataku. Mading dengan
dasar kertas pink dan hiasan-hiasan berbau cinta. Ya, aku suka tapi... ini
terlalu imut, bukan seperti aku saja.
Rangga duduk di samping mading yang aku tempel, tak bergeming. Dia menatap lurus ke arah tanaman didepannya, entah apa yang dia perhatikan. Riri pergi membeli konsumsi karena ini sudah hampir jam 12.
Rangga duduk di samping mading yang aku tempel, tak bergeming. Dia menatap lurus ke arah tanaman didepannya, entah apa yang dia perhatikan. Riri pergi membeli konsumsi karena ini sudah hampir jam 12.
“Ngga...”
“hm?” jawabnya tanpa mengganti ekspresi sedikit pun. Aku
hanya melihatnya dari ujung mataku
“lo kenapa sih sama Riri?” tanyaku lepas
“nggak tau” jawaban pendek dan kurang jelas, membuatku
tambah ingin mencecarnya
“kalian diem-dieman terus. Gue nggak begitu ngerti” kataku
akhirnya sambil melepas kertas persegi panjang hijau dan kemudian menggaruk
kepalaku yang tidak gatal
“gue juga. Mungkin gue bakalan end sama dia setelah mading
ini selesai”
“hm? Maksud lo?” belum Rangga mengeluarkan satu huruf pun,
Riri sudah muncul dari pintu lobi sambil menenteng kantung plastik putih. Aku
dan Rangga hanya menatapnya kemudian berlaku seperti tidak ada apapun yang
terjadi.
“makan dulu nih, entar lo sakit gue bisa dimarahin Ega”
katanya sambil menyodorkan satu box makanan padaku
“iye bawel” kataku sambil mengambil kotak itu dan
menyingkirkan mading untuk sementara.
Aku memperhatikan keduanya. Hening. Berbicara juga
paling-paling hanya “iya”, “enggak”,”enggak tau”. Aku benar-benar tidak
mengerti...
Aku
memakai jam tangan putih dengan paduan merah di pergelangan tangan kiriku.
Sekilas aku menatap kalender meja biruku. Ada lingkaran merah di tanggal 26.
Tanggal anniversary Rangga dan Riri. Mereka anniv hari ini.
“cieeeeeeee yang anniv hari ini! Langgeng ya kalian” Emy
dari kursi belakang berteriak tepat di samping telinga Riri
“iya, makasih ya” jawab Riri dengan senyum tipisnya
“lo kan anniv Ri, bukan lagi berkabung. Kenapa muka lo malah
keliatan kusut?” tanyaku sambil menatapnya
“gue nggak tau bisa bertahan sampe kapan”
“kalo ngomong gaboleh gitu. Gue tau lo capek, tapi selama
itu bisa dipertahanin kenapa enggak?”
“gue sih bisa bisa aja, tapi kalo misalnya soal pihak ketiga
gimana?”
Aku bergeming. Tidak berkata. Inilah hal yang membuatku
tambah tidak mengerti. Ada apalagi dengan pihak ketiga? Rasanya kepalaku bisa
meledak sekarang
“jadi menurut lo dia itu orang ga baik gitu?”
“gue ga pernah bilang dia orang ga baik-baik. Apa lo pikir
gue orang yang bakalan ngomongin orang lain kaya gitu?” aku mendengar suara
Riri yang semakin meninggi
“tapi gue tau dari orang kalo lo pikir dia orangnya kaya
gitu”
“jadi lo percaya kan kalo gue kaya gitu? Gue gapernah
ngomong sekotor itu. Sebenci-bencinya gue sama orang, gue gapernah kaya gitu!”
suara Riri membuatku emosi ku semakin naik. Dia berbicara dengan siapa? Siapa
yang berani bilang Riri seperti itu?
Aku mendorong gagang pintu sepuluh tiga, mereka berdiri
tepat di depan mataku. Napas ku naik turun, rasanya aku bisa melempar orang
tersebut dengan kursi terdekat yang ada disekitar ku. Orang itu menatapku
kaget, dan aku balas dengan tatapan marahku. Aku tidak pernah semarah ini sebelumnya.
“LO! KALO LO NGOMONG YANG ANEH-ANEH TENTANG RIRI LAGI,
URUSAN LO SAMA GUE” aku menarik Riri keluar kelas. Syukurlah ada Siska yang
berdiri tepat di depan kelasku.
“Ri, lo kenapa? Na? Lo juga kenapa?” Riri berdiri disebelah
Siska dan aku hanya melangkah masuk ke kelas tanpa berbicara sepatah kat pun.
Aku duduk cukup lama, sekitar setengah jam tanpa bergerak
satu sentimeterpun. Aku menatap jam kelasku yang menunjukan pukul 4 sore. Aku
memasukan semua barang-barangku ke dalam ransel. Aku menyadari perasaan sakit
hati yang dirasakan Riri. Aku membanting barang-barangku ke lantai dengan
keras, membuat salah satu bolpoinku
terlempar dan hancur
“Na...” Ega memegang pundakku dan aku hanya menatapnya
kosong
“kamu kenapa sih? Jangan marah-marah gini” katanya lagi
sambil mempererat kedua pegangannya pada pundakku
“aku gapernah liat Riri semarah itu. Aku gapernah liat dia sesedih itu. Selama aku
kenal dia, dia gapernah gitu. Aku benci Rangga dan semua orang-orang disekitar
Rangga. Mereka nggak ngerti! Mereka NGGAK NGERTI RIRI! NGGAK NGERTI!!!!!”
teriakanku semakin histeris
“Nana!” Ega memegang kedua sisi tubuhku dengan erat
“aku tau kamu segimana pedulinya sama Riri, tapi kamu jangan
sampe kaya gini. Kamu histeris sampe kaya gini, kamu harusnya lebih tenang.
Riri itu butuh teman yang lebih tenang. Dan Nana itu ga kaya gini” Ega
menatapku lebut sambil mengusap kepalaku pelan
“kamu capek kan? Kita pulang ya?” katanya sambil membereskan
barang-barangku yang sudah tercecer entah kemana.
Aku
membuka mataku perlahan. Led merah blackberryku sudah berkedip terus-terusan
membuatku penasaran jam berapakah sekarang ini
‘gue putus sama Rangga’ *5 minutes ago*
‘kenapa? Kenapa bisa?’
‘gue udah bilang ada pihak ketiga’
‘tapi kan..’
‘nanti gue ceritain deh’
‘ya kalo menurut lo baiknya gitu, ya gue bisa apa. Gue
setuju apa yang lo lakuin. Kan lo yang jalanin juga. Sabar ya, gue udah pernah
bilang kan. Orang baik akan ketemu yang baik. Gue percaya kalo lo itu orang
baik’
‘makasih ya Na, lo tuh emang deh.. yang terus ada pas gue
dalam keadaan apapun. Paling paling deh pokoknyaaaa hahaha’
‘sama-sama Ri, gue kan temen lo. Masa sih gue nggak bantuin
lo’
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar